Kue Adrem yang Melegenda

341
Pembuat kue tradisional adrem, Ny  Ch Mardinem (kedua kiri) asal Dusun Ngunan-Ngunan-Unan Desa Srigading Sanden dengan produk olahannya. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Kecamatan Sanden memiliki banyak potensi kuliner serta Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu kuliner khas yang melegenda karena sudah ratusan tahun ada adalah adrem.

Pembuat kue tradisional yang rasanya sama dengan cucur ini bisa dihitung dengan jari, salah satunya Ny Ch Mardinem (63), warga Dusun Ngunan-Unan RT 24. Dia menjadi pembuat kue adrem sejak 1973 dan diberi merek Marginingsih.

“Kemampuan membuat adrem ini saya dapatkan secara turun temurun. Orang tua saya dan simbah juga pembuat adrem. Jadi sejak kecil saya sudah bisa dan tahu cara membuatnya,” kata Ny Mardinem kepada koranbernas di tempat usahanya.

Bahkan saat itu ketika tidak melanjutkan sekolah di jenjang SMP, Ny Mardinem memilih membuat kue yang bahan bakunya campuran antara tepung beras, parutan kelapa, gula Jawa dan vanili.

Kala itu adrem menjadi makanan yang sangat ngehits sehingga dalam sehari dirinya dan keluarga mampu menghabiskan 20 kilogram tepung beras. Setiap satu kilogram tepung bisa dibuat adrem 50-60 biji.

Rutinitas membuat adrem sempat berhenti ketika tahun 1979 dia menikah dengan Ngadenan. Pasangan suami-istri baru ini memilih menjadi pedagang hasil bumi, tidak hanya di Bantul bahkan ke luar DIY.

Barulah pada 2005 ketika salah seorang buah hatinya meninggal dunia karena sakit, pasangan ini kemudian memutuskan berada di rumah.

Perniagaan hasil bumi seperti beras maupun bawang merah mereka tinggalkan dan kembali menekuni adrem. “Saya waktu itu bersama suami berpikir usia juga sudah tidak muda lagi, dan sudahlah cukup kami selama ini berjualan ke mana-mana. Kami ingin istirahat dan bisa bekerja di rumah saja. Maka kemampuan membuat adrem yang lama kami tinggalkan, kami tekuni lagi,” katanya.

Baca Juga :  Tidak Ada Hujan, Air dari Gorong-gorong Meluap

Dia membuat adrem bersama suami dan anaknya, Astri. Dalam sehari dia habiskan bahan baku 3 kilogram beras. Hasil produksinya dititipkan ke warung-warung, dijual di Pantai Baru, Car Free Day setiap Minggu serta di Pasar Tani Dinas Pertanian Bantul.

Satu biji adrem dijual Rp 1.000. Dia juga membuat cucur serta peyek. “Saya juga melayani pesanan pembuatan adrem untuk keperluan hajatan, hantaran, pengajian dan acara lainnya,” katanya.

Hanya saja kemampuan membuat adrem ini memang tidak mudah ditularkan. Ada keterampilan tersendiri yang sulit dikerjakan oleh orang lain yaitu cara membuat adonan yang pas serta cara menggoreng menggunakan tiga sumpit. Keduanya bukan perkara mudah.

Hal itu diakui oleh Supinah salah seorang anggota KWT “Mugi Rahayu”. “Saya belajar tidak bisa-bisa, terutama soal komposisi bahan dan cara menggorengnya menggunakan tiga sumpit. Sering belajar mlenyok-mlenyik,” katanya tertawa.

Kuliner bebek yang banyak ditemui di wilayah Sanden dan disukai pelanggan. (istimewa)

Kuliner bebek

Bicara kuliner Sanden, bukan hanya adrem yang melegenda namun kuliner bebek juga sangat terkenal. Lihatlah ada bebek goreng Umar Plenteng dan Bebek Widodo yang begitu termasyur di wilayah itu. Setiap hari orang berdatangan dari jauh demi menikmati lezatnya kuliner bebek tersebut.

Baca Juga :  Panas Kota Mekkah Tak Surutkan Semangat Jamaah

Purwanto salah seorang pengunjung asal Bambanglipuro kepada koranbernas saat menikmati kuliner di “Umar Plenteng’ mengakui rasanya lezat, empuk dan nikmat.

“Apalagi sambelnya ini nendang banget. Pas buat di lidah. Sambal mateng dan mentah juga,” kata Purwanto yang sudah berkali-kali datang dan tidak ada rasa bosan.

Dia juga sering membeli bebek “Widowo” yang lezat, ditambah dengan lalapan dan nasi hangat. Sangat cocok di lidah.

Pembuatan kerajinan pot dan kursi dari pecahan keramik milik Indartono, Kepala Dukuh Ngunan-Unan Desa Srigading Sanden. (sari wijaya/koranbernas.id)

Selain kuliner, di Sanden juga berkembang beragam UMKM. Salah satunya industri pembuatan pot dan meja kursi taman berbahan pecahan keramik milik Indartono (42), Kepala Dukuh Ngunan-Unan Desa Srigading.

“Usaha ini mencapai puncak saat booming tanaman hias. Saya mempekerjakan kala itu 13 orang karyawan,” katanya.

Mereka yang bekerja di tempat tersebut banyak yang menjadikannya batu loncatan sebelum akhirnya beralih pekerjaan lain. Usaha tersebut sejak tiga tahun lalu berkembang ke arah pembuatan meja dan kursi tamu berbahan pecahan keramik.

“Keramik sisa orang membangun rumah itu kami kumpulkan. Saya potong kemudian saya tempelkan ke adonan semen serta pasir yang berbentuk meja ini. Proses hingga pengeringan sekitar tiga hari,” jelasnya.

Satu set meja dan empat kursi kecil seharga Rp 550.000, sedangkan mejanya saja Rp 350.000 untuk ukuran 1 meter X 40 sentimeter dan Rp 450.000 untuk ukuran 1,5 meter X 40 sentimeter. “Penjualan ke berbagai wilayah,” katanya. (sol)