Kurikulum Pariwisata Bukanlah Warisan Nenek Moyang

476
Sekitar 1.523 mahasiswa baru STIRAM mengikuti upacara program D3 dan S1 STIPRAM di kampus setempat, Rabu (2/08/2017).

KORANBERNAS.ID — Kurikulum pariwisata yang diterapkan di perguruan tinggi (PT) di Indonesia pada saat ini bukanlah warisan dari nenek moyang. Karenanya tidak bisa diterapkan terus menerus tanpa ada pengembangan.

“Kurikulum pariwisata itu harus berkembang karena bukan warisan. Jadi kurikulum yang dulu diberikan pada nenek tidak bisa lagi diterapkan saat ini,” ungkap Ketua Sekolah Tinggi Ambarrukmo (STIPRAM) Yogyakarya, Suhendroyono disela upacara penerimaan 1.523 mahasiswa baru program Diploma 3 (D3) dan Sarjana (S1) STIPRAM di kampus setempat, Rabu (2/08/2017).

Tanpa adanya perbaruan kurikulum, menurut Suhendroyono maka pengembangan pariwisata sulit dilakukan secara optimal karena Sumber Daya Manusia (SDM) yang tak kompeten sesuai perkembangan jaman. Akibatnya angka kunjungan wisatadi negara ini pun tidak bisa maksimal.

Baca Juga :  KB-TK Budya Wacana Didik Generasi Pemenang

Berbeda dengan sejumlah negara yang angka kunjungan wisatawannya sangat tinggi. Sebut saja Barcelona, Spanyol yang angka kunjungan wisatanya mencapai 30 juta lebih per tahun dengan jumlah penduduk hanya 1,3 juta orang.

“Karenanya perlu sinergi dari semua pihak sepertu perguruan tinggi, industri dan para pejabat untuk membangun pariwisata,” tandasnya.

Di tingkat PT, selain pengembangan SDM tenaga pengajar, lanjut pengurus Himpunan Lembaga Pendidikan Pariwisata Indonesia (hildiktipari) tersebut, kampus juga perlu meningkatkan kualitas hasil penelitian dan jurnal yang dibuat dosen atau penelitinya hingga ke level internasional.

“Karena itu kami mengundang pakar di bidang penulisan jurnal internasional untuk berbagi ilmu bagi para dosen agar terindeks internasional,” ungkapnya.

Baca Juga :  Orang Industri Harus Ada yang Jadi Dosen

Sementara Wakil Ketua STIPRAM, Damiasih menjelaskan, STIPRAM terus berbenah diri mengembangkan kualitas PT. Dengan bertambahnya jumlah mahasiswa tiap tahunnya, kampus itu menambah jumlah dosen tetap agar rasio dosen dan mahasiswa sesuai yang ditetapkan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (kemenristekdikti).

“Saat ini kami membutuhkan lebih dari tiga puluh dosen tetap. Ada sekitar tambahan dari dosen tidak tetap yang mengajar di kampus,” jelasnya.(yve)