“Kursi Roda Itu tidak Beragama”

341

KORANBERNAS.ID – “Kursi roda itu tidak beragama. Siapa pun  itu, apa pun agamanya kalau sudah bicara mengenai kemanusiaan, maka harus kita bantu sesuai dengan kemampuan  kita,” demikian penggalan kalimat Bhabinkamtibmas Desa Argosari, Kec. Sedayu Bripka Murijan, mengawali acara  penyerahan bantuan kursi roda bagi penderita polio dan cacat kaki, Magdalena Supiyah (63) warga Dusun Ngengas RT 51, Gubug bertepatan dengan pertemuan warga RT setempat, Jumat (1/9/2017) malam.

Kursi roda bantuan dari Yayasan Ganjuran diserahkan anggota DPRD Bantul Timbul Harjono didampingi Camat Sedayu Drs. Fauzan Mu’arifin, Kapolsek Kompol Sugiyarto Amd, Panit 1 Bhinmas Iptu Agus Supraja SH  serta puluhan warga setempat yang dipimpin Ketua RT 51, Atti.

Sebagai Bhabin, lanjut Bripka Murijan, dirinya  memang selalu mendampingi warga di wilayahnya. Selanjutnya polisi yang sudah bertugas selama 15 tahun sebagai Bhabin itu akan mendata berbagai persoalan yang muncul, untuk dicarikan solusi bersama. Termasuk menggandeng pihak-pihak lain agar bisa saling berbagi dalam kebaikan. Juga mengupayakan bantuan alat bantu bagi warga yang menderita kecacatan atau difabel.

“Saya juga menghimpun dermawan dari Desa Argosari untuk bersama-sama membantu dan malam hari ini diwujudkan dalam bentuk bantuan sembako bagi tiga warga yang kurang beruntung. Jadi ini dari warga Argosari untuk warga Argosari juga,” katanya. Dirinya bertekad akan terus menebarkan virus kebaikan itu, sehingga semakin banyak orang berderma dan semakin banyak orang yang menerima manfaat.

Baca Juga :  Siapa Juara Masak Nasi Goreng Dusun Krakitan, Bantul?

Sementara Timbul mengatakan, setelah mendengar informasi dari Bhabin jika ada warga yang membutuhkan kursi roda setelah tiga tahun tidak bisa berjalan dan beribadah ke gereja, dirinya langsung terketuk hatinya dan menghubungi pihak yayasan Ganjuran.

“Seperti tadi dikatakan, bahwa kursi roda itu tidak beragama., Jadi siapa pun yang membutuhkan kita bantu, dan semoga ini memberi manfaat bagi penerima untuk bisa meningkatkan ibadahnya dan mampu ke gereja lagi. Serta  mempermudah aktifitas yang lain,” kata Timbul.

Pun demikian dikatakan oleh Fauzan yang mantargetkan 2018 semua warga yang membutuhkan alat bantu akan diberikan semua.

“Data by name sudah ada dan kita akan lakukan gerakan MPC yakni Mbuh Piye Carane. Dengan demikian semua warga Sedayu yang membutuhkan alat bantu bisa tertolong dengan cara kita himpun kekuatan dari berbagai pihak,” tanda Fauzan.

Baca Juga :  Siswa SMPN 3 Bantul Nyoblos di Pemilos

Ungkapan senada dikatakan Kapolsek yang menyatakan siap untuk mendukung segala kebijakan yang bermuara pada kepentingan masyarakat. “Tentunya kalau masyarakat bergerak, kita akan mendukungnya,” kata Kapolsek.

Sementara Magdalena Supiyah sendiri mengaku senang dengan bantuan yang diterima. “Matur nuwun sanget nggih. Matur nuwun,” katanya sembari menyalami semua Muspika dengan berkaca kaca di atas kursi rodanya yang baru.

Ia bercerita, dirinya dan suami Suseno (72) adalah pasangan difabel yang hidup hanya berdua hingga masa senjanya. Menikah di tahun 1994, pasangan tersebut hingga saat ini belum dikaruniai keturunan. Praktis hari-harinya hanya dihabiskan berdua di  rumah mereka yang  sederhana bahkan nyaris roboh  pada  bagian dapurnya.

Sang suami menderita kebutaan sejak lima tahun silam, sedangkan  dirinya cacat kaki  akibat serangan polio dari lahir. Karena keduanya menderita cacat atau difabel, maka sehari-hari mereka hanya  mengandalkan bantuan bagi keperluan hidupnya. Seperti bantuan beras dari pihak gereja setiap bulan 10 kilogram dan juga keperluan lain dari tetangga kanan dan kiri. (iry)