“Kursiku Mau Nganti Ngetril Lho”

254
Siswa SLB Giripeni Kulonprogo mengikuti lomba balap kursi roda memeriahkan HUT ke-72 RI, Rabu (16/08/2017). (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Wajah-wajah tegang tampak sebelum bendera penanda aba-aba start dikibaskan. Namun begitu komando start diteriakkan melalui megafon, ketegangan berubah menjadi gelak tawa. Para siswa dan siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) Giripeni Kulonprogo ini meluapkan kegembiraan tatkala  mengikuti lomba merayakan HUT ke-72 Kemerdekaan RI di sekolah mereka.

Meski kadang-kadang terjatuh namun mereka kemudian bangkit lagi dan berjuang meraih juara. Pekik sorak kegembiraan terdengar dari siswa serta guru-guru mereka, bahkan keluarga mereka yang menyaksikan lomba tersebut.

Rifandia Lukas, siswa SLB Bhakti Wiyata Giripeni menyatakan, dirinya selalu ikut lomba dan pada Rabu (16/08/2017) dia ikut lomba balap karung. Kebetulan dia keluar sebagai juara III.

“Tahun lalu juga ikut lomba seperti ini. Tadi Alhamdulillah juara III. Lomba memukul plastik air digantung dengan mata tertutup nyaris menang saya, tapi saya jalannya malah mundur ke belakang,” tuturnya polos dengan wajah ceria.

Lomba barap karung ini sangat meriah. Sama dengan balap kursi roda. “Kursiku mau nganti njumping lho, nganti ngetril, tenan! Tetapi   tadi sampai ujung susah putar baliknya, malah hampir ngguling,” ujar Bashori, siswa peserta lomba balap kursi roda.

Baca Juga :  Ingin Lihat Ibu Pengabdi Setan ? Ke Margamukti Saja

Bashori dan kawan-kawannya  mengikuti banyak ragam lomba di sekolahnya. Seperti makan kerupuk, melepas koin dari buah semangka, hingga memecah air yang digantung di teras kelas.

Mengikuti lomba dengan penuh kegembiraan adalah merupakan salah satu wujud menikmati kemerdekaan. Merdeka tertawa dan terus berlomba.

Lomba melepas koin dari buah semangka tak kalah meriahnya. Olesan kecap di buah semangka membuat wajah peserta lomba penuh cemong. Hal itu menjadikan tawa riuh dari kawan-kawan mereka yang menonton.    Namun demikian ada juga anak berkebutuhan khusus (ABK) di sekolah itu yang takut melihat wajah kawannya berlepotan warna cokelat hitam.

Anak yang takut itu segera mendapat respons dari guru-guru mereka selanjutnya dicoba diberikan pemahaman.

Interaksi antara guru dan siswa pun terjalin sangat indah. Berbeda dengan sekolah umum, di mana hanya siswa yang hafal nama-nama gurunya. Namun guru SLB justru lebih hafal nama dan perilaku satu per satu anak didiknya. Saat lomba, siswa dibantu oleh guru pun tidak ada yang protes. Mereka menerima keadaan apa adanya. Sekali lagi, tidak protes.

Meski demikian dalam permainan tetap ada aturan mainnya. Ini melatih mereka memahami adanya aturan dan kehidupan.

Baca Juga :  Catat, Retribusi Pelayanan Pasar Naik

Kepala SLB Bhakti Wiyata Giripeni, Nasocha SD, menjelaskan sekolahnya dihuni 68 ABK mulai dari jenjang TK hingga SMA. Mereka tidak hanya dari Kulonprogo, tetapi sebagian berasal dari luar daerah. Lomba-lomba dalam istilah umum Agustus-an atau 17-an ini rutin dilakukan sekolahnya.

Ya dalam rangka menyambut HUT ke-72 RI, kita ingin berpartisipasi, bersyukur dan merasa memiliki kemerdekaan ini. Kami coba sebisanya memeriahkan dengan lomba-lomba seperti pada umumnya, kami gelar selama dua hari ini,” jelasnya.

Nasocha menyatakan, setiap  peringatan HUT RI, sekolah selalu mengadakan  lomba-lomba. Ini menjadi bentuk rasa syukur atas kemerdekaan yang telah dicapai.

“Bisa ikut lomba, yang jelas tidak hanya bersenang-senang, mereka juga perlu tahu bagaimana cara merawat, menjaga dan mempertahankan kemerdekaan ini untuk masa depan,” lanjutnya.

Nasocha menuturkan, siswa  SLB Bhakti Wiyata Giripeni selalu mengirimkan wakil ke setiap ajang lomba, baik tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional. Tidak jarang siswanya merebut kejuaraan.

Perayaan HUT ke-72 Kemerdekaan RI juga digelar di Bandungan berupa pawai dan karnaval se-Kecamatan. Sedangkan karnaval tingkat kabupaten berlangsung 26 Agustus di Alun-alun Wates. (wid)