Laboratorium Hayati Siap Mengganti Pestisida

246
Laboratorium Mini Starter MA-11 diresmikan di Dusun Klumutan, Kulonprogo, Senin (14/08/2017). (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Pestisida semakin dihindari dalam kegiatan pertanian, karena ada dampak sampingannya. Untuk menggantikannya dilapangan dibutuhkan adanya predator yang harus dikembang. Di Sentolo Kulonprogo dilakukan pengembangan tersebut. Diawali dengan pembangunan Laboratorium Mini Starter MA-11. Pembangunannya disponsori oleh BI Cabang Yogyakarta

Kelompok Tani Sido Makmur, Dusun Klumutan Desa Srikayangan Kecamatan Sentolo Kulonprogo, memiliki Laboratorium Mini Starter MA-11, bantuan dari Bank Indonesia (BI) DIY tersebut.

Laboratorium ini menjadi tempat pembuatan agen hayati, sebagai pengganti pestisida kimia yang berfungsi untuk mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman. Selain membuat hasil panen lebih sehat saat dikonsumsi manusia, agen hayati juga diyakini mampu memperbaiki kualitas hasil panen, sehingga akan mendatangkan keuntungan bagi para petani.

Pemberian bantuan laboratorium menyasar para petani bawang merah dengan alasan komoditi ini kerap mempengaruhi infasi. Kulonprogo menargetkan adanya penambahan lahan bawang merah seluas 300 hektar hingga 2018, dari luasan saat ini sekitar 420 hektar.

Kepala Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit, Dinas Pertanian DIY, Paryoto menjelaskan, saat ini para petani pengguna pestisida kimia terus didorong untuk beralih menggunakan agen hayati. Laboratorium mini tersebut menjadi fasilitas bagi para petani untuk memproduksi agen hayati sebagai pengendali hama dan penyakit tanaman.

Baca Juga :  Kesini, Pemkab Kulonprogo Belajar Soal Pembangunan Bandara

“Mikroba dikembangkan di laboratorium sebagai agen hayati. Cukup sederhana, mikroba bisa diambil di sekitar kita, seperti air leri dari cucian beras, terasi, sari buah dan sebagainya,” katanya di sela peresmian Laboratorium Mini Starter MA-11 di Dusun Klumutan, Senin (14/08/2017).

Agen hayati ini, menurut Paryoto, bisa berbentuk cair. Para petani kemudian diberikan pelatihan agar bisa menjadi pengelola laboratorium untuk memproduksi agen hayati. Hampir semua hama dan penyakit tanaman ada pengendali alaminya.

Dengan meninggalkan pestisida kimia dan beralih ke agen hayati, para petani bisa mendapat banyak manfaat. Produk pertanian lebih sehat saat dikonsumsi manusia, keberlangsungan pertanian lebih terjaga karena agen hayati tidak merusak tanah, serta hasil panen yang lebih berkualitas.

“Banyak petani Kulonprogo yang sudah menggunakan dan mendapat manfaatnya. Hasil produksinya lebih banyak, naik sekitar 6 ton per hektar, juga lebih berkualitas. Bawang merah misalnya, lebih tahan lama, mencapai empat bulan tanpa penyusutan sehingga bisa diterapkan sistem tunda jual demi kesejahteraan petani,” urainya.

Baca Juga :  Soal Tali Asih, Warga Minta Surat Pernyataan PA

Kepala Kantor Perwakilan BI DIY, Budi Hanoto menjelaskan, pihaknya memiliki program sosial untuk membantu para petani yakni meningkatkan kapasitas produksi yang ramah lingkungan. BI DIY telah membangun gudang benih di Srikayangan dengan kapasitas 22 ton, ditambah laboratorium mini.

Peresmian laboratorium juga disertai dengan penanaman bibit bawang merah oleh Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, di Bulak Klumutan.

Bupati Hasto menyatakan sistem tunda jual diperlukan petani untuk menahan fluktuasi harga. Saat ini, jumlah produksi bawang merah di Kulonprogo mencapai 20 ton per hektar, dengan luas lahan sekitar 420 hektar.

“Kendala utama pertanian bawang merah adalah air. Kita lakukan berbagai upaya untuk memaksimalkan produksi bawang merah terutama perbaikan pengairan. Bahkan, luas lahan pertanian bawang merah dicita-citakan bertambah 300 hektar pada 2018 nanti,” jelasnya.(Sri Widodo/yve)