Labuhan di Glagah Meriah

237
Gunungan diusung oleh sejumlah prajurit menuju ke Pantai Glagah, Minggu (01/10/2017). (istimewa)

KORANBERNAS.ID–Kadipaten Pura Paku Alaman, Minggu (01/10/2017) menyelenggarakan labuhan. Seperti yang sebelumnya, Labuhan di Pantai Glagah ini meriah disaksikan ribuan wisatawan Glagah.

Seperti diketahui, tradisi labuhan ini rutin digelar setiap tahun pada tanggal 10 bulan Suro pada kalender Jawa. Acara Minggu ini dihadiri keluarga dan kerabat Puro Pakualaman, di antaranya KPH Indrokusumo, KP Kusumoparasto, KRT Projoanggono, dan para kerabat lainnya.

Sebelum labuhan dipantai, diadakan upacara adat di Pesanggrahan Pakualaman di Desa Glagah. Kemudian ubo rampe yang akan dilarung dikirabkan menuju pantai. Ubo rampe dimaksud antara lain berupa  gunungan hasil bumi dan ubo rampe lainnya oleh bregodo prajurit dan kerabat serta pengiring lainnya.

Kirab menempuh jarak sekitar 2,5 kilometer menuju Joglo Labuhan yang berada di pantai. Di tempat ini, ubo rampe yang akan dilarung atau dihanyutkan ke laut dipersiapkan. Setelah semuanya siap, ubo rampe dibawa ke tepi pantai kemudian dilarung dengan melibatkan personel dari SAR Korwil V Pantai Glagah.

Baca Juga :  PT RFB Ekspansi ke Yogyakarta

Dua gunungan dan ubo rampe lainnya yang dibawa ke tepi pantai  diperebutkan warga dan pengunjung yang hadir.

Warga rela berdesakan untuk bisa merebut bagian dari gunungan. Bahkan tidak sedikit yang harus berbasah-basahan terkena ombak yang bergulung dan memecah di tepi pantai.

Menurut staf Panitropuro Puro Pakualaman, Mas Riyo Sestrodirjo, labuhan yang diadakan setiap 10 Suro ini sudah berlangsung selama sepuluh tahun. Upacara adat ini merupakan rangkaian kegiatan Kadipaten Pakualaman di bulan Suro. Pada malam 1 Suro digelar pagelaran wayang kulit dan mubeng wilayah Pakualaman, kemudian 10 Suro digelar labuhan di Pantai Glagah.

“Yang dilabuh pakaian-pakaian yang sudah pernah dipakai Adipati dan putra Adipati (Paku Alam), serta potongan kuku dan rambut. Istilahnya dari alam kembali ke alam, dilarung. Selain itu juga beberapa ubo rampe labuhan seperti padi dan palawija. Dilabuh dengan harapan ada kesejahteraan juga bagi masyarakat,” tuturnya.

Baca Juga :  Salut, PAD Sleman Tahun 2017 Lampaui Target

Apapun yang berhasil diperoleh dalam rebutan, nampaknya warga cukup bergembira dalam acara ini.

“Lumayan sulit, sampai basah semua. Kata orang dulu biar berkah. Sudah tradisi, biar dapat rejeki banyak, berkah, semua sehat wal afiat. Ini dapat kacang panjang, kedelai, cabai. Mau disayur, mungkin ada yang disimpan,” kata Wahyu Novita Furi (26) warga Toyan, Desa Triharjo, yang ikut berebut gunungan.

Menurut Fajar (30) pengunjung lainnya,  digelarnya tradisi labuhan seperti ini bagus karena bisa melestarikan adat yang ada di Yogyakarta. “Seperti ini kan adat. Orang-orang zaman sekarang kan pada gak tahu, kalau ada seperti ini mereka jadi pada tahu adat seperti ini masih ada di Jogja,” imbuhnya.(SM)