Langen Carita, Seni Tradisi yang Hampir Punah  

Sejumlah siswa, Rabu (09/08/2017) unjuk kebolehan dalam mementaskan seni pertunjukkan Langen Carita. Langen Carita saat ini menjadi seni pertunjukkan yang mulai langka di Kulonprogo.(sri widodo/harianbernas.id)

454

KORANBERNAS.ID—Banyak nilai-nilai tradisi berikut seni tradisional yang nyaris punah ditelan zaman. Di Kulonprogo, salah satu yang juga nyaris punah adalah “Langen Carita”.

Langen Carita sendiri sejatinya adalah seni pertunjukkan yang merupakan media untuk membangun, mendidik, dan mengajarkan kepada anak-anak supaya menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur, berwawasan kebangsaan, dan berjiwa patriotisme.

Wakil Bupati Kulonprogo Sutedjo mengatakan “langen carita” adalah cerita-cerita Jawa yang dirangkum dalam bentuk tembang dan dialog.

Mereka akan mengetahui berbagai cerita atau legenda yang dimainkan, seperti Arya Penangsang, Bocah Lola, Jaka Tingkir, Aji Saka, Babat Alas, dan Kancil Nyolong Timun.

Seni pertunjukan “langen carita” untuk mengenalkan lagu-lagu dolanan anak, antara lain Cublak Suweng, Jaranan, Buta Galak, Baris-Ngiris Tempat.

Ia menyebut lagu-lagu yang mengandung nasihat luhur juga dapat dirangkum menjadi sederetan tembang-tembang.

“Berkesenian di lingkungan siswa dilakukan oleh dan untuk siswa itu sendiri. Siswa menjadi pelakunya sehingga akan berusaha menjiwai pesan yang dibawakannya,”ujar Kepala Dinas Kebudayaan Kulonprogo Untung Waluya, Rabu (09/08/2017).

Baca Juga :  Masih Ada Penolakan Ukur Ulang Tanah Bandara

Dikatakan di bulan Agustus ini, termasuk dalam FKY banyak dilibatkan para siswa sekolah, di samping masyarakat seni dan budayawan di berbagai pedesaan. Harapannya agar seni budaya memiliki andil dalam membentuk bangsa berkarakter dan pendidikan berkarakter.

Khusus untuk anak-anak siswa sekolah, Dinas Kebudayaan menggelar seni yang hampir langka untuk dipentaskan dan sekaligus dilombakan, yaitu “Langen Carita”.

“Kita memberikan pelatihan kepada para guru dan sekolah. Hasilnya kita lombakan dalam sebuah “Langen Carita Festival”,” ujar Untung.

Menurutnya, tema besar festival adalah mengangkat tema kepahlawanan atau perjuangan. Sumber ceritanya bisa dari sejarah maupun cerita rakyat Kulonprogo. Dengan begitu, ada kedekatan historis yang membuatnya lebih mudah dipahami anak-anak.

“Seni pertunjukkan Langen Carita ini juga sebagai media pendidikan karakter budaya. Khususnya pada anak dan remaja yang dapat memacu timbulnya perbaikan-perbaikan nilai sosial dan kultural untuk peradaban lebih baik,” kata Untung.

Baca Juga :  Tim Angkasa Pura Disambut Kentongan Tanda Bahaya

Lomba di Gedung Kaca Pemda ini diikuti sekitar 600 siswa tingkat Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Mereka berasal dari 12 kecamatan, dan dilaksanakan Selasa-Rabu (08-09/08/2017)

Langen Carita serupa dengan operet, yang menceritakan kisah-kisah Jawa dalam bentuk dialog drama diselingi lagu-lagu. Pada festival ini, masing-masing grup peserta dibebaskan untuk membawa cerita lokal dari daerah asalnya.

Kepala SDN Prembulan, Dwi Purwaningsih mengaku setuju sekali acara ini sering dilakukan di berbagai tingkatan. Sekolahnya yang mewakili Kecamatan Galur menampilkan Langen Carita berjudul “Ngrawa Sari” yang menjadi cerita  turun temurun di lingkungan warga sekitar sekolah tersebut. Ngrawa Sari, berkisah tentang asal-usul munculnya daerah tersebut di masa kerajaan dulu.

“Ada nilai religiusitas dalam nasihat yang disampaikan. Mengajarkan untuk tidak bersikap serakah, selalu bersyukur, serta bertanggungjawab,” ujar Bu Pur. (sri widodo/sm)