Langgar DAK, Sekolah Akan Diberi Sanksi

282

KORANBERNAS.ID — Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten akan memberikan sanksi kepada SD penerima program Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan 2017 yang melakukan pelanggaran. Sanksi tersebut menurut rencana akan diberikan Jumat (29/09/2017).

“Sanksinya Jumat besok berupa teguran langsung dari Pak Kepala Dinas. Teguran diberikan karena pelaksanaan di lapangan tidak sesuai aturan,” kata Pejabat Pembuat Komitmen (DAK) Pendidikan SD Joko Harjono, Rabu (27/09/2017).

Joko menambahkan Kepala SD yang terindikasi melakukan pelanggaran DAK Pendidikan hari ini dipanggil kembali untuk diklarifikasi. Sayangnya Joko tidak menyebut Kepala SD mana saja yang dipanggil.

Sebelumnya, Joko Harjono yang sehari-hari menjabat Kasi Sarpras Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Klaten itu mengatakan pihaknya telah memanggil kepala SD penerima program DAK Pendidikab dalam 2 tahap. Tahap pertama ada 8 kepala SD yang dipanggil dan tahap dua ada 6 kepala SD yang dipanggil. Namun, dari 6 kepala SD yang dipanggil tahap dua hanya 3 kepala SD saja yang memenuhi panggilan. Satu diantaranya adalah Kepala SD Semangkak 2 Klaten Tengah.

Kepala SD Semangkak 2 dipanggil karena pekerjaannya tidak sesuai spek sehingga harus dibongkar. Selain itu adanya indikasi pekerjaan itu digarap pemborong sekalipun alasannya sebagai pendampingan.

Sementara itu, Sekretaris Inspektorat Klaten Juwito, ST mengatakan swakelola dalam juklak (petunjuk pelaksanaan) DAK Pendidikan adalah dimulai dari perencanaan, pengawasan, pelaksanaan dan pelaporan oleh sekolah.

“Sampai sekarang belum ada laporan pelanggaran pelaksanaan DAK Pendidikan. Karena tugas kami melakukan pengawasan mungkin saja ada petugas kami sudah ke lapangan tapi belum ada laporannya,” ujar mantan Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum itu.

Diperoleh informasi biasanya praktek pelanggaran program DAK Pendidikan dilakukan dengan menyerahkan pekerjaan kepada pemborong, menyalahi spek dan membuat SPJ oleh pihak lain. Sebab kepala sekolah dan guru pada umumnya tidak memiliki keahlian dalam proyek dan disibukkan dengan mengajar di sekolah. Padahal juklaknya harus swakelola. (yve)