Lezatnya Wingko Kreasi KWT Mekar

406

KORANBERNAS.ID – Olahan produk makanan terus berkembang. Selain karena diminati, juga memiliki daya jual lebih tinggi ketimbang dalam wujud aslinya sebagai bahan dasar.

Siapa menyangka buah kelapa jika diolah dengan cara lebih kreatif dan dicampur bahan-bahan tambahan unggulan mampu menghasilkan wingko yang lezat.

Dengan bantuan pelatihan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman, Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar dari Balong Desa Pakembinangun Pakem Sleman, berhasil mewujudkannya.

KWT yang diketuai Siswanti ini memutuskan memulai usaha pembuatan wingko kelapa pada 2014. Produknya diberi nama Wingko Ayu.

Wingko produk KWT Mekar. (bid jalasutra/koranbernas.id)

KWT Mekar memulai usaha dengan delapan anggota. Olahan wingko dipilih karena kelapa sebagai bahan dasar tersedia sangat melimpah.

“Di sini banyak kelapa dan untuk wingko belum ada, kalau ada kan juga jauh belinya,” ujar Siswanti di rumahnya, Rabu (18/10/2017).

Wingko KWT Mekar memiliki kelebihan dibanding wingko-wingko di pasaran. “Tanpa pengawet, manis dari gula asli. Semuanya asli tanpa tambahan bahan lainnya,” tutur Siswanti.

Meski begitu, wingko KWT Mekar ini hanya tersedia dalam satu varian rasa yakni original. Anggotanya masih menilai, penggunaan bahan tambahan lain seperti pewarna dan perasa justru mengurangi cita rasa wingko itu sendiri. “Kan pewarna itu nggak bagus untuk kesehatan,” tambahnya.

Dengan bahan dasar dua kilogram kelapa, tepung ketan, margarin dan gula, setiap dua hari KWT Mekar memproduksi 100 wingko. Siswati dan para anggota memproduksi wingko rutin setiap hari jika ada pesanan.

“Kalau ada pesanan itu tiap hari, kalau nggak ada pesanan ya nanti setor saja ke warung,” ungkap Siswanti.

Dia berpikir wingko hanya layak konsumsi hingga tiga hari sehingga lebih baik diproduksi saat akan dijual saja.

“Kira-kira yang di warung menipis baru tambah produksi tanpa nyetok, ada pesanan langsung bikin saja jadi fresh,” tambahnya.

Selama tiga tahun memproduksi wingko, KWT Mekar memasarkannya sekadar melalui mulut ke mulut. Para anggota belum paham benar mengenai media sosial.

Ini tentu berimbas pada jumlah penjualan per minggu hanya berkisar antara 600 hingga 700 buah wingko.

Proses produk wingko KWT Mekar. (bid jalasutra/koranbernas.id)

Dengan harga per buah wingko Rp 1.200, KWT yang beralamat di Desa Balong RT 09 Pakembinangun Sleman ini memperoleh untung bersih kurang lebih Rp 500 ribu.

Ke depannya, Siswanti dan para anggota berharap memperluas pasarnya. Cara termudah adalah mengikutsertakan ibu-ibu muda di bidang pemasaran.

“Ingin mengajak ibu-ibu muda untuk meneruskan dan membantu pemasaran lewat online kan mereka lebih mengerti,” kata Siswanti. (sol)