Lho, Wanita Jadi Motivator KB Pria

165
Adi Nugrahawati (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID —  Saat ini sepertinya tiada lagi tugas atau pekerjaan yang terpisahkan oleh perbedaan jender dalam segala strata. Zaman dahulu kala siapa menyangka wanita yang distigma sebagai lemah, bisa menjadi buruh bangunan di bawah terik matahari dengan pekerjaan kasar, hingga menjadi developer.

Atau, menjadi guru hingga guru besar, karyawati hingga menteri bahkan presiden maupun pramugari hingga pilot. Di bidang keluarga berencana bahkan ada wanita menjadi motivator KB Pria. Tak lagi ada yang tabu.

Salah seorang di antaranya adalah Adi Nugrahawati. Wanita kelahiran 2 Juli  1971 yang berdinas di Puskesmas Depok Kabupaten Sleman tersebut bahkan menjadi juara 2 tingkat Regional 2 pada lomba Motivator KB Pria dalam rangka Hari Keluarga tingkat Nasional.

Setelah dia sebagai juara DIY berhak mewakili ke lomba tingkat nasional, Selasa (31/07/2018) pagi dengan bangga dia menerima penghargaan dari Deputi Latbang BKKBN Pusat Prof Rizal Damanik pada puncak peringatan Hari Keluarga Nasional XXV tingkat DIY di Stadion Sultan Agung Bantul, bersama dengan para penerima penghargaan lainnya.

Bagaimana awalnya dia menjadi motivator KB Pria? “Berawal dari diri saya,” kata ibu dari dua anak kelahiran 1997 dan 2002 ini kepada koranbernas.id usai penerimaan penghargaan.

Dia berhasil melindungi diri dari kehamilan dengan alat kontrasepsi hormonal hingga usia 40 tahun. Tetapi dampaknya dia menderita hipertensi. Dia tidak boleh lagi menggunakan alat kontrasepsi atau alkon hormonal.

Mau ganti cara dengan IUD terus terang dia merasa takut. Karenanya dia berembug dengan suami bagaimana suaminya menjadi akseptor pria dengan cara vasektomi. Pengetahuan vasektomi itu dia terima dari Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB). Sebagai petugas Puskesmas, dia memang sering bersinggungan tugas dengan PLKB.

“Awalnya suami saya keberatan. Dia khawatir dengan rumor vasektomi itu dikebiri. Khawatir kalau tidak lagi mampu melaksanakan tugas hubungan suami istri,” katanya.

Untuk meyakinkan itu hanya rumor dan tidak benar adanya, Adi Nugrahawati mengajak suaminya bertemu PLKB untuk meluruskan hal  tersebut. Meski begitu, Budi Wijoyanto tidak langsung percaya.

Karyawan Telkom itu masih perlu waktu meyakinkan diri sendiri. Sekitar satu bulan berpikir akhirnya Budi pun setuju dan vasektomi dilaksanakan di RSUP Dr Sardjito pada Maret 2015. Adi Nugrohowati mengantar suami vasektomi yang prosesnya cukup cepat.

“Ternyata hingga kini kami baik-baik saja. Tidak ada yang berubah,” katanya.  Dari pengalaman tersebut akhirnya Adi Nugrohowati aktif memberi motivasi kepada pasangan-pasangan suami istri atau pasutri yang tidak ingin mempunyai anak lagi tetapi mengalami kendala.

Motivasi ini kadang-kadang dilakukan bersama PLKB. Juga dengan suami di setiap pertemuan. Testimoni suami ini penting untuk meyakinkan calon peserta  lainnya.

Melalui kerja sama dengan petugas sejak 2015, dia berhasil mengajak lebih dari 20 pria mengikuti jejak Budi. Tetapi yang murni hasil Nugrohowati sendiri memotivasi hasilnya lumayan, meski angkanya di bawah lima orang. Tetapi kebersamaan hingga berhasil mengajak lebih dari 20 pria tidak lepas dari peran Nugrohowati.

Pendekatan lewat istri

Strategi yang diterapkan lebih banyak pendekatan lewat para istri. Karena kebanyakan keberatan justru datang dari para istri. Kebanyakan khawatir setelah vasektomi suami akan selingkuh karena risiko kecil, tak lagi mampu menghamili selingkuhannya.

“Padahal sebenarnya selingkuh itu bisa dilakukan siapa saja. Tinggal pribadinya, tidak selalu dilakukan pria yang sudah vasektomi,” katanya.

Ternyata lewat pendekatan istri ini banyak membawa hasil. Sampai kapan dia akan menjadi motivator? Sampai kapan pun dan setiap ada kesempatan. Karena dia menyadari, merencanakan keluarga manfaatnya akan dirasakan diri sendiri.

Artinya, tidak  sekadar mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera. Tetapi sekaligus merupakan andil bagi pembangunan sumber daya manusia berkualitas demi kemajuan bangsa.  (sol)