Lima Kecamatan Rawan Bayi Stunting

170
Wakil Bupati Sleman, Hj Sri Muslimatun menghadiri Sosialisasi Penanggulangan Stunting Secara Dini di Aula Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis (25/01/2018). (Bid Jalasutra/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID—Lima kecamatan di Sleman, masih rawan dengan kasus gizi buruk yang salah satunya terindikasi dari adanya bayi stunting. Untuk itu, Pemkab menaruh perhatian serius dan mengajak semua pihak untuk bahu membahu memerangi persoalan gizi buruk di masyarakat.

Dalam rangka peringatan Hari Gizi Nasional ke-58, Pemerintah KabupatenSleman melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman menyelenggarakan Sosialisasi Penanggulangan Stunting Secara Dini di Aula Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis (25/01/2018).

Kepala Bagian Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Sleman, Bambang Suharjana menjelaskan, latar belakang diselenggarakannya sosialisasi tersebut dikarenakan masih adanya permasalahan gizi di Kabupaten Sleman maupun nasional.

“Hasil riset kesehatan dasar nasional adanya bayi stunting ini masih menunjukan angka yg tinggi. Di tingkat di nasional sekitar 37,2 persen. Sedangkan di Sleman data terakhir 11,9 persen,” papar Bambang.

Selain itu, Bambang juga mengatakan bahwa sosialisasi ini merupakan salah satu upaya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pencegahan stunting secara dini.

“Sedangkan tujuan khususnya adalah meningkatkan komitmen dan kerja sama lintas sektor di tingkat Kabupaten Sleman, baik di lingkup Kecamatan, Desa dan selanjutnya meningkatkan keterlibatan praktisi kesehatan dan non kesehatan serta mitra pembangunan dalam penurunan stunting,” tuturnya.

Baca Juga :  Ingin Sensasi Makan Laiknya di Hutan, Datang Saja ke Mall Ini

Meskipun demikian, Bambang menyebut bahwa permasalahan gizi di Kabupaten Sleman pada tahun 2017 mengalami penurunan.

“Pada tahun sebelumnya (2015-2016) rata-rata berkisar 12 persen. Artinya ini sudah ada penurunan lagi dengan perkiraan sekitar 6.000 balita mengalami stunting,” ungkap Bambang.

Sedang Nutrisionis Dinkes Sleman, Sri Mujianto memaparkan sejumlah balita penderita stunting terdapat di lima kecamatan di Sleman yaitu, Minggir, Seyegan, Moyudan, Prambanan dan Kalasan. “Saat ini kita baru mulai analisis mengapa terjadi di 5 kecamatan tersebut,” katanya.

Menurut Mujianto, beberapa faktor dapat menjadi penyebab terjadinya permasalahan gizi di suatu daerah. Seperti kemiskinan yang sangat erat kaitannya dengan permasalahan tersebut. “Sebenarnya banyak sekali faktornya, bisa kemiskinan, pola asuh, pendidikan, dan kita belum tahu faktor mana yang paling berpengaruh,” jelas Mujianto.

Baca Juga :  Titiek Soeharto Tak Ingin Rumah Aspirasinya Hanya Papan Nama

Wakil Bupati Sleman, Hj Sri Muslimatun menjelaskan bahwa permasalahan stunting ini tidak bisa diselesaikan oleh pihak tertentu saja, namun membutuhkan dukungan lintas program dan lintas sektoral.

“Oleh karenanya saya mengajak seluruh pihak terkait untuk dapat bersama-sama menekan kasus stunting serta permasalahan gizi lainnya di Kabupaten Sleman dengan cara berperan aktif dalam menyelesaikan permasalahan sosial masyaralat sesuai dengan bidang kerjanya masing-masing,” kata Sri Muslimatun

Selain itu, Wabup juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat. Terutama para ibu yang sedang menanti kehamilan dan yang sedang menjalani masa kehamilan untuk dapat menjaga dan memenuhi nutrisi selama hamil agar dapat menimimalisir kemungkinan permasalahan gizi.

“Edukasi ini juga diharapkan berlanjut pada masa pemberian ASI eksklusif 6 bulan serta makanan pendamping yang sesuai dengan standar World Health Organization (WHO). Sehingga harapannya masyarakat, khususnya para ibu teredukasi,” kata Sri Muslimatun. (SM)