Literasi dan Sikap Kritis

699

SAYA cukup terkesima ketika diberi pertanyaan oleh murid saya, sebut saja namanya Fati, “Kenapa saya harus ikut lomba yang saya tidak suka melakukannya?” Pertanyaan ini adalah respon karena saya memintanya ikut lomba debat bahasa Inggris. 

Fati sangat pandai berbahasa Inggris, baik dalam tulisan maupun lisan. Saya memberi angka 9 atau 10 untuk kompetensinya yang satu ini. Saat duduk di bangku SD dia pernah menulis novel anak-anak dan dia pandai melukis. Sebuah talenta  yang hampir sempurna. Selain itu, dia sangat kritis. Bahkan ketika SMA kelas 2 (kelas XI), dia bisa mengoceh  tentang sistem pendidikan di Indonesia yang menurut dia tidak ideal, sehingga dia membuat sebuah keputusan yang tidak biasa tentang bagaimana nanti dia akan melanjutkan studi S1 nya.

Lalu saya memberikan beberapa pertanyaan lanjutan untuk menggali, mengapa dia tidak mau mengikuti lomba itu. Saya mencoba membuat strategi dan masih berharap dengan jawaban saya, dia akan berubah pikiran dan mengikuti lomba ini. Karena saya pikir, dengan kemampuan bahasa Inggris yang dia miliki ditambah kecakapan dia membaca serta sikap kritis dia, kami pasti akan memiliki tim yang sempurna. Toh, Akhirnya saya harus mengaku kalah berdebat dengannya. 

Pada kesempatan lain, ketika saya mengajar di kelasnya, dia membuka dua buku dan satu buku gambar sketsa, dan ini menarik saya untuk bertanya apa yang dia lakukan. Dia menjelaskan tentang kesukaan dia menggambar dan otak dia akan lebih aktif dan bekerja baik jika dia bisa mencoret2 sketsa sembari dia berpikir. Lagi-lagi saya belajar karena akhirnya saya membelikan anak saya buku sketsa karena anak saya suka juga menggambar dan dia mencoret2 buku pelajarannya dengan gambar2 komik yang dia sukai. 

Para guru sering memarahi anak-anak yang mencorat-coret buku. Mungkin saya salah satunya, namun saya selalu bertanya alasan seorang murid melakukan sebuah tindakan karena dari situ kita akan memberikan pendidikan yang tepat.

Saya pernah memberikan teknik membaca cepat dengan menemukan kata-kata kunci pada teks. Dan semua pilihan kata kunci ditulis di papan tulis dan tidak aneh bahwa Fati, lagi-lagi menjuarai penemu keyword yang paling sempurna dan paling cepat. 

Baca Juga :  Keluarga Berperan Mengikis Radikalisme

Jika seorang guru boleh belajar kepada muridnya, saya akan mengatakan bahwa murid saya ini adalah guru saya. Karena semua yang dia lakukan dan yang dia respon memaksa saya untuk berpikir dan mengambil pelajaran. 

Pertanyaannya, bagaimana seorang anak bisa menemukan begitu besar potensi dalam dirinya dan berani membuat keputusan bagi dirinya sejak dia masih kanak-kanak atau masih remaja? 

Lahirnya sebuah keputusan tentu saja dimulai dari gap dari diri seseorang. Semakin tinggi kualitas keputusan tersebut, tentu diawali dengan kualitas materi dan standar yang ditetapkannya. Proses berpikir tentu saja akan sangat diperlukan dan proses ini menjadi penting bagi langkah seorang individu yang dia mulai sejak dari keluarga yang menumbuhkannya.

Fat lahir dari pasangan terpelajar. Katakanlah banyak juga pasangan seperti ini, tetapi tidak menumbuhkan anak yang bisa mengembangkan potensi serupa. Kita akui bersama, bahwa banyak faktor yang mempengaruhi potensi seseorang. Bahkan potensi-potensi tidak selalu lahir dari sebuah pasangan keluarga berpendidikan tinggi. Namun kita akui, bahwa penting bagi orang tua memberikan sebuah media tumbuh yang baik di dalam rumah yang memungkinkan seorang anak akan muncul potensinya.

Kisah Fati menjadi potret kekritisan seseorang dalam menyikapi kejadian di sekitarnya. Lalu, mari kita lihat lebih mendalam tentang lahirnya sikap kritis seseorang muncul dan berkembang dalam dirinya.  Ada 2 hal yang mempengaruhi munculnya sikap kritis. Pertama, menumbuhkan literasi  dan kedua keluarga yang mendukung.

National Institute for Literacy (NIFL) mendefinisikan literasi  sebagai “kemampuan individu untuk membaca , menulis , berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan  masyarakat”.

Lima kemampuan dasar yaitu membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah di satu sisi yang diperlukan pada tiga domain di sisi lainnya yaitu pekerjaan, keluarga dan masyarakat. 

Baca Juga :  Ketakutan terhadap Islam dan Masa Depan Dunia

Lalu, darimana literasi ini akan dimulai? 

Melihat lima kemampuan dasar ini, keluarga akhirnya akan menjadi kata-kuncinya. Keluarga adalah tempat paling awal lahir dan berkembangnya seorang individu. Mulai latihan berbicara, membaca, menulis, berhitung dan cara mengambil keputusan dimulai dari interaksi seseorang dengan ibu dan ayah di keluarganya.  Maka di sinilah peran keluarga menjadi signifikan melahirkan sikap-sikap positif yang diperlukan dalam tumbuh kembang seseorang. 

Sikap kritis akan mudah lahir dan berkembang dari sebuah proses dialog yang berkelanjutan dan memungkinkan terjadinya timbal balik antara anak dan orang tua. Orang tua di satu sisi perlu memberikan stimulan dan pada saat yang sama, dia menyediakan bahan-bahan untuk melatih anaknya. Mulai dari bacaan yang disediakan, feedback hasil bacaan dan media perkembangan lain yang memungkinkan peningkatan bagi sang anak. 

Feedback akan menjadi langkah penting untuk mengembangkan cara dan bersikap kritis. Coba bayangkan seorang ibu atau seorang guru yang langsung menyanggah, menolak atau mengatakan salah pada sebuah pendapat seorang anak atau siswa. Yang terjadi adalah penghentian proses berpikir berkelanjutan. Dan hal inilah yang seringkali ditemui di sekolah maupun di rumah.

Menumbuhkan berpikir dan bersikap kritis diperlukan banyak stimulan, banyak kesempatan, banyak melakukan trial and error, sehingga anak akan memiliki keberanian dan mau mencoba. Akan ada saat kita menemui fakta yang menyakitkan dengan pengakuan yang mungkin di luar dugaan. Atau akan ada juga kita sebagai orang tua atau guru menghadapi kritik atau protes. Tetapi inilah pentingnya belajar menerima, bernegosiasi dan mencari solusi bersama. 

Melatih berpikir kritis akan melatih kita menemukan pemecahan masalah. Kita pun sebagai orang tua masih perlu selalu berlatih, lalu bagaimana mungkin anak-anak akan bisa melakukannya tanpa kita beri stimulan, materi dan cara untuk memajukan dirinya.
Mari membesarkan orang lain sehingga kita bisa membesarkan diri kita, inilah kunci berpikir kritis. ***