Longsor Merapi Memakan Enam Korban

717
Aktivitas penambangan di lereng Gunung Merapi tepatnya Dusun Kalitengah Kidul Cangkringan Sleman, Senin (02/04/2018) pagi terhenti akibat tanah longsor, empat orang luka-luka dan dua korban meninggal dunia. (rosihan anwar/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Petugas dari kepolisian sampai saat ini masih melakukan penutupan terhadap aktivitas penambangan pasir untuk sementara waktu, menyusul terjadinya musibah longsor di area penambangan pasir di lereng Gunung Merapi, Senin (02/04/2018) pagi.

Longsor yang terjadi tepatnya di Dusun Kalitengah Kidul Desa Glagaharjo Kecamatan Cangkringan Sleman, menyebabkan sebanyak enam orang penambang dan empat unit truk pengangkut pasir tertimbun longsoran tebing yang berdekatan dengan alur Sungai Gendol tersebut.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Djoko Supriyanto, menyebutkan insiden longsor terjadi saat aktivitas penambangan sedang berlangsung dari belasan truk siap mengangkut pasir dari kaki lereng Merapi.

“Ini kan ada antrean truk mengambil pasir dan yang paling depan sedang mengisi pasir. Tapi yang ambrol malah yang di belakang yang belum mendapat jatah mengambil pasir dan menimpa empat truk dan enam orang itu,” ujarnya kepada koranbernas.id.

Dari data yang dihimpun BPBD, ada enam orang korban dan dua di antaranya meninggal dunia. Djoko Supriyanto menambahkan, meski cuaca cerah dalam beberapa hari terakhir, longsor terjadi karena posisi tebing yang hampir tegak lurus sehingga sewaktu-waktu dapat terjadi retakan dan pergerakan tanah.

“Tebingnya hampir tegak lurus. Yang namanya tegak lurus itu, kering pun bisa longsor. Lain halnya tebing miring, kena hujan deras baru dia longsor. Tapi kalau tegak, ada getaran, ada yang nggak kuat bisa longsor,” paparnya.

Dari empat korban yang luka-luka, dua di antaranya adalah pasangan suami istri Pandi Wiyono dan Citro Wiyono yang merupakan warga Dusun Kalitengah Kidul.

BPBD sendiri mengonfirmasi aktivitas penambangan yang dilakukan PT Sari Mulya telah mengantongi izin dan bukan penambangan illegal.

“Kalau itu, penambangannya sudah berizin. Tapi yang salah mereka sendiri kenapa melakukan (penambangan) di posisi yang berbahaya seperti itu. Perusahaan juga seharusnya mengingatkan,” tambahnya.

Dua orang tewas yakni sopir truk Gunawan (36), warga Bulaksalak Wukirsari Cangkringan dan Sugeng (35) warga Kemurejo Karangnongko Kabupaten Klaten. Keduanya merupakan sopir truk pengangkut pasir yang bekerja pada PT Sari Mulya.

Sedangkan korban luka yakni Citro Wiyono (50) dan Pandi Wiyono (55), keduanya penambang pasir warga Kalitengah Kidul, Glagaharjo, Cangkringan. Ditambah dua warga korban longsor susulan Slamet (34) dan Tentrem (33), warga setempat.

Terpisah, Kapolsek Cangkringan AKP Sutarman menjelaskan, awalnya hanya ada empat korban. Kemudian bertambah menjadi enam karena adanya longsor susulan. Dua warga yang menjadi korban beruntung selamat ketika mereka sedang menonton proses evakuasi.

“Ini tadi terjadi longsor susulan, dua warga jadi korban tapi beruntung selamat. Keduanya sedang menonton proses evakuasi dari atas tebing, padahal tadi sudah diimbau petugas agar menjauh,” jelasnya. (ros)