Lupus, Penyakit Unik yang Sulit Dideteksi

340
Dokter Dedy Nur Wahid A SpPD (K) memberikan penjelasan tentang Lupus, Selasa (08/05/2018), didampingi dr Sumadiono SpA (K) serta Dirut RSUP Dr Sardjito Dr dr Darwito SH SpB (Onk) K. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Penyakit Lupus hingga kini sulit dideteksi secara dini karena penyakit yang satu ini tergolong unik, menyerang bagian tubuh secara komplikatif dalam waktu berkelanjutan.

Diperlukan ketepatan diagnosis, namun harus melibatkan berbagai spesialis secara komprehensif. Padahal jika penyakit ini bisa dideteksi secara dini maka pasien bisa tertangani dengan baik dan terselamatkan, meskipun biaya pengobatannya sangat mahal.

Hal itu diungkapkan dr H Dedy Nur Wahid A SpPD (K) dan dr Sumadiono SpA (K) didampingi Dirut RSUP Dr Sardjito Dr dr Darwito SH SpB (Onk) K dalam jumpa pers di Gedung Administrasi Pusat rumah sakit tersebut, Selasa (08/05/2018).

Menurut Dedy Nur Wahid, RSUP Dr Sardjito sebagai rumah sakit rujukan nasional berkewajiban meningkatkan mutu dan pelayanan kesehatan, melalui indikator kepedulian akan kebutuhan masyarakat terhadap kesehatan.

Rumah sakit itu juga membina Puskesmas dan sarana penyedia layanan kesehatan lainnya, termasuk peduli terhadap pasien Lupus yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia.

Baca Juga :  Bupati Kucurkan Miliaran Dana Bansos ke Mantan Timses

Penyakit ini lebih banyak menyerang wanita karena masalah hormonal. Meskipun bisa jadi wanita penderita Lupus melahirkan anak yang juga kena Lupus namun sifat genetisnya tidak pada garis langsung.

“Bahkan pada kondisi tertentu, wanita penderita Lupus saat akan melahirkan kambuh penyakitnya, dokter sering dihadapkan pada pilihan dilematis. Menyelamatkan bayinya atau ibunya,” kata dr Dedy.

Pasien Lupus ini selain diobati juga harus ditumbuhkan kepercayaan dirinya. Caranya adalah bergabung dalam sebuah komunitas untuk saling menguatkan.

Dari anggota komunitas itu ada yang mampu berkarya untuk dipamerkan. Bahkan ada yang mampu menciptakan Yoga Ketawa untuk menanggulangi penyakitnya. Di Yogyakarta sendiri sudah berdiri Yogya Peduli Lupus.

Seminar

Dalam rangka Peringatan Hari Lupus Sedunia yang ditetapkan badan kesehatan dunia (WHO) tanggal 10 Mei, RSUP Dr Sardjito menggelar seminar Rabu (09/05/2018), di Gedung Diklat lantai 4.

Pada seminar medis ini pakar Lupus dewasa Prof  Dr dr Nyoman Kertia SpPD  KR serta pakar Lupus anak dr Sumadiono SpA (K) tampil sebagai pembicara.

Baca Juga :  Yogyakarta Siap Sambut Wisatawan

Seminar diikuti oleh berbagai unsur pelayanan kesehatan  masyarakat serta perwakilan Dinas Kesehatan dan BPJS. Diharapkan peserta lebih waspada serta  mampu mengetahui deteksi dini, diagnosis, alur rujukan sehingga penatalaksanaan pasien Lupus menjadi lebih baik. Dengan begitu, angka kesakitan dan angka kematian pun bisa ditekan.

Selanjutnya, pada Sabtu (12/05/2018) di Pendapa Agung Hotel Ambarrukmo Yogyakarta berlangsung Fun Gathering  Odapus,  bertujuan untuk menanamkan rasa percaya diri pada pasien Lupus.

Selain itu, juga ada beauty class lantaran banyak sekali pasien Lupus terkena masalah pada kesehatan kulit. Seminar maupun Fun Gathering ini terbuka untuk para Odapus atau penderita Lupus, pendamping, kalangan medis serta pemerhati Lupus.

Karena kuotanya terbatas, peserta bisa mendaftar pada dr Lisa Kurnia Sari MSc SpPD di nomor 081 6681 296. (sol)