Mahasiswa Baru Stipram Lampaui Target

Di Luar Dugaan, Anggap Saja Musibah yang Patut Disyukuri

259
Ketua Stipram Suhendroyono SH M Par (kiri) menyampaikan kata sambutan pada Kegiatan Pengenalan Kampus (KPK), Rabu (01/08/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Tahun ajaran 2018/2019 kali ini, jumlah mahasiswa baru Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (Stipram) Yogyakarta berhasil melampui target. Di luar dugaan, tercatat lebih dari 1.500 mahasiswa baru program D3 dan S-1 dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan beberapa dari luar negeri yang memilih kuliah di kampus tersebut.

Pihak kampus pun merasa gembira meski hal itu dianggap ibarat musibah yang patut disyukuri. Musibah? “Kelebihan jumlah mahasiswa baru ini ibarat musibah yang harus kita syukuri. Berarti kita (Stipram) dipercaya,” ungkap Suhendroyono SH M Par, Ketua Stipram Yogyakarta, kepada wartawan Rabu (01/08/2018) di kampus setempat.

Di sela-sela Kegiatan Pengenalan Kampus (KPK) guidance and assistance to tourism students introduction of learning evaluation academic and non academic, dia menyampaikan sebenarnya sejak awal dia sudah wanti-wanti untuk membatasi jumlah mahasiswa baru pada kisaran 1.200-an orang saja.

Sekali lagi di luar dugaan terjadi aliran pendaftar via online hingga menambah jumlahnya lebih dari target semula. Konsekuensinya, pihaknya harus menambah lagi 20 orang dosen sebagai bagian dari operasional kampus.

“Untuk ruang tidak ada masalah karena kita sudah menyiapkan untuk jangka panjang era ke depan. Juga sudah ada hotel untuk praktik,” tambahnya.

Ribuan mahasiswa baru Stipram mendengar penjelasan saat mengikuti KPK. (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Suhendroyono menyebutkan, pendaftar lewat online lebih banyak yaitu mencapai 65 persen. Padahal ujian sampai berlapis tiga di  antaranya ujian tertulis dan terakhir tes wawancara lewat telepon.

Ini membuktikan minat generasi muda masuk perguruan tinggi pariwisata sangat tinggi. “Mohon maaf (pendaftar) yang terpaksa kami tolak dua kali lipatnya (dari yang diterima). Mereka sudah mengetahui pariwisata sekarang menjadi andalan ekonomi dunia, terlepas dari masalah politik dan lain lain,” kata dia.

Sselain dari dalam negeri, mahasiswa asing juga mendaftar dan diterima tahun ini, terdiri dari empat orang dari Serawak Malaysia dan dua orang dari Thailand. Mereka masuk Stipram bukan karena program kerja sama melainkan atas inisiatif sendiri.

Adapun alasan mereka seperti dikutip Suhendroyo karena kurikulum Stipram setara dengan yang ada di Serawak. Alasan lain yang patut jadi bahan renungan bersama, mereka melihat potensi pariwisata Indonesia tinggi.

“Alasan ketiga, ini yang terasa nggak enak, kebetulan pariwisata Indonesia belum termobilisasi dengan baik. Mereka melihat potensi untuk melakukan penelitian masih banyak peluangnya. Dan juga kemajuan TI (Teknologi Informasi) di Indonesia dinilai luar biasa,” paparnya.

Sayangnya, jika dilihat dari satu kacamata, kemajuan industri di Indonesia tidak diimbangi dengan pariwisata. Terjadi ketidakseimbangan. Sinergitas yang ada tidak dimanfaatkan. Mungkin karena terlalu dimanjakan, ibarat anak kecil bangun tidur sudah tersedia roti dan susu, tidak perlu memasak sendiri.

Hal ini berbeda dengan Jepang dan Singapura, contohnya. “Singapura itu tidak punya destinasi wisata tetapi bisa memanfaatkannya melalui komunikasi dan berani membuat terobosan. Stipram diakui karena kita berani membuat terobosan,” tambahnya.

Di hadapan ribuan mahasiswa baru yang mengenakan jaket almamater dominasi warna kuning, Suhendroyono juga berpesan mereka bisa lebih cepat menyelesaikan kuliahnya. “Ikan sepat ikan gabus, lebih cepat lebih bagus,” ujarnya berpantun.

D3 yang biasanya ditempuh dalam waktu tiga tahun, di Stipram bisa selesai 2 tahun 8 bulan.  Sedangkan S 1 bisa selesai 3 tahun 8 bulan. Artinya, lulusan kampus ini terbuka peluang lebih cepat memperoleh pekerjaan di bidang pariwisata maupun sebagai dosen.

“Apakah Anda ingin kuliah selama lima tahun?” tanya Suhendroyono. Para mahasiswa itu pun secara kompak menjabat tidak. Adapun kegiatan KPK kali ini berlangsung empat hari sampai 4 Agustus 2018. (sol)