Mahasiswa Bercadar UAD: “Jangan Hakimi Kami”

745
HN dan AR, dua mahasiswi UAD di kampus setempat, Jumat (09/03/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Kebijakan UIN Sunan Kalijaga (Suka) yang melarang mahasiswinya bercadar nampaknya berdampak luas. Mahasiswi di kampus lain merasa terbebani dengan keputusan tersebut. Apalagi stigma radikalisme yang menyertai mereka yang menutup wajah.

Sebut saja HN, mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan dan Kependidikan Universitas Ahmad Dahlan (FKIP UAD) yang terpengaruh pemberitaan pelarangan cadar. Meski di kampus tidak ada persoalan, persoalan datang saat mereka berada di lingkungan luar kampus.

“Sedikit banyak terpengaruh di luar kampus karena ada anggapan radikal itu,” ujar HN di kampus 1 UAD, Jumat (09/03/2018).

Padahal mahasiswi semester 8 tersebut tidak pernah ikut golongan apapun. Sebagai mahasiswi UAD dibawah Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), mereka mengikuti aturan kampus untuk masuk Muhammadiyah.

Baca Juga :  Ada Daftar Pemilih Tak Dikenal

Bahkan meski menggunakan cadar, HN yang berasal dari Padang, Sumatra Barat tersebut tidak pernah mendapatkan perlakuan buruk dari teman-teman atau dosen. Mereka yang tak lebih dari 20 orang juga berteman dengan siapapun.

“Kami hanya berbeda dari cara berpakaian, bukan hal lainnya. Jangan hakimi kami,” tandasnya.

Hal senada disampaikan AR, teman sekelas HN yang mengaku tidak pernah menutup diri dari masyarakat. Sebagai mahasiswa FKIP yang mengikuti Program Pengalaman Lapangan (PPL) sebagai guru, dia melepas cadar.

“Karena alasan administratif, saya juga tidak bercadar saat ujian atau foto untuk kartu mahasiswa,” jelasnya.

Di kelas, mahasiswi berusia 21 tahun itu mengaku menggunakan masker kain alih-alih cadar. Sehingga meski tertutup, hal itu tidak menimbulkan pertanyaan atau masalah.

Baca Juga :  Akhirnya, Warga Terdampak Bandara Mulai Pindahan

“Kalau pas kotor, solusi terakhir pakai masker biasa,” imbuhnya.(yve)