Mahasiswa UP 45 Kreatif, Daun dan Ranting pun Jadi Bahan Bakar Alternatif

566
Awalliyah Nadia Belyni, Yunahar Abdul Rahman, dan Yuhirman. Tiga mahasiswa UP 45 yang berhasil menjuarai Lomba Inovasi dan Teknologi Mahasiswa (LITM) 2017.

APRIL 2017, menjadi titik balik bagi 3 mahasiswa Universitas Proklamasi 45 (UP 45) ini. Dari niat dan ide sederhana, kiprah mereka mendapat pengakuan di DIY. Dan kini, trio ini membidik target lebih tinggi. Tingkat nasional.

Ketiganya adalah mahasiswa Program Studi Teknik Perminyakan Angkatan 2015. Yaitu Awalliyah Nadia Belyni, Yunahar Abdul Rahman, dan Yuhirman. Mereka berhasil memenangkan Lomba Inovasi dan Teknologi Mahasiswa (LITM) 2017, yang digelar oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY. Lomba berlangsung di Kampus II Fakultas Ekonomi Universitas Teknologi Yogyakarta, melibatkan peserta dari  berbagai PT se-DIY.

Ditemui disela-sela kuliahnya, ketiga mahasiswa ini menuturkan, awalnya keinginan mengikuti lomba ini hanyalah ide spontan. Mereka juga tidak mengira kalau dalam perjalanannya, niat ini kemudian benar-benar dapat berproses dengan baik, dan mendapat dukungan dan arahan dari sejumlah dosen.

“Awalnya, kami hanya berpikir koq main terus. Lalu kami sepakat untuk melakukan sesuatu yang barangkali lebih berharga dan berarti. Kebetulan ada lomba tadi, jadi kami kemudian sepakat untuk ikut dan mulai berbagi ide,” kata Awalliyah, memulai cerita mereka hingga memenangi lomba ini.

Dari diskusi-diskusi kecil dan arahan serta masukan dari dosen Wira Widyawidura S.Si, M.Eng dan Habib Abdillah Nurusman S.T, M.Sc, M.Eng sebagai tim inventor, ketiga mahasiswa ini kemudian memutuskan untuk lebih mengembangkan sumber-sumber energi alternatif. Tema “Pemanfaatan Sampah Organik di Lingkungan” dipilih. Sebab tim ini melihat sampah organik dapat menjadi sumber energi alternatif yang sangat murah. Kalau ini bisa dikembangkan, maka bukan hanya akan menjadi solusi untuk kebutuhan energi, melainkan sekaligus menjadi solusi bagi persoalan lingkungan.

“Ini juga selaras dengan visi DIY 2020, yang menjadi tema dari lomba. Kebetulan pula, Pak Wira sedang ada project mengembangkan kompor TAGS (Twist Aerated Gasification Stove), jadi klop,” kata Yuhirman menimpali.

Dari sini, tim kemudian aktif melakukan riset dan ujicoba di lingkungan kampus. Sampah organik pun dikumpulkan dan diolah sedemikian rupa sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar di tungku TAGS.

Tentang kompor TAGS sendiri, Yuhirman mengaku tidak mengetahui secara detail, lantaran kompor itu menjadi karya Wira Widyawidura ST, M.Eng. Hanya secara konstruksi, Kompor TAGS memang sedikit berbeda dengan kompor kebanyakan.

Perbedaan itu, bahwa energi panas yang dihasilkan dari kompor ini bukanlah dari pembakaran langsung bahan bakar organik yang telah diolah, melainkan dengan memanfaatkan gas yang timbul dari bahan bakar organik ini.

“Detailnya tentu Pak Wira yang dapat menjelaskan. Karena kami lebih fokus pada bagaimana melakukan inovasi dan rekayasa agar bahan-bahan organik ini dapat dijadikan bahan bakar pada kompor tersebut,” tandas Hirman.

Karena memanfaatkan bahan-bahan terbarukan, bahan bakar ini dipastikan memiliki banyak kelebihan. Selain lebih hemat mengingat bahannya tersedia melimpah, yang pasti juga jauh lebih ramah lingkungan.

“Seberapa prosentasenya, masih perlu dihitung ulang. Tapi logikanya jauh lebih efisien dan tidak mencemari lingkungan,” tandas Yuhirman menambahkan.

Tim ini mengakui, kendati sangat potensial dikembangkan, teknologi pengolahan bahan bakar organik dan pemanfaatan kompos TAGS ini masih perlu upaya penyempurnaan disana sini. Utamanya menyangkut sisi kepraktisan bagi pengguna.

Sebagaimana diketahui, masyarakat saat ini sudah terbiasa dengan penggunaan kompor gas yang tinggal putar tombol maka api akan menyala sesuai kebutuhan. Apabila sudah dirasa cukup, maka kompor gas juga dengan mudah akan dimatikan.

Sedangkan penggunaan Kompor TAGS ini, untuk saat sekarang belum bisa dioperasikan dengan cara demikian. Cara menyulutnya masih harus menggunakan pemantik manual misalnya korek. Sementara untuk mematikannya juga lebih sulit menunggu gas dari bahan bakar organik ini habis dengan sendirinya.

“Kalau untuk rumah tangga, masih perlu banyak penyempurnaan. Tapi kalau untuk industri, sebenarnya sudah aplikatif. Karena yang saya dengar Institut Seni Indonesia (ISI) bahkan telah memesan puluhan kompor ini untuk keperluan membatik,” imbuh Hirman.

Sejauh yang diketahui tim ini, kompor TAGS sendiri sejak awal hingga saat ini sudah mengalami beberapa kali perubahan. Utamanya perubahan dalam pemanfaatan material, desain dan ukuran.

Demikian pula dengan bahan bakarnya, mengalami beberapa kali upgrade. Pernah dicoba pemanfaatan bahan baku berupa limbah serutan kayu yang diolah menjadi briket maupun pelet kayu. Mereka juga pernah mencoba memanfaatkan limbah uang kertas dan terakhir menjajal pembuatan pelet dari jerami padi dan sekam.

“Semua kita coba untuk mendapatkan bahan yang semakin baik dan sempurna. Tentu dengan memperhatikan energi yang dihasilkan, kemudahan mendapatkan bahan baku, serta biaya yang harus dikeluarkan untuk mengolahnya,” terang Yunahar.

Awalliyah Nadia Belyni, Yunahar Abdul Rahman, dan Yuhirman. Mereka berhasil memenangkan Lomba Inovasi dan Teknologi Mahasiswa (LITM) 2017, yang digelar oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY

Masih memiliki kelemahan dalam mengoperasikan, namun kompor TAGS ini sebenarnya memiliki kelebihan dibanding kompor pada umumnya. Ukurannya yang kecil, hanya sekitar 18 cm dan lebar 10 cm, kompor ini sangat praktis untuk ditenteng.

Performa kompor dengan bahan bakar terbarukan ini juga cukup baik. Dari ujicoba, kompor berbahan organik ini mampu memasak beras 1 kilogram, hanya butuh waktu sekitar 40 menit.

“Ya memang belum secepat kalau menggunakan kompor gas mas. Tapi itu tadi, jelas lebih efisien dan ramah lingkungan. Apalagi harga gas kan cenderung naik terus,” katanya.

Memanfaatkan Akhir Pekan

Tidak mudah bagi ketiga mahasiswa ini untuk mengatur waktu kuliah dan melakukan riset serta ujicoba-ujicoba. Saat memulai langkah melakukan riset guna mengikuti lomba ini, mereka masih mahasiswa semester 3 di program studi Teknik Perminyakan sehingga masih cukup padat dengan jadwal kuliah.

Menyiasati padatnya jadwal kuliah dan kepentingan untuk riset, maka ketiganya lebih memilih untuk fokus dalam project ini saat akhir pekan, dengan mengorbankan kesempatan untuk berlibur dan bermain.

“Sambil kuliah, kami juga aktif main ke perpustakaan, browsing-broswing di internet dan konsultasi dengan dosen. Tapi kalau akhir pekan, kami bahkan bisa melakukan ujicoba dari pagi sampai sore bahkan malam hari. Koq lama? Memang iya, karena kami harus mengukur berapa lama bahan bakarnya habis, kenaikan suhunya seperti apa dan lain sebagainya. Kan kita harus ikuti terus dari waktu ke waktu,”ungkap Nadia.

Semangat untuk menghasilkan “sesuatu” mampu mendorong ketiga mahasiswa baru ini mengorbankan banyak hal. Bahkan untuk membiayai riset dan ujicoba, tak jarang mereka harus keluar kota termasuk ke Semarang untuk mendapatkan bahan yang dibutuhkan seperti misalnya pelet kayu.

“Kalau biayanya sih tidak seberapa, tapi perjuangannya itu lho. Kadang harus bolak balik keluar kota, karena di Jogja kita cari gak ada,” sambung Yunahar.

Toh perjuangan tak kenal lelah para mahasiswa ini akhirnya terbayar. Gelar juara diraih berikut sertifikat dan tentu hadiah.

“Kalau hadiahnya sebenarnya ya gak besar-besar amat. Tapi kami sangat senang bisa mendapat pengakuan. Kami akan terus menyempurnakan temuan ini sehingga ke depan syukur kalau bisa dimanfaatkan masyarakat, dan kemudian dapat diproduksi secara massal untuk kepentingan masyarakat dan lingkungan,”pungkas Hirman.(SM)