Maju Lagi, GKR Hemas Peroleh Palilah Sultan

138
GKR Hemas menyampaikan keterangan saat silaturahim dengan media di kediamannya Keraton Kilen Keraton Yogyakarta, Sabtu (22/09/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Permaisuri Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, maju lagi mengikuti kontestasi Pemilu 2019 sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari daerah pemilihan (dapil) DIY.

Sultan  HB X pun sudah memberikan palilah atau restu. Ini merupakan keempat kalinya GKR Hemas mengikuti pencalonan DPD RI. Pada Pemilu 2014, dia memperoleh satu juta lebih suara.

“Saya yakin dukungan dari masyarakat cukup baik dan semoga saya amanah menjalankan tugas ini,” tuturnya, Sabtu (22/09/2018), di Keraton Kilen Keraton Yogyakarta.

Sore itu, GKR Hemas sengaja mengundang media untuk bersilaturahim di kediamannya sekaligus tumpengan wiwitan menyongsong masa kampanye Pemilu 2019.

GKR Hemas juga memperkenalkan tim suksesnya, di bawah kendali langsung mantan Sekretaris Daerah (Sekda) DIY yang juga mantan Kepala Dinas PUP ESDM DIY,  Rani Syamsinarsi.

Masuk dalam tim kampanye tersebut ada nama-nama tidak asing lagi. Sebut saja di antaranya Syahbenol Hasibuan maupun Widihasto dari Sekber Keistimewaan DIY.

Lantas apa isi palilah Sultan? Menjawab pertanyaan wartawan tatkala sesi tanya jawab, GKR Hemas menyampaikan pada intinya harus bisa mengukur kemampuan diri karena usia tidak muda lagi.

“Waktu nyuwun palilah (Ngarsa Dalem mengatakan), kira-kira umurmu wis ora enom maneh. Masih mampu atau tidak, sing isa ngukur awakmu dhewe,” tutur GKR Hemas menirukan palilah Sultan HB X.

Baca Juga :  Relawan Diminta Jaga Kesehatan

GKR  Hemas mengakui, sudah 15 tahun belakangan sejak menjadi anggota DPD RI dirinya lebih banyak bertugas di luar rumah, setiap dua bulan di Jakarta dan satu bulan penuh berada di Yogyakarta. Namun demikian dia tetap meluangkan waktu untuk mendampingi Ngarsa Dalem.

Mengenai pertimbangannya sebagai caleg DPD RI 2019-2024, GKR Hemas menyebutkan empat alasan. Pertama, berdasarkan undang-undang tidak ada masalah.

Kedua, dari 2004 sampai 2018 masih banyak perjuangan belum terakomodasi yaitu keseimbangan antara DPD dan DPR RI.

“Saya berharap DPD RI punya kewenangan penuh dan itu sudah terealisasi saat pembahasan UUK DIY pada tingkat pertama dan akhir, walaupun keputusan akhir tetap di tangan pemerintah dan DPR RI,” kata dia.

Alasan ketiga, pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan advokasi masyarakat pinggiran atau marjinal terbukti sangat efektif tertangani ketika menjabat anggota DPD.

Keempat, ada desakan kuat agar mencalonkan lagi. “Dalam beberapa kali pertemuan nasional Kaukus Perempuan Parleman di Jakarta dan kota-kota lain saya menyatakan perempuan harus berani terjun ke dunia politik. Perjuangan perempuan di dunia politik masih sangat panjang,” ungkap GKR Hemas.

GKR Hemas menyerahkan potongan tumpeng diterima Rani Syamsinarsi. (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Ternyata ucapan yang disampaikan pada akhir 2017 tersebut berbuntut panjang. “Ucapan saya ternyata menjadi bumerang buat saya, karena teman-teman di DPD maupun DPR yang saya paksa mencalonkan kembali pada Pemilu 2019, berbalik menuntut saya untuk mencalonkan kembali juga,” paparnya.

Baca Juga :  ACT DIY Kirim Bantuan Tahap Dua ke Lombok

Bermodal dukungan masyarakat dan keluarga terutama izin dan dukungan dari Ngarsa Dalem, jika terpilih kembali lima tahun ke depan GKR Hemas ingin mewujudkan visi dan misinya yakni Generasi Istimewa untuk Indonesia.

Dia mengakui, generasi zaman now atau lebih populer disebut generasi milenial memang lebih cerdas, kreatif dan inovatif.

Sayangnya, generasi doyan gadget atau smartphone itu dikeluhkan banyak pihak terlalu melambung ke langit kurang menginjak bumi.

“Mereka lebih senang dengan budaya asing dibandingkan budayanya sendiri. Ini menjadi kekhawatiran kita bersama. Karena itu, saya mengusulkan generasi istimewa yaitu generasi yang mampu berpikir, berkreasi dan berinovasi global tetapi tetap berkarakter lokal, jati diri bangsanya sendiri,” tambahnya.

GKR Hemas mengatakan, dalam budaya Jogja ada ungkapan bijak jadilah manusia dengan karakter sawiji, greget, sengguh ora mingkuh.

“Karakter ini yang sesungguhnya kita butuhkan dalam rangka membangun generasi istimewa, dari Jogja untuk Indonesia,” tandasnya.

Sedangkan program lain yang bersifat fisik antara lain fokus mengawal pembangunan infrastruktur seperti bandara atau akses-akses jalan menuju destinasi wisata di DIY.

Tak lupa, GKR Hemas juga berpesan kepada masyarakat DIY khususnya  konstituennya agar jangan melakukan kampanye-kampanye negatif lewat media sosial apalagi kampanye hitam, ikutilah aturan yang sudah dibuat penyelenggara Pemilu. (sol)