Makblurr, Debu Beterbangan di Rumah Sukiyah

266
Rumah Margareta Sukiyah (63) di Ngingas, Sedayu dibedah, Rabu (20/9/2017). (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Wajah Margareta Sukiyah (63) berbinar. Mimpinya untuk punya rumah yang lebih layak bakal terwujud sebentar lagi.

Dia dan suaminya Suseno (72) tak perlu khawatir lagi debu sisa Gunung Kelud di genting rumah reyot mereka akan bertebangan di seluruh rumah. Atau ketakutan sewaktu-waktu rumah mereka ambruk karena kayu peyangganya rapuh.

Ya, rumah Sukiyah di RT 05, Dusun Ngingas, Desa Argosari, Kecamatan Sedayu memang sangat memprihatinkan. Rumah tersebut di bagian depan dibangun sebelum gempa dahsyat 2006 atas swadaya dan prakarsa warga sekitar termasuk pihak Gereja Katolik Sedayu.

Sedangkan untuk rumah bagian belakang yang difungsikan sebagai dapur tidak pernah diperbaiki sejak tahun 50-an. Dari pantauan koranbernas.id, jika usuk rumah sudah dimakan rayap begitu juga reng nya. Tiangnya juga berongga serta sudah sangat rapuh.

Karenanya warga sekitar yang mendapat dukungan Polsek Sedayu, Rabu (20/9/2017) melakukan bedah rumah. Bagian blandar harus dipasang penyangga kayu dari bawah. Karena jika atap langsung diinjak saat menurunkan genting, dipastikan akan ambrol dan membahayakan yang bergotong royong.

Saat atap itu dibuka, makblurr debupun beterbangan ke berbagai penjuru. Kalau menurut Sukiyah debu itu sisa Gunung Kelud yang meletus beberapa tahun silam dan belum pernah dibersihkan. Setelah dibongkar, secara gotong royong bapak-bapak polisi dan warga menurunkan genting dengan hati-hati, mencopoti usuk yang tua dan rapuh, kemudian diganti yang baru serta dipasang seng untuk pengganti atapnya.

“Bagaimana mau membersihkan rumah, buat jalan saja saya tidak bisa, kakinya sakit. Rumah ini adalah rumah tabon tinggalan orang tua dan belum pernah saya perbaiki,’”katanya.

Jangankan memperbaiki rumah, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja mereka tidak bisa dan banyak bergantung kepada bantuan Gereja Katolik Sedayu dengan Pendamping Sosial Ekonomi (PSE) Tri Riyani. Tiap bulan Sukiyah dan suaminya Suseno yang menderita kebutaan mendapat jatah beras 10 kilogram dan aneka kebutuhan lain yang berasal dari umat gereja setempat. Selain juga mendapat bantuan dari warga sekitar.

“Kalau bekerja sudah tidak bisa, karena keduanya itu difabel. Jadi praktis tetangga dan gereja yang membantu,” tambah ketua lingkungan, Teguh Sumaryanto.

Untuk bergantung kepada keluarga, terutama anak tidaklah mungkin. Karena sejak menikah tahun 1994, pasangan ini tidak dikaruniai keturunan. Sang suami sebelumnya bekerja buruh tani, namun sejak menderita kebutaan lima tahun silam, Suseno tidak bisa mencari nafkah untuk keluarganya.

Sementara Iptu Agus Supraja SH Panit 1 Bhinmas Polsek Sedayu mengatakan sebelum rumah itu dibedah, Sukiyah sudah mendapatkan bantuan kursi roda dari yayasan Gereja Ganjuran.

“Sedangkan untuk kegiatan hari ini merupakan bentuk kepedulian kami dari Polsek Sedayu terhadap kondisi keluarga Ibu Sukiyah,” kata Iptu Agus.

Untuk pendataan keluarga Sukiyah dilakukan Bhabinkamtibmas Desa Argosari Bripka Murijan yang memang selalu melekat dalam kehidupan masyarakat di wilayahnya. Berbagai persoalan yang muncul kemudian dicatat dan dilaporkan untuk mendapat penanganan dari dinas/instansi terkait. (yve)