Masyarakat Bilingual Cenderung Mencampur Bahasa

390

KORANBERNAS.ID – Peristiwa penggunaan bahasa campuran dalam komunikasi, yang secara keilmuan disebut peristiwa alih kode, merupakan fenomena kebahasaan di dalam masyarakat yang menguasai lebih dari satu bahasa atau masyarakat bilingual. Realitas ini juga menunjukkan fleksibilitas bahasa. Ketika seorang penutur berkomunikasi secara lisan maupun tulis dan ia menguasai lebih dari satu bahasa, maka yang sering terjadi adalah peralihan bahasa. “Peralihan bahasa tersebut bersifat sistematis, yang secara linguistik dapat diberikan pola peralihannya.”

Pendapat itu disampaikan Prof. Dr. Margana, M.Hum., M.A. dalam pengukuhannya sebagai guru besar dalam Bidang Ilmu Linguistik dengan Sub-Bidang Ilmu Linguistik Terapan. Pidato pengukuhan Margana sebagai professor berlangsung Rabu siang (27/9/2017) di depan Rapat Terbuka Senat UNY, di Ruang Sidang Utama Rektorat.

Margana adalah dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (FBS UNY). Pidato pengukuhannya berjudul “Alih Kode dalam Tinjauan Linguistik dan Kebermaknaannya dalam Pembelajaran Bahasa Inggris”.

Menurut Margana, peralihan bahasa itu dilakukan secara sengaja antara lain untuk memenuhi berbagai fungsi , antara lain keberlanjutan komunikasi. Ia memberi contoh, seorang guru bahasa Inggris di sekolah menengah, sering juga menggunakan kata dalam bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris atau sebaliknya, dalam rangka memberikan penjelasan kepada siswa, agar mereka memahami maksud materi ajar yanag disampaikan.

Berbagai forum

Peralihan bahasa atau alih kode, katanya, berlangsung dalam berbagai forum, baik forum resmi seperti forum diskusi, seminar, pembelajaran kelas maupun forum informal seperti dialog antara tukang becak dengan penumpang, tukang cukur dengan pelanggan atau antara pedagang dan pembeli di pasar-pasar tradisional.

“Peristiwa alih kode yang terjadi dalam tindak komunikasi natural dan formal yang melibatkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris ini menarik untuk dikaji, karena kedua bahasa tersebut memiliki fitur-fitur kebahasaan yang berbeda, mulai dari aturan gramatika, cara pengucapan, pengejaan dan penulisannya,” ujarnya.

Margana menjadi guru besar FBS ke 27 atau ke 134 di UNY. Khusus di FBS, jumlah guru besar aktif ada 15 orang. Kini, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UNY memiliki tiga guru besar. Dua lainnya adalah Prof. Suwarsih Madya dan Prof. Sugirin. (iry)