Masyarakat Tak Boleh Berharap Kucuran Danais

231

KORANBERNAS.ID — Tidak salah, penggunaan Dana Keistimewaan (Danais) selama ini ditengarai lebih terfokus pada aktivitas budaya dalam arti sempit. Paling tidak, apa yang terjadi di Kabupaten Kulonprogo dan Sleman, membuktikan hal tersebut. Meski begitu, ada niat untuk memperluas cakupan penggunaan Danais yang tidak melulu terfokus pada aktivitas budaya lagi.

Sekretaris Dinas Kebudayaan Kulonprogo, Jaka Morsita, berpendapat masyarakat tidak boleh hanya berharap kucuran Danais untuk pengembangan budaya setempat. Harus ada greget dari masyarakat sendiri untuk berkembang. “Seni dan budaya harus dihidupkan oleh masyarakat itu sendiri,”  ujar Jaka yang juga seorang seniman ini.

Dia mengakui, pada awalnya anggaran Danais banyak dimanfaatkan untuk pentas jathilan dalam rangka menggali potensi daerah. “Kita gali dan kita bina. Setelah dibina kemudian dilakukan lomba. Masing-masing kelompok binaan harus mengembangkan diri. Yang bagus dia dapat penghargaan,” ujarnya.

Anggaran Danais, salah satunya dimanfaatkan untuk membayar honor para pelaku seni. “Dalam pembinaan seni fragmen wayang orang kolosal Sugriwa Subali di Gua Kuskenda, anak-anak yang ikut nari itu diberi honor Rp 400 ribu lho. Ya ben, ben seneng nari je. Tapi ya njur jangan setiap pentas minta honor. Setelah bisa main bagus ya mandiri lah,” katanya.

Selain pentas, Danais di Kulonprogo juga dimanfaatkan untuk membangun Taman Budaya dan panggung terbuka. “Tahun ini saja masih menambahnya dengan membangun panggung terbuka dan kelengkapannya senilai Rp 34 miliar. Ke depan masih harus membebaskan tanah untuk gedung ini agar selanjutnya tidak usah membayar sewa tanah,” ujarnya.

Dengan panggung terbuka, lanjutnya, bisa pentas dengan lebih murah karena tidak perlu AC. “Infrastruktur penting untuk ajang kiprah seni budaya. Kalau nggak ada gedung yang memadai bagaimana?” ujarnya.

Di Kabupaten Sleman, anggaran Danais salah satunya dimanfaatkan untuk menggali potensi seni dan budaya di Pedukuhan Bromonilan Desa Purwomartani.

“Pedukuhan Bromonilan telah ditunjuk oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman sebagai salah satu kantong budaya yang perlu dikembangkan,” kata Maryono, Kepala Dukuh Bromonilan Desa Purwomartani Kalasan, Jumat pekan lalu.

Baca Juga :  Ganjar Pranowo Minta Para Pendukungnya Bersabar

Salah satu aktivitas budaya di tempat tersebut adalah kirab pusaka Kanjeng Kyai Sinjang Kertas. Dana yang dialokasikan sebesar Rp 30 juta dimanfaatkan juga untuk acara kirab budaya, mulai dari kesenian Srandul, Pameran tosan aji (keris dan tombak), sarasehan tosan aji, kethoprak, karawitan dan jathilan.

Ajukan proposal

Maryono mengakui, tanpa bantuan Danais masyarakat tidak mampu membiayai sendiri kegiatan budaya. “Kalau dulu untuk mendapatkan Danais itu kita ditunjuk dari dinas, tetapi sekarang ini bila ingin mendapatkan bantuan Danais harus mengajukan proposal karena yang mengakses cukup banyak dan bergiliran,” tutur Maryono.

Sedangkan untuk Kabupaten Gunungkidul tahun 2018 ini mendapat gelontoran Danais sebesar Rp 30 miliar. Rencananya, dana tersebut digunakan untuk program kegiatan pada 3 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) meliputi Dinas Kebudayaan, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman (DPUPRKP) dan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunungkidul, Sri Suhartanta, mengaku bersyukur karena alokasi Danais di tahun ini lebih tinggi dibanding anggaran yang diberikan 2017 lalu yang hanya Rp 26 miliar.

Menurut dia, alokasi Danais sudah tertuang dalam program kegiatan di dalam APBDes 2018. “DIPA-nya sudah ada dan dituangkan dalam program kegiatan di tiga OPD,” kata Sri Suhartanta.

Selain itu, kucuran Danais juga digunakan untuk membiayai program kegiatan yang berkaitan dengan kelembagaan, urusan pertanahan dan tata ruang. “Untuk pastinya kami sedang melakukan pendataan terhadap alokasi Danais di masing-masing OPD,” ujarnya.

Gelontoran Danais tersebut  diakui muaranya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  Hanya saja, semuanya perlu proses dan tidak bisa dinikmati secara instan.

Sekda Gunungkidul, Drajat Ruswandono, mengakui selama ini ada tuntutan masyarakat agar Danais bisa sampai ke desa dan bisa meningkatkan kesejahteraan.

Baca Juga :  Reumatik Bisa Sebabkan Jari Keriting

Ada juga harapan regulasi pengelolaan Danais bisa sinergis antara provinsi dan kabupaten. “Makanya kami terus berupaya agar Danais bisa mensejahterakan masyarakat,” katanya.

Makin dimanja

Kucuran Danais di Gunungkidul juga dimanfaatkan untuk kegiatan seni dan budaya. Melalui Danais inilah, berbagai seni budaya yang sebelumnya tenggelam, kini terus diangkat bahkan makin dimanja.

“Tahun 2018 ini kami dapat bagian Danais sekitar Rp 8 miliar. Dana ini akan kami gunakan untuk berbagai kegiatan yang mengarah pada pelestarian dan pengembangan seni budaya di Gunungkidul,” kata Agus Kamtono, Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkdul.

Berbagai kegiatan yang akan dibiayai Danais di antaranya pengadaan 7 perangkat gamelan, atraksi seni budaya dan yang lain.

Dia mengakui, Dinas Kebudayaan tahun ini sebenarnya mendapat Danais Rp 15 miliar, yang rencananya untuk pembangunan bangunan pada kawasan taman budaya.

“Namun melalui izin bupati dan gubernur, dana ini akan dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman (DPUPRKP) Pemkab Gunungkidul, Karena secara teknis, OPD ini yang paling berkompenten,” tuturnya.

Untuk pembangunan Taman Budaya yang akan menempati lokasi di lingkar utara, dekat dengan simpang empat Siyono Desa Logandeng Kecamatan Playen ini, diakui nantinya akan menelan dana hingga Rp 106 miliar.

“Tetapi pembangunannya dilakukan secara bertahap. Tahun ini baru tahap awal pembangunan fisiknya,” ujarnya.

Sedangkan Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Gunungkidul, Winaryo, mengaku  OPD yang dipimpin mendapatkan jatah alokasi Danais. Untuk tahun ini, pihaknya mendapatkan dana sebesar Rp 7,1 miliar. “Dananya sudah kami masukkan program kegiatan di 2018,” katanya.

Menurut Winaryo, alokasi sebesar Rp 7,1 miliar akan digunakan untuk beberapa kegiatan seperti sertifikasi Sultan Ground, penataan kawasan Sokoliman dan penanganan permasalahan tanah desa.

Selain itu, dana tersebut juga digunakan untuk pembebasan lahan untuk area parkir di obyek wisata Desa Nglanggeran hingga penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Kawasan Siung-Wediombo. (wid/ila/ryo)