Mayat Bayi Itu Diberi Nama Ajeng Kliwon

382
Warga Dusun Ngepek, Desa Argodadi, Sedayu mengantar jenazah bayi malang Ajeng Kliwon ke pemakaman setempat, Minggu (17/09/2017) petang. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Tangis Yanti (45) pedagang makanan dan minuman yang berjualan di lokasi penambangan pasir Sungai Progo, Dusun Ngepek, Desa Argodadi, Kecamatan Sedayu pecah tatkala ditemukan sesosok mayat bayi tidak jauh dari tempatnya berjualan, Minggu (17/09/2017) sore.

Bayi berjenis kelamin perempuan tersebut ditemukan diantara ikan-ikan yang mati serta sampah yang menumpuk.

Bahkan Yanti sampai menjerit dan tangisnya tak putus-putus tatkala jenazah bayi itu diangkat oleh petugas dipimpin Iptu Kasmini, Ka Spkt Polsek Sedayu dengan disaksikan ratusan warga setempat, termasuk ketua RT 15 Basiran.

Kulo mboten kenal niku bayine sinten. Nanging kulo  trenyuh. Kowe kok mesakke banget to nduk…,” ujar Yanti kepada koranbernas.id yang juga hadir di pemakaman bayi malang  tersebut menjelang maghrib.

Ya. Bayi mungil yang menurut pemeriksaan petugas medis berusia 6 bulan dalam kandungan itu ditemukan anak-anak yang bermain di Sungai Progo. Mereka  kemudian lapor ke RT Basiran dan diteruskan ke Polsek Sedayu.

“Selama saya menjabat RT 15 tahun, ini merupakan kejadian pertama. Dan saya prihatin, semoga tidak ada lagi kejadian serupa. Sungguh kasihan dan malang sekali anak ini,”kata Basiran yang ikut mensholatkan sang bayi.

“Dan untuk mengenang karena hari ini hari Minggu Kliwon, maka kita namai Ajeng Kliwon seperti pesan sesepuh warga. Dinamakan Ajeng karena dia   perempuan,”imbuhnya.

Peristiwa penemuan mayat bayi ini sontak mengundang empati warga sekitar. Tanpa dikomando, warga yang sudah mendapat izin dari kepolisian kemudian menyiapkan prosesi pemakaman.

Secara iklas dan swadaya, warga ada yang menyiapkan kain mori untuk membungkus mayat bayi tersebut. Ada pula yang memberikan kain jarit untuk menggendong dan menutup saat prosesi pemakaman dan ada yang menggali makam. Sebagian lain menyiapkan air minum untuk yang bekerja.

Setelah dilepas oleh Kepala Dukuh Sugeng Saryanto, Ajeng Kliwon dengan digendong menggunakan jarit warna coklat oleh Basiran menuju peristirahatan terakhirnya. Ratusan warga termasuk anak-anak hingga orang dewasa datang melayat.

Prosesi pemakanan diawali dengan doa dan dilanjutkan  seorang ibu-ibu sepuh  membuka jalan dengan cara menyapu sebagai simbol agar perjalanan ke sang Khalik dilancarkan.

Sepanjang perjalanan sekitar 200 meter, warga mengumandangkan sholawat dan doa-doa. Begitu tiba di pemakaman, bayi mungil itu dimasukkan liang lahat setelah sebelumnya dikumandangkan Adzan oleh  tokoh agama setempat.

Lagi-lagi warga yang ikut  ke pemakaman tidak kuasa menahan haru. Nampak beberapa menetes air matanya saat memberikan  penghormatan terakhir kepada sang jabang bayi yang hingga kini belum diketahui orang tuanya itu. Gundukan tanah basah dan tancapan payung kertas pun menjadi “selimut” untuk Ajeng Kliwon dalam istirahat abadinya. Selamat jalan Ajeng. (Surya Mega)