Mbah Petruk

159

ADA apa dengan Gunung Merapi? Bila pertanyaan ini diajukan kepada kalangan masyarakat yang suka pada hal-hal mistis dan gemar mengutak-atik pertanda alam, boleh jadi jawaban atas pertanyaan tadi bisa sangat beragam. Apalagi, aktivitas gunung api paling aktif di Indonesia itu, berlangsung secara kasat mata pada medio Mei 2018. Tahun ini sampai tahun depan adalah tahun politik; maka aktivitas vulkanik Merapi dimaknai sebagai pertanda yang berhubungan dengan jagat politik.

Boleh jadi, yang pro kepada kubu oposisi akan memaknai sebagai pertanda ganti penguasa. Sementara mereka yang pro kepada pemerintah sekarang memaknai yang sebaliknya. Pasti banyak argumentasi yang menyertai pendapat mereka.

Kalau pertanyaan yang sama diajukan kepada kalangan yang bergerak di bidang sosial, kebencanaan, SAR dan semacamnya, apa yang ditunjukkan oleh Gunung Merapi beberapa waktu lalu sebagai pertanda mereka harus mulai bersiap-siap menyongsong datangnya bencana alam gunung api. Faktanya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Jawa Tengah dan Provinsi DIY, sudah mengambil langkah-langkah awal. Di Kabupaten Magelang dan Sleman, bahkan sudah terjadi pengungsian penduduk lereng Merapi, walau tidak lama.

Bagi masyarakat tradisional di lereng Gunung Merapi, aktivitas vulkanik itu pun ditanggapi beragam. Ada yang bergegas mengungsi karena trauma peristiwa letusan besar Merapi 2010. Ada pula yang sekadar keluar rumah kemudian menikmati gumpalan gas bercampur debu yang membumbung dari puncak gunung. Bagi sebagian yang lain, mereka merasa tidak perlu cemas karena belum ada pemberitahuan dari Mbah Petruk, tokoh mistis yang diyakini sebagai penunggu Gunung Merapi.

Baca Juga :  Lebaran

Banyak pula yang mengabadikan peristiwa letusan freatik Gunung Merapi, yang beberapa kali terjadi sejak 11 Mei 2018. Video dan foto letusan itu kemudian diunggah di berbagai media sosial. Agar semakin menyeramkan, diunggah pula berbagai potongan video yang sama sekali tidak berhubungan dengan aktivitas vulkanik Merapi bulan Mei 2018. Banyak foto lama ikut diunggah dan dibumbui keterangan bahwa itu aktivitas Gunung Merapi. Padahal, bukan sama sekali.

Agar foto dan video lebih seru, gumpalan gas bercampur debu ke langit, dipatut-patutkan dengan sketsa wajah almarhum Mbah Marijan, atau sketsa wajah raksasa, atau yang lain lagi.

***

ADA pula tokoh pengamat sekelas Mbah Rono, yang ikut berpendapat bahwa Gunung Merapi telah mengalami perubahan karakter. Oleh karena itu, model aktivitasnya tidak lagi dapat didekati dengan cara lama. Padahal, siaran resmi dari Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan, tidak ada perubahan karakter atas perilaku Gunung Merapi. Letusan freatik termasuk bagian dari model aktivitas Gunung Merapi. Hal yang sama, dulu pernah terjadi.

Sekretaris Badan Geologi, Kementerian ESDM, Antonius Ratdomopurbo menegaskan, karakter Gunung Merapi sama sekali tidak berubah. Dari zaman Belanda sampai sekarang, aktivitas Merapi memang sama. Penyebabnya, sumber magma Merapi dari dulu sampai sekarang tidak pernah bergeser. Aktivitas vulkanik di permukaan, memang dipengaruhi kondisi permukaan atau pada kisaran kedalaman 2000 meter dari puncak gunung, atau pada sekitar elevasi 1000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Baca Juga :  Perang Politik

Pasca erupsi 2010, Gunung Merapi memang memasuki fase baru. Bila skenario berjalan linier, magma dari perut gunung sedang dalam perjalanan naik ke permukaan. Fase ini akan diikuti dengan proses pembentukan kubah lava. Dan karena tidak ada lagi sumbatan material di jalur magma, maka yang akan terjadi kemudian adalah lelehan lava pijar yang keluar dari puncak gunung. Kapan terjadi erupsi magmatik yang diikuti awan panas dan menjadi ciri khas Merapi, tentu masih lama. Butuh waktu panjang menuju ke sana.

Memahami Gunung Merapi secara utuh, agaknya memang memerlukan energi besar. Bahkan, belajar tentang Merapi bagi manusia penghuni kaki gunung, harus dilakukan sepanjang waktu. Karena, aktivitas geologi jauh memakan waktu lebih lama dari umur manusia. Erupsi besar Gunung Merapi tahun 1930, hanya disaksikan oleh sangat sedikit penghuni kaki Merapi yang masih hidup pada masa krisis Merapi 2010. Tanpa rekayasa serius pembelajaran tentang Merapi, hanya akan membuat warga lereng Merapi terkaget-kaget.

Mengandalkan Mbah Petruk, tentu sudah bukan saatnya lagi. ***

(Tulisan ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi No. 19/2018, 29 Juni – 11 Juli 2018).