Medan Tempur Seni Rupa Tak Bertepi

341
Ngrumpi Si Penjual Jamu karya Bowo Purwadi. (istimewa)

KORANBERNAS.ID – Sejumlah 12 perupa tiga wilayah kultural (Jakarta-Yogya-Surabaya) memamerkan karyanya di Galeri Tembi Rumah Budaya Yogyakarta pada 1-7 Juni 2018.

Pameran bertajuk We Ar{t}e Here ini buah kerja dari jaringan yang mereka bangun untuk terus-menerus mendialogkan proses kreatif dan pemikiran segar dalam menjawab riuh rendah wacana dan paradigma kesenirupaan saat ini.

“Sesungguhnya pameran ini ibarat kami memasuki medan tempur kesenirupaan yang tak bertepi. Tanpa batas,” kata Eiwand Suryo, salah seorang peserta pameran.

Mereka tidak ingin terjebak dalam pusaran dominasi katagori dan paradigma. Ke-12 perupa itu adalah Anang Prasetya (Tulungagung), Aam Artbrow (Gresik), Basuki Ratna Kurniawan (Madiun), Faried (Bekasi), Bowo Purwadi (Yogya), Edy Kuken (Yogya), Sarjana (Yogya), Hidayah Wachi (Thaliland), Itta Ernawati (Yogya), Pramudya Ananta Pasa (Surabaya), Eiwand Suryo (Yogya), Subeki (Gresik). Setelah Yogyakarta mereka akan pamerkan karyanya di Jakarta dan Surabaya.

Pameran dibuka oleh Purwadmadi, seorang wartawan senior dan pekerja budaya. Sebagai pekerja budaya Pur, demikian panggilannya, mempunyai perhatian yang seriur terhadap seni rupa. Dia juga sudah menulis beberapa novel dan kumpulan puisi berbahasa Indonesia maupun Jawa.

Fight To Vote karya Aam Arbrow. (istimewa)

Anang Prasetyo, salah seorang perupa yang ikut pameran ini menyampaikan, pergulatan di wilayah pemikiran menghasilan wacana, paradigma.

Pemikiran yang berlandaskan worldview tertentu, akhirnya mewujud  meluas dan mendalam. Sementara di sisi lain, dialektika di wilayah jiwa menghasilkan endapan-endapan karya.

“Dengan proses tertentu, mediumisasi pemikiran dan perasaan di jiwa yang beragam, akhirnya imajinasi tersebut, dalam konteks kesenirupaan, menjadi sesuatu karya yang visualistik nan estetik,” kata Anang Prasetyo.

Purwadmadi menambahkan, perupa yang berasal dari kota berbeda, bahkan ada satu perupa dari Thailand, bukan hanya sekadar  berinteraksi secara fisik, melainkan dari segi karya masing-masing saling bersinergi.

Negeri Tanah Emas karya Anang Prasetyo. (istimewa)

“Interaksi karya dari masing-masing perupa dari kota yang berbeda, menunjukan masing-masing perupa dari daerahnya terus berkarya, dan mereka bertemu melalui karya,” kata Purwadmadi.

Dia menyampaikan garis-garis dan warna dari masing-masing perupa yang pameran, memberikan nuanasa yang berbeda.

“Sesungguhnya, melihat karya rupa sekarang tidak haruas merujuk aliran pada pasa lalu, sehingga kita menyebutnya sebagai abstrak, dekorarof dan seterusnya. Bagi saya ekspresi dari perupa-perupa muda ini menandakan gairah berkaryanya sangat besar, dan karya-karya yang dipamerkan merupakan hasil dari gairah itu,” ujar Purwadmadi. (sol)