Melihat Sejarah Garis Indonesia di Tugu Katulistiwa

227
Tugu Katulistiwa di Kalimantan Barat (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Tugu Katulistiwa di Pontianak tetap menjadi salah satu obyek wisata andalan Kalimantan Barat. Hal itu terjadi karena daerah yang terkena lintasan garis katulistiwa di dunia bisa dihitung dengan jari. Setiap hari pengunjung dari berbagai daerah berdatangan ke sana.

“Rata-rata lebih dari 100 orang berkunjung ke sini setiap hari. Kalau liburan sekolah, jumlahnya lebih banyak lagi,” kata Sutarmi, karyawati PT Pengelolaan Tugu Katulistiwa kepada koranbernas.id, Sabtu (04/11/2017) disela melayani tamu yang terus berdatangan.

Pengunjung Tugu Katulistiwa mendirikan telur. (arie giyarto/koranbernas.id)

Selain melihat tugu Katulistiwa, pengunjung juga bisa foto dengan rekayasa posisi tangan sehingga foto akan menggambarkan seolah-olah memegang bola dunia di pucuk Tugu Katulistiwa. Mereka juga sering mencoba mendirikan telur. Menurut Sutarmi, telur itu bisa berdiri karena pertemuan titik nol derajat lintang Utara dan Selatan serta pengaruh magnet bumi.

“Memang harus konsentrasi sampai telur berada di titik magnet bumi,” kata Sutarmi.

Banyak yang berhasil, tapi tak sedikit pula yang gagal. Sayangnya, bagi yang gagal kemudian merasa resah karena menganggap dia tak beruntung.

“Saya tidak berhasil mmbuat telur berdiri,” kata Yeny, wisatawan asal Bogor dengan wajah cemas.
Apalagi dia juga pernah gagal masuk diantara dua pohon beringin di Alun-alun Kidul Yogyakarta ketika dia berkunjung ke Yogya beberapa waktu yang lalu dan sempat “mengadu keberuntungan”.
Sutarmi sendiri menjelaskan hal itu tidak berkait dengan keberuntungan.

Setiap hari pihak pengelola menyediakan sepuluh butir telur ayam. Tetapi rata-rata tiga hari sekali telur diganti karena pecah.

“Banyak pengunjung yang curang dengan mengetukkan pantat telur dengan harapan bisa berdiri,” kata Sutarmi. Itu dilakukan kebanyakan oleh remaja. Alhasil telur itu hanya dibuang.

Kemampuan untuk bisa membuat telur berdiri sampsi radius 120 meter dari bangunan Tugu, sampai pinggir Sungai Kapuas. Menurut Sutarmi memang belum ada penelitian, tetapi sudah dicoba dan ternyata berhasil.

Obyek wisata tersebut saat ini tengah dalam pembenahan. Diantaranya menggeser lokasi parkir. Juga membangun jalan lebar menuju pinggir Kapuas berkait rencana akan dioperasionalkannya kapal wisata. Juga akan dibangun tempat kuliner serta taman. Sehingga bila projek ini selesai, kawasan Tugu Katulistiwa tersebut akan lebih menarik.(yve)