Membaca Medsos: Mana Bohong, Mana Benar?

Oleh: A.M. Susilo Pradoko, Dosen FBS & Pascasarjana UNY

217
AM Susilo Pradoko

MASYARAKAT sering terombang-ambing, karena mudah percaya dengan berita bohong. Sebagian masyarakat tidak lagi bisa membedakan mana berita bohong dan mana berita yang benar, mana foto/video yang benar dengan mana foto/video yang sudah dimontage. Kesemua kejadian berita bohong, hoax berakibat pada rusaknya kekeluargaan antarmasyarakat, desa, kampung, suku, agama, kelompok sosial, juga merusak sendi-sendi kesatuan dan persatuan. Masyarakat masa kini disebut sebagai masyarakat hiperrealis, praktik penataan tanda-tanda mengarahkan konsumsi akan gambar, fakta, dan informasi. Konsumsi ini menyamakan yang riil dalam tanda-tanda riil, menyamakan sejarah dalam tanda-tanda perubahan (Haryatmoko, 2016).

Penataan teks dan tanda-tanda termasuk di dalamnya adalah kata, gambar, film, animasi dibuat sebagai sulaman (bricolour), montage gambar, film menjadi retorika alur pikir yang runtut sedemikian rupa, sehingga penataan teks dan tanda-tanda tersebut dipercayaai sebagai kebenaran. Penataan hoax dengan cara demikian inilah yang mengakibatkan massa mempercayaai hoax sebagai kebenaran. Ketika hoax diakui sebagai kebenaran, tertanam dalam pola pikir massa, maka terjadi patologi sosial mengancam sara. Karenanya sangat perlu mencerdaskan massa untuk mampu secara mandiri menyeleksi mana berita yang bohong dan mana berita yang benar.

Hermeneutika adalah ilmu untuk menafsirkan teks yang menghasilkan pengungkapan makna. Semiotika adalah ilmu tentang tanda-tanda yang menghasilkan makna. Hermeneutik-semiotika adalah kombinasi dua tradisi keilmuwan guna menafsirkan montage, anyaman rakitan yang berupa perpaduan maupun secara tersendiri teks, gambar, film, foto, arca, animasi yang dijalin dalam suatu kerangka retorika sosial.

Baca Juga :  Dinasti, Korupsi dan Pilkada

Proses membaca secara dengan kajian hermeneutic berguna untuk memahami makna dengan cara melihat berbagai aspek yaitu: penulis, lingkungan, penggemar/pengguna, pembaca dan teks lain (Ricoeur 1982 dalam Hoed 2011). Cara ini diadopsi dalam kerangka kita membaca teks di media sosial. Kita perlu memahami, siapa sebenarnya penulis teks medsos ini, bagaimana lingkungan kehidupan pengarang/penulisnya, bagaimana konteks sosial saat tulisan dibuat, siapa penggemar penulis ini, siapa pembaca teks ini, dan yang terakhir adalah membandingkan bagaimana teks yang lain menuliskan permasalahan yang sama. Penelusuran berbagai aspek tersebut merupakan “pisau analisis” untuk mengaji lebih dalam tujuan retorika teks yang dituliskan si pengarang. Penelusuran ini menjadi pertimbangan, apakah tulisan/teks yang dipaparkan itu merupakan pembohongan publik atau pemaparan fakta yang berguna bagi pembaca. Semiotika mampu mengungkap tanda-tanda yang memiliki tujuan yang konstruktif membangun, bagi masyarakat. Namun semiotika melalui proses semiosis juga merupakan suatu cara yang sangat efektif untuk membohongi masyarakat (Umberto Eco (1976).

Pembohongan publik dapat berupa jalinan alur pilihan kata atau alur alinea yang membentuk retorika teks/gambar. Jalinan teks dan gambar mampu membuat persuasi untuk mempengaruhi sikap individu. Jalinan, montage gambar atau foto perlu dicermati paparan konstruksi seluruh tampilan gambar/foto yang mendukung serta komposisi urutan retorika gambar/foto tersebut. Harsanto Prayanto Widyo mengungkapkan, bahwa unsur-unsur anatomi gambar/foto meliputi: headline, sub headline, ilustrasi, body copy dan closing (2016: 17). Proses pencermatan gambar tersebut antara lain, apakah ilustrasi yang ditampilkan sesuai dengan saat fakta kejadian, apakah mengabungkan dengan cara copy paste pada kejadian lain, apakah merupakan komposis foto asli atau mengganti bagian-bagian gambar namun disusun sedemikian sehingga tampak asli.

Baca Juga :  Amputasi KPK

Pencermatan kritis dalam membaca teks dilakukan melalui penelusuran pemilihan kata/gambar dan cara merangkai komposisi. Aspek-aspek mana yang ditonjolkan dan aspek-aspek mana yang dilemahkan atau disembunyikan. Pilihan kata/gambar ini memampukan pembaca untuk menebak rambu-rambu arah tujuan penulisan retorika teks/gambar. Perlu dibuat pula kemungkinan-kemungkinan makna teks lain, dengan cara merekonstruksi gambar/teks secara berbeda, sehingga mampu melihat retorika teks dalam arti yang berbeda.

Semoga masyarakat tidak lagi mudah dibohongi oleh berita media sosial dengan cara mengkaji terlebih dahulu secara hermeneutic. Konstruksi foto, gambar, video ditelusuri secara semiotic, sedangkan perpaduan berita dan gambar/video ditelusuri terlebih dahulu secara hermeneutik-semiotika. *** (editor: Putut Wiryawan)