Membangun Kemerdekaan Melalui Gerakan Membaca

142

SEBENTAR lagi akan diperingati Hari Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus. Perayaan untuk menyambut momentum ini biasanya dilakukan dengan mengadakan perlombaan di berbagai desa yang tentunya akan menambah kemeriahan.

Hari Kemerdekaan merupakan salah satu bukti syukur bangsa ini terhadap jasa-jasa yang telah dilakukan para pahlawan. Selain itu, kita juga harus melakukan refleksi terhadap diri sendiri, ketika semangat juang para pahlawan telah dikorbankan. Salah satunya dengan banyak membaca. Hal ini penting karena dengan membaca, kita dapat mengetahui sejarah para pahlawan yang menghantarkan kita sampai kepada kemerdekaan.

Sebut saja tokoh yang sering kita dengar dan menjadi pelopor kemerdekaan, yaitu Soekarno dan Hatta. Keduanya juga sangat senang membaca dan menulis. Banyak gagasan yang muncul dari mereka, sehingga Indonesia terbebas dari para penjajah.

Baca Juga :  Dualisme Pemilu

Maka dari itu, kegiatan membaca sangatlah penting bagi generasi mendatang. Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan dan cita-cita kemerdekaan pada UUD 1945 Pembukaan alinea IV, yang berbunyi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Begitu agung dan luhurnya tujuan dan cita-cita yang telah dirumuskan oleh para pahlawan bangsa ini. Sepatutnya kita sebagai anak bangsa, harus banyak membaca untuk memajukan pendidikan, perekonomian, maupun berbagai sektor lain.

Dimulai dari faktor keluarga, kebiasaan membaca dapat ditumbuhkan sedari kecil melalui peran orang tua, sehingga anak-anak dapat terbiasa membaca. Di samping itu, peran masyarakat juga dibutuhkan dan dapat dilakukan dengan cara membangun sebuah Taman Bacaan Masyarakat, sehingga dapat mencetak generasi yang sadar membaca didorong majunya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Selain itu, masyarakat juga bisa mengadakan berbagai lomba menulis, menggambar, maupun membaca dalam memperingati kemerdekaan.

Baca Juga :  Menjaga Keistimewaan

Guru juga ikut andil dalam membangun gerakan membaca ini, mulai dari ikut menerapkan Gerakan Literasi Sekolah, maupun mengajak para siswa ke perpustakaan saat jam kosong. Kemungkinan besar siswa akan terbiasa untuk membaca dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Terakhir, yang tak kalah penting adalah peran dari pemerintah. Hal ini dapat dilakukan dengan dukungan berupa dana maupun sumbangan buku-buku untuk perpustakaan dan taman bacaan di seluruh penjuru Indonesia. Tentunya semua akan berjalan lancar jika saling bersinergi untuk melahirkan anak bangsa yang cerdas dan memajukan pendidikan bangsa sesuai tujuan dan cita-cita Indonesia. Semoga! ***

Penulis adalah mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.