Membangun Usaha Tanpa Hutang. Mungkinkah?

297
Narasumber memberikan keterangan dalam jumpa pers di Kafe Jo, Bugisan, Senin (15/01/2018) terkait seminar “Sukses Mengembangkan Harta Tanpa Riba”. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Banyak orang memulai usaha dengan cara berhutang. Tidak jarang pula yang kemudian jatuh dalam jerat hutang tadi ataupun terbelenggu riba. Dari 400 pengusaha muslim di DIY, ternyata berdasarkan data 90 persen berhutang. Maka banyak yang kemudian menjalankan usaha, pikiranya terbagi antara membangun usaha agar berkembang dengan memikirkan cicilan setiap bulan.

“Berdasarkan data yang kami rekap, ada 90 persen pengusaha muslim di DIY yang berhutang dan terkena riba. Untuk itulah kita mengupayakan agar mereka bisa bergabung dengan kami,”kata Ketua Komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR), Rasda Tajuddin didampingi pengusaha muslim, Firmansyah dalam jumpa pers di Kafe Jo, Bugisan, Senin (15/01/2018).

Jumpa pers digelar dalam rangka seminar internasional bertajuk “Sukses Mengembangkan Harta Tanpa Riba” di Hotel Grand Dafam Syariah Jalan Janti, Gedungkuning, Banguntapan Rabu (17/01/2018) dan Kamis (18/1/2018) mendatang. Seminar ini menurutnya sudah gelombang kedua.

Baca Juga :  ADBI Pilih RSUD Sleman Sebagai Lokasi Kunjungan

Berdasarkan pengalaman seminar gelombang pertama, ternyata ada 60 persen yang kemudian mempraktekkan ilmu yang di dapat dalam seminar dan bisa keluar dari jerat hutang. Sedangkan 40 persen masih dalam tahap berusaha keluar dan perlu banyak menambah ilmu.

“Sehingga untuk tahap kedua ini seminar kita gelar menjadi dua hari. Banyak pertanyaan yang terlontar saat seminar, mungkinkah bisa keluar dari jerat hutang? Jawabnya tentu saja bisa,” kata Rasda.

Seperti dirinya sebagai pengusaha properti dan pengusaha kafe WIFI ini pernah terjerat hutang hingga Rp 9 miliar dalam kurun 1,5 tahun hutangnya bisa lunas.

“Alhamdulillah Desember lalu hutang saya lunas. Rasane plong. Biasanya saya setiap bulan memikirkan cicilan, sekarang sudah tidak lagi,” jelasnya.

Adapun sistem yang digunakan untuk keluar dari jeratan hutang yang mengandung riba adalah dengan syirkah.

”Syirkah artinya kerjasama. Misalnya yang satu punya skill satunya punya modal, maka bisa dikerjasamakan dan saling menguntungkan. Syirkah merupakan berbisnis paling sempurna sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW,” katanya.

Baca Juga :  Ribuan Petani Tebu Yogya Bersiap Serbu Istana

Tentu sebelum menjalankan syirkah, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk keluar dari jerat hutang. Misalnya mengumpulkan keuntungan untuk membayar hutang ataupun menjual aset guna menutup hutang yang dimiliki.

“Setelah itu memulai dari nol lagi dan menggunakan sistem syirkah dengan bermitra bersama orang lain. Banyak hal lain yang bisa dipelajari akan dibahas dalam seminar dua hari tersebut,”katanya.

Untuk seminar ini kuotane 200 orang, bukan hanya dalam negeri, namun juga ada seminar dari luar negeri.

Sementara Firmansyah mengatakan adanya MTR ini memang banyak membantu para penguasaha untuk keluar dari jerat hutang.

“Saya saat ini sedang proses untuk keluar dari jerat hutang,” tandasnya. (yve)