Memprihatinkan, Banyak Anak Tak Kenal Lagi Wayang

179

KORANBERNAS.ID — Guru besar Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) UNY, Prof Dr Suminta A Sayuti merasa prihatin sebagian besar anak-anak sekarang tidak kenal lagi pada wayang. Padahal wayang bisa menjadi media pembelajaran banyak hal, selain kecintaan pada budaya nenek moyang. Di antaranya menanamkan nasionalisme, menumbuhkan rasa kebangsaan, nilai kejujuran tatakrama, kecintaan pada negara. Meskipun dia menyadari konten ceritanya perlu disesuaikan dengan alam pikiran anak serta usia.

Hal itu disampaikan menjawab pertanyaan koranbernas.id sesaat setelah dia tampil sebagai pembicara pada Diskusi Kebangsaan ke XII yang digelar oleh Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta (PWSY) Senin (22/01/2018) di Rumah Budaya Tembi, Sewon Bantul. Diskusi kali ini mengambil tema Kebangsaan Dalam Dunia Pewayangan. Selain Prof Suminta, diskusi juga menampilkan Drs H Idham Samawi, anggota DPR RI yang juga mantan Bupati Bantul sebagai pembicara.

Baca Juga :  Siswa SMPN 3 Bantul Nyoblos di Pemilos

Cerita wayang konvensional yang penuh intrik, peperangan, saling membunuh dengan cara sangat keji perlu diubah dengan konten yang edukatif dan mencerahkan daya pikir anak. Untuk itu perlu keberanian dalang untuk melahirkan lakon carangan yang anti kekerasan. Meskipun sebenarnya pesan yang ditampilkan pada lakon wayang itu mengandung nilai ngundhuh wohing pakarti.

Artinya setiap orang akan menerima karma atas perbuatannya. Sosok yang jujur, tidak serakah, selalu berbuat benar akan muncul sebagai pihak yang dimenangkan. Sebaliknya sosok yang serakah, jahat, iri dengki dan ingin mencelakakan orang lain yang dianggap musuh akan berakhir sebaliknya.

“Namun yang tersurat di balik lakon tersebut belum mampu ditangkap alam pikiran anak-anak,” ujarnya.

Baca Juga :  RSUP Dr Sardjito Tambah 24 Kamar VVIP

Cerita yang mendidik dan mencerahkan bukan hanya untuk anak-anak yang seting mendengarkan wayang. Tetapi juga untuk para dalang cilik yang akan nenyebarluaskan.

“Di UNY setiap tahun ada festival dalang cilik. Cerita carangan yang disiapkan pun juga disesuaikan. Misalnya dalam perang, tokoh tidak sampai mati,” kata Suminta yang dalam diskusi mrngenakan blangkon meski busananya celana panjang dan kemeja.

Dia mengapresiasi sekolah mulai TK dan SD yang mengenalkan sosok wayang meski tingkatnya masih sangat sederhana.

“Karena wayang memang seyogyanya dikenalkan sejak dini. Hanya saja wayang sebagai tontonan dan tuntunan, jangan lupa tatanannya harus dipegang,” kata Prof yang hanya mengantongi HP jadul ini. (yve)