Menang PTUN, Lurah Suradi Lega

377
Lurah Temuwuh, Suradi (paling kanan), mengikuti sidang di PTUN DIY (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Menjalani persidangan setiap hari Rabu di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) DIY selama hampir tiga bulan,  benar-benar menguras energi, pikiran dan perhatian Lurah Temuwuh Kecamatan Dlingo Bantul, Suradi.

Segala tahapan sidang selalu diikuti oleh ayah dua putra tersebut. Karena Suradi ingin mengetahui jalannya proses persidangan menyusul pelaporan yang dilakukan oleh peserta ujian seleksi pamong yakni Tika Puspitasari peserta seleksi calon carik desa dan Sunaryanto peserta tes calon Kasi Pelayanan, ke PTUN DIY.

Sampai akhirnya ‘drama’ itu berakhir  dengan kemenangan dirinya dan tim seleksi (timsel) setelah majelis hakim menolak semua gugatan yang diajukan penggugat dalam sidang putusan di PTUN Jalan Janti Banguntapan, Rabu (27/09/2017) siang. Majelis hakim juga membebankan biaya perkara kepada pemohon.

“Saya merasa lega… plong, kendati tadi sempat tegang,” kata Lurah Suradi kepada koranbernas.id usai mengikuti persidangan putusan.

Dirinya memang mengaku tegang dalam sidang pembacaan putusan sekitar 60 menit tersebut, karena menentukan nasib dirinya dan timsel maupun dua pamong yang telah dilantik berdasarkan SK nomor 04 untuk carik desa dan SK 05 untuk posisi Kasi Pelayanan.

“Dengan kemenangan ini saya akan lebih fokus lagi bekerja demi kepentingan masyarakat di Temuwuh,” katanya.

Kepada pihak penggugat, termasuk Wahyudi serta Bowo, dua orang perangkat desa yang ikut barisan pendukung penggugat, Suradi minta agar kembali saling bergandengan untuk memajukan desanya.

Tidak perlu ada dendam, amarah atau ewuh pakewuh. “Pokoknya bekerja seperti biasa. Layani masyarakat sebaik-baiknya,” kata Suradi yang selalu mengikuti sidang namun tidak melalaikan kewajiban sebagai pimpinan di Temuwuh.

Berdasarkan  informasi di lapangan, pada seleksi akhir tahun 2016, pihak ketiga yakni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengeluarkan hasil tes. Namun tampaknya hasil tes tersebut menimbulkan ketidakpuasan, termasuk tim seleksi (Timsel) atau panitia sembilan di Desa Temuwuh.

Hingga akhirnya berujung mundurnya Wahyudi dari keanggotaan Timsel dan kebetulan yang bersangkutan sekarang ini menjabat Kasi Pemerintahan Desa Temuwuh. Karena  tidak kompletnya tim sembilan itulah, maka Camat Susanto menolak memberikan rekomendasi kepada Lurah Suradi untuk nama dua orang yang akan dijadikan pamong di desa itu.

Susanta  sendiri sempat menjadi saksi dalam sidang di PTUN. Namun begitu Camat Dlingo menolak memberikan rekomendasi, maka Pemdes Temuwuh segera membuat surat terkait kondisi yang ada ke Bupati Bantul, Drs H Suharsono.

Bupati kemudian meminta Kantor Inspektorat melakukan audit, apakah segala tahapan seleksi itu dilakukan sesuai mekanisme aturan hukum yang berlaku. Usai dilakukan audit dan dinyatakan semua seleksi sesuai prosedur, maka

dilakukan pencabutan terhadap keputusan camat yang lama dan dilanjutkan  pihak Desa memintakan rekomendasi ke Camat Dlingo yang baru, Tri Tujiana.

Akhirnya, dilantiklah Legimin dan Purwantaka pada Maret lalu sebagai pamong Desa  Temuwuh Kecamatan Dlingo. “Jadi saya tidak melakukan pelanggaran, semua seleksi sesuai prosedur. Itu juga terungkap di persidangan,” kata Suradi. Tidak ada tahapan yang dilanggar selama pelaksanaan seleksi. (sol)