Menanti Cinderamata Souvenir Khas Sleman

51
Kepala Disperindag Sleman, Tri Endah Yitnani dan Rian Hermawan selaku KPtua panitia SICA 2018 memberikan penjelasan lomba Sleman Innovative Crafts Award (SICA), Senin (01/10/2018).(nila jalasutra/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Dinas Perindustrian dan Perdagangan bekerjasama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sleman, menggulirkan program Sleman Innovative Crafts Award (SICA).

Seleksi karya ini terbuka bagi masyarakat umum. Kriteria idenya bebas, sepanjang tetap menonjolkan potensi khas Sleman.

Upaya mengangkat ikon Sleman bukan baru pertama kali ini dilakukan. Sebelumnya, telah diadakan lomba desain batik yang kemudian menghasilkan karya Sinom Parijotho.

Pada event SICA ini, selain mencari produk souvenir khas, turut pula dilombakan desain packing oleh-oleh salak.

Kepala Disperindag Sleman, Tri Endah Yitnani menjelaskan produk cinderamata tersebut nantinya akan dipasarkan di tempat-tempat yang berkaitan dengan kegiatan pariwisata.

“Disamping objek wisata, kami akan menggandeng hotel dan outlet souvenir,” kata Endah kepada awak media di Pemkab Sleman, Senin (01/10/2018).

Baca Juga :  Prosesi Kirab Iringi Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY

Menurutnya, ikon Sleman memang mulai dirintis. Diawali dengan menelurkan karya batik Sinom Parijotho. Tahun ini, Pemkab Sleman bekerjasama dengan Dekranasda mengharapkan sesuatu yang bisa menjadi kekhasan daerah. Targenya mengarah pada souvenir kerajinan, dan kemasan salak.

Upaya pencarian dilakukan lewat lomba SICA 2018. Sejak diluncurkan pada pertengahan Mei lalu hingga pendaftaran ditutup pada 25 September, ada puluhan karya yang masuk. Selanjutnya pemenang diumumkan pada acara malam penghargaan, Rabu (03/10/2018).

“Kami adakan lomba ini karena Sleman belum mempunyai souvenir yang menjadi ikon daerah,” kata Rian Hermawan selaku Ketua Panitia SICA 2018.

Karya souvenir yang diikutkan lomba harus memenuhi beberapa persyaratan. Diantaranya orisinalitas, bahan mudah diperoleh di Sleman, dan fungsional.

Baca Juga :  Jogja Kekurangan Pohon Perindang, Kenapa Ditebang ?

Menurut Rian, semua karya yang masuk banyak yang memanfaatkan potensi sumber daya lokal seperti bambu, pasir Merapi, kayu, batu, kain, dan serat.

Untuk merepresentasikan kekhasan Sleman, souvenir diminta diberi sentuhan ukiran Parijotho. Selain itu, karya yang akan dijadikan cinderamata khas daerah nantinya juga harus bisa diproduksi secara massal, dan harganya terjangkau semisal di kisaran Rp 40 ribu hingga Rp 150 ribu.(SM)