Menauladani Semangat Gotong Royong, Ini Yang Dilakukan Amartha

128

Menauladani Semangat Gotong Royong, Ini Yang Dilakukan Amartha

Semangat gotong royong, masih up to date hingga saat ini. Buktinya, salah satu perusahaan teknologi finansial, Amarta mampu mengembangkan jejaring bisnis dengan hanya mengandalkan semangat gotong royong yang menjadi jiwa masyarakat Indonesia selama ini.

Selama 7 tahun beroperasi, perusahaan yang menyediakan layanan peer-to-peer lending untuk pengusaha mikro ini, menerapkan sistem kelompok pada mitra mereka (group lending). Pengusaha mikro, bisa mendapatkan permodalan usaha tanpa agunan, jika mereka bergabung dalam sebuah kelompok.

“Awalnya kami adalah lembaga keuangan mikro. Tapi sejak 2010, kami mulai menjual jasa layanan peer to peer lending,” papar Andi Taufan Garuda Putra, CEO dan Founder Amartha, Sabtu (22/7/2017).

Baca Juga :  Investasi Tak Perlu Takut, Asal Tahu Kuncinya

Untuk mendapat fasilitasi permodalan, pelaku mikro hanya perlu membentuk kelompok dengan anggota 15 – 25 orang ibu-ibu. Mereka menyeleksi sendiri anggotanya, karena mereka yang tahu siapa yang mereka percaya.

“Kelompok inilah yang akan membantu satu sama lain jika ada anggotanya yang mengalami kesulitan angsuran,”jelas Taufan lagi.

Sistem tolong menolong dalam kelompok ini memberlakukan sistem tanggung-renteng atau patungan, untuk menalangi kesulitan angsuran anggotanya. Sistem ini mampu menjaga tingkat Non Performing Loandi Amartha bertahan di 0 persen selama 7 tahun berturut-turut.

1 KM Sajadah

Amartha, menginisiasi program 1 KM Sajadah yang berlangsung selama 30 hari di bulan Ramadhan lalu. Amartha mengumpulkan donasi melalui penggalangan dana online di website amartha.com dan platform donasi Kitabisa.

Baca Juga :  Gandeng Pihak Ketiga, Garuda Ekspansi Bisnis Kargo

Bersama para investor Amartha dan kontribusi masyarakat luas, program ini mengumpulkan total dana Rp 69 juta yang setara dengan 1,115 meter Sajadah. Hasil donasi didistribusikan kepada masjid dan mushola di berbagai pelosok pedesaan Indonesia.

Rumah ibadah menjadi salah satu pusat aktivitas penduduk yang hidup di pelosok Indonesia. Dari para peminjamnya, Amartha melihat bahwa menyamankan rumah ibadah tidak hanya berdampak pada kenyamanan beribadah, namun juga mampu merekatkan kerjasama dan kolaborasi di masyarakat. “Kalau masyarakatnya makin guyub, diharapkan semangat gotong royongnya jadi semakin baik. Tiap anggota masyarakat jadi tahu siapa dari sesamanya yang perlu dibantu,” ujarnya.(*/ar)