Mengenal Bagong Lewat Ruang Waktu

947
Direktur Kesenian Kementerian dan Kebudayaan, Dr Restu Gunawan MHum mengamati karya dan arsip Bagong Kussudiardja yang dipamerkan di galeri Gedung Damarwulan Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), Sabtu (29/9/2018). (muhammad zukhronnee/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Menyebut nama Bagong Kussudiardja, mungkin lebih banyak dikenal oleh generasi 70 hingga 90-an. Tak banyak generasi sekarang yang tahu karya-karya seniman asal Yogyakarta tersebut.

“Tidak sampai seperempat dari seluruh karya dan perjalanan bagong yang terdokumentasi di google dan wikipedia. Akhirnya tidak banyak generasi muda yang mengenal sosok bagong,” ungkap putra almarhum Bagong Kussudiardja, Butet Kertaradjasa disela pembukaan Pameran Arsip “Ruang Waktu Bagong Kussudiardja” di galeri Gedung Damarwulan Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), Sabtu (29/9/2018).

Pameran yang berlangsung 29 September-3 November 2018 diselenggarakan dalam rangakaian peringatan 90 tahun Bagong Kussudiardja, 50 tahun Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja (PLTBK) dan 40 tahun Padepokan Seni Bagong Kusudiardja (PSBK).

Sebagian arsip karya Bagong Kussudiardja yang dipamerkan. (muhammad zukhronnee/koranbernas.id)

Padahal Bagong sebenarnya mempunyai arsip karya-karyanya. Sebut saja surat-surat kerja sama, surat keputusan, surat undangan, foto-foto perjalanan, peristiwa kesenian, foto pertemuannya dengan para tokoh dunia, catatan seminar, dan sejumlah artikel/naskah untuk pertunjukan, untuk media cetak, maupun untuk buku, bahkan pola lantai karya koreografinya. Selain itu arsip dokumen perjalanan hidup berkesenian Bagong Kusudiardja.

“Kami sangat senang jika ada orang atau lembaga yang tergerak untuk membuat semua dokumen dan arsip-arsip ini menjadi digital, Sehingga memudahkan generasi milenial ini untuk mengenal dan belajar dari proses berkesenian Bagong Kussudiardja,” tandasnya.

selama hidupnya, sudah lebih dari 200 tari telah Bagong ciptakan dalam bentuk tunggal atau massal. Karya-karya Bagong selalu dilandasi penghormatan kepada seni tradisi dan semangat kemajemukan bangsa.

Baca Juga :  Bank BPD DIY Luncurkan Mobile Banking

“Sehingga tarian tarian yang diciptakannya bisa diterima dengan baik di wilayah etnik manapun di indonesia,” jelasnya.

Untuk itu PSBK memberikan apresiasi pada pencapaian ini dan berkeinginan untuk menyatukan semangat berkesenian para alumni cantrik-mentrik (sebutan untuk orang-orang yang menuntut ilmu berkesenian di PSBK-red) dan seniman-seniman lain yang pernah berproses bersama Bagong Kussudiardja baik langsung maupun tidak langsung. Salah satunya dengan menggelar “Gugus Bagong: Gelar Seni dan Forum Temu Akbar Alumni Cantrik-Mentrik Nusantara & ASEAN pada 18-20 Oktober 2018 mendatang di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja.

“Kegiatan itu menjadi ruang dan waktu untuk mempertemukan kembali para cantrik-mentrik yang tersebar di beberapa wilayah di nusantara dan asia tenggara, serta untuk menampilkan karya-karya mereka,” paparnya.

Sementara Suwarno Wisetrotomo, kurator pameran mengungkapkan, banyak pihak yang masih lemah mendokumentasikan karya-karya, apalagi merekam proses seperti yang dilakukan Bagong Kussudiardja. Sebut saja para seniman yang suka difoto tapi tidak pernah memfoto, senang ditulis tapi tidak menulis.

Hal itu berbeda dari Bagong yang tidak hanya hobi difoto, ditulis ataupun direkam laiknya seorang seniman dan karyanya. Namun seniman itu juga senang memfoto, menulis dan merekam perjalanan hidup dan karya-karyanya.

“Ini menunjukkan posisi Bagong Kusudiardja dalam situasi dilihat-melihat: dibaca-membaca, ditulis-menulis dan difoto/direkam-memfoto/merekam. Tidak banyak seniman kala itu yang bisa melakukan dua hal tersebut sekaligus, bahkan jaman milenial sekarang,” paparnya.

Suwarno berharap pameran arsip itu dapat mengundang para pengkaji sejarah, sejarah seni, politik, politik seni/seni politik, komodifikasi seni, dan lainnya. Dengan demikian arsip-arsip yang dipamerkan dapat digunakan sebagai pijakan awal, atau justru sumber utama sebuah riset.

Baca Juga :  Kedokteran Nuklir Tak Lagi Jadi Fobia
Singgih Rahardja, Butet Kertaradjasa, Suwarno Wisetrotomo, Restu Gunawan dan pelukis Djoko Pekik mengomentari arsip-arsip Bagong Kussudiardja di ruang pameran. (muhammadzukhronnee/koranbernas.id)

Direktur Kesenian Kementerian dan Kebudayaan, Dr Restu Gunawan MHum menyampaikan, Bagong Kussudiardja tidak bisa kita tiru karena perbedaan jaman dan situasi.

“Tapi bagaimana pemikiran dan gagasan beliau sangat penting untuk kita pikirkan bersama. Saya takjub ternyata sebagai seniman Bagong Kussudiardja sangat sadar dengan arsip, meskipun kita tahu mengumpulkan arsip itu adalah pekerjaan yang sangat tidak menyenangkan tetapi dibalik arsip itu pasti ada sesuatu yang luar biasa,” ungkapnya.

Restu menyebutkan, masyarakat perlu mencontoh kesadaran Bagong dalam mengumpulkan arsip dalam berbagai bentuk serta mengabdikan diri sebagai pendidik. Bagong dikenal menjadi guru tari yang mampu menginspirasi ribuan orang cantrik-mentrik sepanjang kurun waktu 1978-2002.

Banyak dari mereka telah membuktikan puncak pencapaiannya dan menjawab tantangan Bagong yang selalu mengatakan “Jangan jadi Bagong Bagong kecil, jadilah Bagong Bagong besar!”. Mantan cantrik-mentrik PSBK pun tersebar di beberapa wilayah Nusantara dan Asia Tenggara.

Sampai saat ini mereka masih aktif sebagai seniman pencipta, pendidik dan pemerhati seni. Hadirnya cantrik-mentrik dan karya-karyanya secara tidak langsung telah mewakili perjalanan dan pengembangan dua kekuatan sebagai seniman dan pendidik, yaitu penciptaan karya yang berbasis dan bertujuan pendidikan khususnya tari, penciptaan karya sebagai media ekspresi kreatif seniman.(yve)