Menggali Makna Kemerdekaan Lewat Sastra

155
Seorang seniman membaca sajak-sajak tentang Kemerdekaan. (Nanang W Hartono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Adaberagam cara digunakan masyarakat Kebumen dalam memaknai Hari Kemerdekaan RI.  Salah satunya yang dilakukan sekelompok pegiat sastra yang bergabung dalam Lingkar Sastra Gombong (LISONG). Berkolaborasi dengan komunitas Kalangan Macapatan, mereka mengadakan kegiatan membaca sajak-sajak kemerdekaan yang dipadu dengan tembang-tembang Macapat.

Dalam acara yang diadakan di Roemah Martha Tilaar (RMT) Gombong Jumat (17/08/2018), hadir 50-an pegiat dan peminat sastra dari berbagai wilayah di Kebumen, Banjarnegara dan Banyumas .

Dalam kegiatan ini dibawakan 15 puisi karya anggota LISONG, berupa  puisi berbahasa Indonesia maupun berbahasa Jawa (Geguritan).

Cara pandang yang beragam dari para penulis puisi justru memperkaya suasana malam itu. Seperti puisi dari Agus Moorsalim yang mengaitkan makna kemerdekaan dengan situasi politik saat ini yang banyak diwarnai skandal pembelian suara.  Sementara Karan Figo, penyair dari Sikayu mengisahkan seorang pahlawan di desanya yang sudah lama dilupakan.

Penggagas LISONG, Sabur Herdian Raamin mengungkapkan bahwa Komunitas LISONG berawal dari sebuah WA Group para penggemar sastra di wilayah Gombong dan sekitarnya.

Dalam perkembangannya beberapa perantau asal Kebumen ikut bergabung.

“Saat ini ada duapuluh sastrawan dan peminat sastra yang sudah bergabung,“ katanya.

Hampir setiap hari ada yang membagikan puisi maupun karya sastra lain di group ini.

“Maka untuk semakin menyemangati para sahabat sastra ini kita buatlah panggung apresiasi sastra yang kebetulan kali ini mengambil tema kemerdekaan,” ungkap Sabur.

Marcomm Roemah Martha Tilaar, Alona Novensa mengungkapkan,  Roemah Martha Tilaar selalu membuka diri sebagai ruang ekspresi bagi berbagai komunitas seni. Tercatat sejak dibuka pada akhir 2014 lalu, RMT memang sudah menjadi ajang bagi berbagai pelaku seni, baik seni musik, lukis maupun sastra.

Secara khusus Alona berharap kegiatan ini dapat semakin memacu perkembangan dunia sastra di Kebumen sehingga semakin muncul dalam peta sastra nasional.

“Awal September mendatang RMT kembali akan menjadi ajang sebuah perhelatan seni yaitu peluncuran Kumpulan Geguritan karya seorang penyair dari Jakarta,” kata Aloena.

Dalam kesempatan ini para  penyair Kebumen diharapkan dapat berkolaborasi dengan pegiat sastra dari Jakarta, Solo, Jogja, Pekalongan dan Tegal.

Sastrawan Banyumas yang hadir malam itu, Hadi Suroso menyatakan apresiasinya terhadap perhelatan perdana yang diadakan oleh LISONG, apalagi memadukan dengan tembang-tembang Macapat. “ ujar Hadi Suroso. Bukan hal yang mudah memadukan dua bentuk seni suara, pembacaan , puisi dan tembang LISONG dan Kalangan Macapatan mampu membuktikan bahwa dua bentuk seni ini dapat saling menguatkan.

“Suasana yang terbangun oleh tembang Macapat dapat membantu mewujudkan roh dari puisi dan geguritan yang dibawakan,” kata pensiunan guru yang kumpulan puisinya sudah meraih penghargaan nasional. (SM)