Menikmati Eksotisme Alam Curug Lawe

340

KORANBERNAS.ID – Cuaca panas yang membakar Kota Semarang. Aspal jalan yang mulus di seputar Simpanglima, seperti berasap diterjang garang matahari. Trotoar di sepanjang Jalan Pahlawan yang meriah pada malam hari, terasa gersang di antara pohon-pohon peneduh berusia muda yang belum rindang.

Pembangunan pusat Kota Semarang dalam tiga tahun terakhir memang selalu menuai konsekuensi penataan, termasuk peremajaan hijauan tengah kota.

Di tengah udara gerah dalam suhu yang menaik sekitar 35-36 derajat celcius, kami melaju menuju Ungaran, melewati alun-alun berbelok ke arah Kecamatan Gunungpati. Tujuannya hendak menengok keelokan Curug Lawe yang konon masih alami karena belum banyak dikunjungi wisatawan.

Setelah berkendara sekitar 45 menit, kami masuk wilayah Gunungpati. Jalan aspal tak seterik di ruas utama Semarang-Ungaran yang padat kendaraan dengan pemandangan sisi kanan-kiri yang menjenuhkan karena penuh dengan bangunan modern, rumah, kantor, warung, pasar dan instalasi pemerintah.

Di sepanjang jalur Ungaran-Gunungpati pepohonan dibilang masih cukup rindang meneduhi para pengendara. Udara sedikit menyejuk, di sisi jalan mulai tampak sawah, kebun dan rumah-rumah penduduk bergaya campuran, modern, maupun tradisional Jawa dengan atap limasan.

Sampai di pertigaan Sumur Gunung, belok ke kiri melewati Kantor Kecamatan Gunungpati ke arah Desa Kalisidi. Trek Kalisidi menuju Curug Lawe, melewati perkebunan cengkeh Zanzibar cukup mengasyikkan, jalan aspal berkelok dan menanjak. Disarankan kondisi kendaraan harus fit dengan bahan bakar penuh karena di sepanjang jalan ini tidak ada SPBU atau bengkel.

Disambut udara sejuk

Butuh waktu sekitar 40 menit dari alun-alun Ungaran menuju Curug Lawe. Jadi total waktu tempuh Kota Semarang-Curug Lawe sekitar 1,5 jam dalam perjalanan yang santai. Tak perlu khawatir salah jalan karena di setiap persimpangan selalu ada papan penunjuk arah.

Begitu sampai di pintu masuk Curug Lawe, langsung disambut udara sejuk nan menyegarkan. Untuk masuk ke area curug hanya perlu membayar retribusi yang tidak besar.

Pada hari Minggu, pengunjung Curug Lawe lumayan ramai, meski tak sepadat tempat-tempat wisata pada umumnya. Fasilitas yang ada juga tak terlalu banyak. Kamar mandi cuma satu dengan kondisi standar.

Baca Juga :  Disnaker Rutin Pantau Lulusan Pelatihan Keterampilan

Ada juga beberapa warung di sekitar pintu masuk. Kondisinya juga sederhana, tapi cukuplah untuk sekedar buat jeda sebentar dari perjalanan sambil bersiap menikmati suguhan alam di lokasi, karena harus ditempuh dengan berjalan kaki. Curug Lawe tepatnya berada di kaki Gunung Ungaran yang masih masuk wilayah Kabupaten Semarang.

Bagi yang suka tantangan alam, trek menuju curug cukup ideal. Rute diawali menyusur aliran irigasi yang berbatasan dengan jurang di sebelah kiri, lalu sebuah jembatan kayu menanti di depan. Dari jembatan kayu ini tampak pemandangan tebing yang keren. Ini tempat yang cocok untuk berfoto.

Selepas jembatan kayu, kembali menyusuri aliran irigasi ke arah daerah bendungan sebagai check point pertama. Dari situ wisatawan akan menemukan dua percabangan jalan dengan papan penunjuk arah menuju Curug Lawe dan Curug Benowo. Ini satu kejutan mendapat ‘bonus’ karena kami sebelumnya tak tahu di lokasi itu ternyata ada dua curug.

Curug Benowo

Wisatawan menikmati segarnya air Curug Lawe. (b maharani/koranbernas.id)

Kami memutuskan untuk melihat Curug Benowo dulu karena jaraknya relatif lebih dekat. Medan ke arah Curug Benowo bervariasi, ada trek yang landai dan ada tanjakan ekstrem.

Meski begitu, pemandangan di lokasi sangat memukau. Selain hijau hutan kayu campuran, ada juga beberapa aliran sungai dengan air yang sangat jernih. Banyak tempat yang bagus untuk mengambil foto. Rasanya benar-benar fresh berada di alam, jauh dari kesesakan kota.

Hampir satu jam perjalanan, sampailah di Curug Benowo. Dari kejauhan tampak sebuah air mengucur bebas dari balik tebing. Curug Benowo sangat menawan dengan kucuran air yang jernih kontras dengan tebing berwarna hitam di sekitarnya dan pohon-pohonan hijau yang segar. Bantingan air terjun menerbangkan pecahan-pecahan air seperti embun kasar yang sejuk ketika menerpa kulit muka.

Beristirahat sejenak di kaki curug sambil bermain air yang dingin menghilangkan rasa capek dari perjalanan. Acara foto-foto menjadi tak terkendali karena saking banyaknya sisi indah dari curug yang bisa diabadikan.

Baca Juga :  TMMD Sengkuyung Hemat Biaya Rp 47 Juta

Setelah puas main air dan berfoto ria, tiba saatnya membuka bekal untuk sekadar minum dan makan karena hari sudah siang. Selain bekal makanan, disarankan jika berkunjung ke sini wisatawan membawa baju ganti, agar bisa puas menikmati air gunung nan jernih.

Saatnya berkemas melanjutkan perjalanan ke tujuan utama Curug Lawe. Dari Curug Benowo menuju Curug Lawe ada jalan yang langsung, jadi tak perlu kembali ke pertigaan tadi. Jalur yang dilewati juga bervariasi, beberapa tanjakan dan turunan lumayan curam. Meskipun demikian, beratnya trek rasanya terbayar dengan banyaknya eksotisme alam yang tersaji di sepanjang jalur.

Sekitar 30 menit perjalanan sudah terlihat Curug Lawe yang gagah. Air terjun setinggi sekitar 300 meter itu sangat menawan, seperti raja perkasa yang kelilingi oleh puluhan air terjun kecil.

Memang Curug Lawe mengucur dari sebuah tebing berbentuk hampir melingkar dengan debit air yang lumayan besar sehingga puluhan curug itu seperti mengumandangkan oskestra alam nan langka.

Eksotis

Destinasi wisata di kaki Gunung Ungaran ini cocok untuk liburan di akhir pekan. (istimewa)

Konon dinamai Curug Lawe karena jumlah air terjun di situ sebanyak 25 buah (nama Lawe diambil dari bahasa Jawa Selawe yang berarti dua puluh lima). Pemandangan di Curug Lawe jauh lebih eksotis dibanding Curug Benowo. Di area Curug Lawe terasa bener-bener dingin. Suasana alami di sekitarnya juga indah dan menakjubkan.

Setelah puas menikmati alam, main air sampai menggigil dan tentu berfoto ria, tak terasa hari sudah menjelang sore. Waktunya ganti baju dan bersiap pulang. Jalur untuk kembali tetap melewati jalan setapak berpasir, kebanyakan trek menurun, berlawanan dengan ketika berangkat yang lebih banyak mendaki.

Perjalanan pulang memakan waktu sekitar satu jam untuk mencapai pintu masuk lokasi. Rasanya terbayar sudah perjalanan menyusuri jalan setapak yang menantang untuk mendapatkan ‘bonus’ alam semesta alam nan menawan ini.

Meskipun sarana prasarana masih minim, tapi Curug Lawe masih benar-benar alami. Masih belum banyak dikunjungi wisatawan, jadi terasa benar tenang dan damai. Sebuah Firdaus yang tersembunyi. (sol)