Menikmati Malioboro Jelang Buka Puasa

179
Suasana Malioboro jelang buka puasa, Sabtu (26/05/2018) (arie giyarto/koranbernas.id).

KORANBERNAS.ID – Lalu lintas yang semula hiruk pikuk, mendadak hanya satu dua kendaraan yang lewat. Bus-bus Trans Jogja beberapa jalur tetap lewat sesuai jadwal, tetapi nyaris tanpa penumpang.

Jalur pedestrian juga relatif sepi pejalan kaki, Sabtu (26/05/2018) sore, menjelang buka puasa. Sesekali ada yang lewat sambil membawa tas isi belanjaan. Sebagian pengunjung memilih duduk-duduk di bangku atau bulatan pembatas yang bisa untuk duduk. Sementara ada beberapa komunitas membagi takjil.

Suasana Malioboro yang begitu nyaman itu berubah menjadi sibuk ketika Adzan Maghrib berkumandang. Ada yang membuka bekal. Penjual minuman the dan jeruk pun jadi kelarisan.

Angkringan dipenuhi pembeli untuk membatalkan puasa. Demikian pula penjual soto, bakso, wedang ronde dikerubuti pembeli. Sejumlah orang dengan santainya makan sambil berjalan. Tapi lebih banyak yang menikmatinya sambil duduk.

Hanya sekitar 30 menit usai buka puasa, Malioboro sibuk lagi. Lalu lintas mulai ramai. Beberapa andong melintas membawa penumpang, sebuah harapan yang didambakan. Bertambah petang makin banyak orang belanja. Remaja berpasang-pasangan atau dalam kelompok kecil melintas dengan canda riangnya.

Ada sepasang pria wanita ngamen lagu-lagu Islami dengan memutar kaset tapi tangannya memegang mikrofon. Suaranya yang lantang membelah angkasa. Ada juga kelompok pemain musik lengkap dengan drum, gitar dan bas, menarik perhatian kalangan anak muda.

Baca Juga :  Kapolres Gunungkidul Melantik PKS SMPN 1 Playen

“Setelah Malioboro sisi barat dibangun, saya baru dua kali ke Malioboro. Sedang Ramadan ya baru sore ini saya berangkat,” kata Sogiran, kusir andong yang dulu hampir setiap sore ngetem di jantung kota Yogya itu.

Andong dan becak sementara kehilangan tempat ngetem ketika Malioboro sisi barat dibongkar demi kenyamanan pengunjung. (arie giyarto/koranbernas.id)

Kehilangan tempat

Setelah Malioboro sisi barat dibongkar, praktis andong dan becak kehilangan tempat menunggu penumpang. Tak sebanyak andong parkir di sana. Sebagian mereka lebih memilih mencari kegiatan produktif lainnya di rumah.

Ya kalau seperti saya ini namanya juga adhang-adhang rezeki. Kadang dapat banyak. Tapi juga pernah untuk beli pakan kuda malah tombok,” katanya kepada koranbernas.id tentang dampaknya. Padahal kuda miliknya yang besar dan perkasa itu butuh asupan makan banyak.

Sogiran berusaha mempercantik andongnya agar menarik calon penumpang. Dilengkapi dua lampu kuningan ukuran besar dan selalu mengkilat.

Saat menunggu penumpang pun, pria asal Dusun Kenalan. Potorono Kecamatan Banguntapan Bantul itu tak mau diam. Dia bersihkan lampu andongnya dari debu. Dia juga melengkapi andongnya dengan bel dari kuningan mengkilat berbunyi nyaring.

Baca Juga :  Ridho Nur Ramadhan, Si Pemalu yang Jago Menyanyi

Menurut pria dengan busana surjan kembang-kembang itu, ke depan akan ada penertiban andong yang mencari rezeki di Malioboro.

Di antaranya harus memakai dua lampu di kiri kanan. Juga bel yang berfungsi semacam klakson pada mobil. Saat ini pun dia sudah siap. Juga, katanya, banyak andong yang sudah lengkap.

Sekitar 20 tahun menjadi kusir andong, Sogiran banyak makan asam garam. Prinsipnya, dia akan selalu mematuhi peraturan. Karena dia sadar, aturan itu dibuat untuk kebaikan bersama.

Termasuk penataan Malioboro, dia harus bersabar. Untuk  sementara hanya sedikit memperoleh rezeki. Dengan harapan kelak sesudah Malioboro semakin nyaman, rezeki akan mengalir lebih baik lagi.

Mulai pertengahan Ramadan nanti, suasana Malioboro biasanya ramai. Toko-toko memberi diskon menggiurkan untuk menarik pembeli. Busana-busana serta kelengkapannya desain terbaru sudah digeber.

Menurut Wiyono, penjual minuman di kaki lima, pembagian takjil biasanya semakin banyak. Selain kelompok jalan kaki, biasanya akan ada yang membagikan dengan mobil. (sol)