Menjaga Sungai, Kreativitas yang Tersimpul dari 49 Grup WA

467
Belik UGM di Wisdom Park

KORANBERNAS.ID—Gerakan restorasi sungai yang digagas Prof Suratman dan Dr Agus Maryono dari UGM, boleh jadi yang terunik di dunia dalam implementasi. Terunik, lantaran ide besar dengan cakupan area yang menjangkau seluruh wilayah Nusantara ini, hanya tersimpul dari sekitar 49 grup WhatsApp (WA).

Berangkat dari keprihatinan bersama tentang kondisi sungai di Jogja, gerakan restorasi sungai pun berawal dari Kota Gudeg ini. Kemudian bergulindam dengan semangat masyarakat dan pemerintah daerah untuk bahu membahu membebaskan Sungai Code, Winongo dan Gadjah Wong  dari timbunan sampah dan kebiasaan masyarakat di bantaran yang semaunya membuang sampah serta limbah rumah tangga ke sungai. Sebuah pekerjaan super besar, perjuangan sangat panjang yang oleh Agus Maryono disebut justru menyenangkan.

“Lelah jelas iya mas. Tapi juga sangat menyenangkan. Di urusan sungai inilah, semua ilmu berkumpul. Ilmu arsitek, ilmu sosial, ilmu psikologi, ilmu sipil dan semuanya. Bahkan, yang dulunya memisahkan antara Air Tanah dan Air Permukaan pun, harus menyadari bahwa itu tidak bisa dipisahkan. Semua saling terkait,” tutur Agus Maryono yang setiap harinya bertugas di Fakultas Teknik UGM ini.

Gerakan Restorasi Sungai di Indonesia-yang bermula dari Jogja, kata Agus tidak ada duanya di seluruh dunia. Konsep ini otentik dikembangkan di Indonesia dan tumbuh menyatu dengan akar budaya dan kehidupan sosial masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Begitu panjang dan luasnya jangkauan gerakan ini, maka para aktivis yang terliatpun bersepakat membuat media komunikasi dengan memanfaatkan aplikasi WhatsApp (WA) sebagai simpulnya.

Baca Juga :  Mahasiswa Asing dari 20 Negara Ikuti ICCF 2018 di UMY

“Sekarang ada 49 grup. Dengan WhatsApp inilah kami saling bertukar informasi, sharing pengalaman dan berkabar. Apa yang kami lakukan disini, langsung diketahui oleh saudara kita di Medan, di Sulawesi bahkan di Papua. Begitu pula sebaliknya. Yang lucu, ketika di Jogja membuat gerakan Srikandi Sungai, ini diadopsi juga di Papua. Saya bilang “Masak di Papua Srikandi Sungai juga. Apa gak ada istilah lokal yang lebih pas”?,” cerita Agus sembari tertawa.

Anggota Water Working Group Fakultas Teknik UGM ini mengungkapkan, Program Restorasi Sungai berawal dari Lembaga Pendidikan dan Pengabdian Universitas Gadjah Mada (LPPM-UGM) yang menjadi fasilisator sekaligus pengembangan Pemerti Code. Sejak tahun 2013 aktif mengadakan pertemuan rutin sesama komunitas Code hingga anggota komunitas peduli sungai lain di Indonesia.

Dari sini, virus untuk menjaga dan memelihara sungai sebagai bagian sangat penting dari kehidupan ini terus ditularkan. Berbagai program pun muncul dan berkembang. Mulai dari aksi-aksi sosial bersih-bersih kali, membenahi lingkungan kali, hingga program non fisik semacam sekolah sungai dan lain sebagainya.

Yang terbaru, UGM juga membuat proyek percontohan berupa Taman Kearifan di sisi timur Kampus UGM. Bagian dari area terbuka hijau ini, memiliki banyak fasilitas. Tapi yang utama adalah di bagian selatan, yakni sebuah rekayasa yang dilakukan untuk mengendalikan aliran air Kali Belik. Perlu diketahui, kawasan di depan Masjid Kampus UGM ini, dulunya menjadi langganan banjir. Ini terjadi lantaran lebar aliran yang sempit dan menumpuknya sampah di bagian hilir. Banjir Kali Belik selalu mengancam wilayah UGM sisi timur hingga ke Syantikara.

Baca Juga :  Aneh, Ada Anak SMA Tidak Hafal Pancasila

Tahun 2014, melalui konsep Wisdom Park, UGM kemudian melakukan rekayasa dengan membuat kolam detensi atau embung kering, dengan melebarkan daerah aliran sungai. Di bagian tengah dibuatkan aliran kecil dengan elevasi lebih dalam untuk mempertahankan aliran Kali Belik tetap ada di musim kemarau. Dan di musim penghujan, embung ini akan menampung air secara keseluruhan serta menyerapkannya ke samping secara perlahan melalui pori-pori resapan yang telah dibuat untuk dialirkan ke dalam tanah sehingga akan menahan sementara air agar tidak meluap.

Gerakan ini juga tidak  menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan limpahan air dari drainase  perkotaan agar tidak terjadi banjir. Bahkan, saat ini mengembangkan sistem  drainase ramah lingkungan dengan prinsip tampung, resapkan, alirkan dan pelihara.

Program lain lagi, adalah dikembangkannya gerakan “memanen air hujan” di Perumahan jambusari. Di kompleks ini, warga mengadakan arisan dalam membuat instalasi pemanen air hujan (PAH).

“Saat ini sudah ada 10 PAH dan berharap bertambah hingga 50 PAH guna mencukupi kebutuhan air bersih 600 kk setempat,” papar Agus. (Surya Mega)