Menteri Sebut Buruh Migran Pekerjaan Mulia

148
Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Muhammad Hanif Dhakiri bersama Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI di Desa Wisata Garongan Turi Sleman, Minggu (04/02/2018). (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Sebagian masyarakat menganggap bekerja menjadi buruh migran di luar negeri lebih karena kepepet. Padahal  bekerja di dalam maupun luar negeri merupakan peluang untuk meningkatkan perekonomian bangsa dan masyarakat.

Hal ini disampaikan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Muhammad Hanif Dhakiri, pada pembukaan Jambore Keluarga Migran Indonesia di Desa Wisata Garongan Turi Sleman, Minggu (04/02/2018).

“Buruh migran merupakan pekerjaan yang baik dan mulia serta berkontribusi menurunkan kemiskinan. Berdasarkan hasil survei, 22 persen penurunan kemiskinan di Indonesia dikontribusikan oleh pekerja migran dengan remitansi rata-rata Rp 120 triliiun per tahun,” jelasnya.

Menjadi pekerja migran bukan merupakan dunia yang suram seperti yang terkekspose pada beberapa kasus di media. “Sekitar 9 juta orang bekerja di luar negeri dan yang bermasalah hanya 2 persen saja. Banyak cerita keberhasilan namun tidak terkspose di media,” katanya.

Baca Juga :  Sleman Tuan Rumah Piala Soeratin 2017

Hanif berharap jambore tersebut menjadi wahana untuk mendorong dan merumuskan pokok pikiran yang bisa diberikan kepada pemerintah dalam rangka memperbaiki tata kelola imigrasi dan perlindungan warga Indonesia di dalam maupun luar negeri.

Ketua Panitia Jambore Keluarga Migran Indonesia 2018, Nursalim, mengatakan kegiatan yang diinisasi oleh Dompet Dhuafa melalui Migrant Institute itu berlangsung 3-5 Februari 2018.

“Peserta yang mendaftar mencapai 1.300 orang dari berbagai daerah seperti NTB, Jatim, Jabar, Jateng, Kalimantan. Baru hadir sekitar 1.170 orang dan akan terus bertambah,” katanya.

Kegiatan ini didasari berbagai persoalan di kampung halaman yang dihadapi Pekerja Migran Indonesia (PMI)  setelah mereka pulang dari negara penempatan.

“Mereka harus berhadapan dengan persoalan lapangan pekerjaan yang kian menyempit,  di saat uang remitansi yang dikirimkannya tiap bulan tidak cukup untuk membuat sebuah usaha secara mandiri,” katanya.

Baca Juga :  Sultan Belum Tahu Kapan akan Dilantik

Untuk memutus siklus migrasi dan permasalahan yang dialami PMI maka diperlukan sebuah instrumen kemandirian. “Keluarga Migran Indonesia (KAMI)  hadir sebagai pilihan kelembagaan  yang memfasilitasi proses kemandirian ekonomi PMI dan keluarganya melalui pengembangan potensi diri dan lingkungan,” kata Nursalim.

Pada jambore tersebut,  selain ditampilkan berbagai displai produk usaha mandiri PMI juga dilakukan  berbagai kegiatan lain seperti sapa warga (pengenalan produk usaha PMI) , sarasehan, dan workshop tematik.

Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI yang hadir pada kesempatan tersebut memberikan apresiasi atas dipilihnya Sleman sebagai tempat penyelenggaraan Jambore Keluarga Migran 2018.

Pemkab Sleman melalui Dinas Tenaga Kerja telah memberikan pelatihan-pelatihan untuk membekali para pencari kerja agar memiliki kemampuan bersaing di dunia kerja. (sol)