Merajut Kembali Silaturahim Kebangsaan Jogja-Makassar

223
Wakil Ketua DPRD DIY Arif Noor Hartanto bertukar cenderamata dengan Sekretaris Disbudpar Sulsel, Pancawati, saat menyertai kunjungan Sekretariat DPRD DIY dan Forum Wartawan Unit DPRD DIY ke Makassar, 23-26 Januari 2018.

KORANBERNAS.ID – Di tengah cuaca panas Kota Makassar, tiga potong bambu itu seolah-olah bertahan menopang beban berat pohon kamboja yang miring,  agar tidak tumbang.

Bagi peziarah yang datang di komplek makam Pangeran Diponegoro kawasan Kampung Jawa, Makassar Sulawesi Selatan (Sulsel), pohon tua yang tumbuh persis di samping pusara bangsawan Keraton Yogyakarta Pangeran Diponegoro tersebut, seakan-akan mengingatkan kembali betapa berat dan kerasnya perjuangan melawan penjajah Belanda.

Komplek makam di kawasan pusat kota itu masih terawat hingga kini, sekaligus menjadi salah satu bukti eratnya pertautan antara Makassar dengan Yogyakarta sejak ratusan tahun silam.

Komplek Makam Pangeran Diponegoro di Kampung Jawa Kota Makassar.

Demi memperkuat kembali hubungan itu, Sekretariat DPRD DIY bersama sejumlah jurnalis tergabung dalam Forum Wartawan Unit DPRD DIY melakukan kunjungan ke Makassar.

Kegiatan yang dikemas dalam Pers Tour selama empat hari mulai Selasa hingga Jumat (23-26/01/2018) kali ini tujuan utamanya menggali berbagai informasi mengenai pengelolaan kepariwisataan terpadu.

“Kunjungan kami ke Sulawesi Selatan merupakan program kerja DPRD DIY. Ini bukan kunjungan biasa, kita sepakati sebagai silaturahim kebangsaan antara Makassar dan Daerah Istimewa Yogyakarta,” papar Arif Noor Hartanto, Wakil Ketua DPRD DIY.

Sejarah membuktikan, ada pertautan antara Yogyakarta dan Makassar. Di Jogja ada Kampung Daengan dan juga Kampung Bugisan bahkan ada pula Bregada Bugis. Semua itu diabadikan untuk mengingatkan pertautan ini. Sedangkan di kota Makassar, dimakamkan Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro yang pemberani.

Tatkala berdialog dengan jajaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sulawesi Selatan, anggota dewan asal Kotagede Yogyakarta itu memaparkan pentingnya merajut kembali benang-benang hubungan antara Yogyakarta dan Makassar.

Wisatawan menikmati suasana pagi di Pantai Losari Makassar.

Khususnya di bidang kepariwisataan, menurut Arif Noor Hartanto didampingi Sekretaris DPRD DIY Benny Suharsono beserta jajarannya, meski DIY sudah lebih maju namun tidak ada salahnya mencoba menerapkan pembatasan jumlah wisatawan pada destinasi-destinasi wisata tertentu. Inilah yang sudah dirintis oleh Sulsel.

Sebagai gambaran,  di luar negeri ada sejumlah negara sudah memberlakukan pembatasan jumlah wisatawan yang masuk. Wisatawan harus mendaftar terlebih dulu, terutama pada destinasi-destinasi wisata minat khusus.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sulawesi Selatan, Pancawati SE MSi, menyambut kunjungan tamunya dari DIY ini sebagai sarana saling belajar maupun bertukar pikiran dalam upaya mengembangkan kepariwisataan di dua daerah.

“Kami mengembangkan pariwisata terutama untuk memberikan rasa aman dan kenyamanan kepada wisatawan,” ungkapnya.

Sependapat, Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Sulsel, Yulianus Batara Saleh, mengakui sebenarnya kepariwisataan di Sulsel masih jauh apabila dibandingkan DIY. Bagi Sulsel, sektor pariwisata belum menjadi andalan Pemerintah Provinsi  terkait dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB),  seperti halnya DIY.

Sektor pariwisata di provinsi itu menyumbangkan sekitar 2,9 persen dari total PDRB Sulsel. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tercatat sekitar 200.000-an orang per tahun, sementara pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) sebanyak 7,5 juta orang.

Yulianus yakin, angka-angka itu tidak sebanding dengan Yogyakarta, namun demikian ada optimisme potensi wisata yang dimiliki 24 kabupaten/kota di provinsi itu ke depan diharapkan lebih maju lagi. Apalagi, Sulsel sudah masuk sepuluh besar destinasi wisata terkemuka di Indonesia.

Disbudpar mencoba menjadikan  pariwisata bukan saja menjadi urusan satu dinas namun perlu dikoordinasikan dengan Pemkab dan Pemkot. Idealnya sektor kepariwisataan tidak bisa dibatasi oleh hal-hal yang sifatnya administratif.

Dengan jumlah kabupaten/kota sebanyak itu, potensi tujuan wisata Sulsel jelas lebih beragam. Pihaknya memang memiliki destinasi wisata yang cukup banyak yang tersebar di berbagai wilayah.

Dari sekian banyak obyek wisata, dua yang akan dijadikan unggulan yaitu wisata bahari dan wisata alam. “Kami akan mengembangkan wisata alam dan wisata bahari,” kata Yulianus.

Air Terjun Bantimurung di Kawasan Taman Nasional Bantimurung Sulawesi Selatan.

Legendaris

Mengamati sekilas pariwisata di Sulsel, provinsi tersebut beruntung memiliki pantai Losari yang cukup legendaris. Pantai yang terletak di kawasan pusat kota Makassar itu tidak pernah sepi pengunjung bahkan bisa dikatakan aktivitasnya menggeliat 24 jam.

Selain itu, ada pula Taman Nasional Bantimurung, Goa Jodoh, Taman Penangkaran Kupu-kupu di Kabupaten Maros. Masih ada lagi masjid tertua yang dibangun tahun 1300-an yaitu Masjid Al Markaz Al Islami, Istana Raja Gowa  maupun Toraja yang khas dan sangat terkenal hingga mancanegara.

Selain geopark, satu lagi yang jadi unggulan Sulsel adalah Marines Tourism. Hanya masalahnya, hampir semua daya tarik wisata merupakan milik masyarakat adat.

Inilah yang jadi kendala tatkala pemerintah ingin memberikan sentuhan namun terkendala alas hak sehingga bantuan dari pemerintah pusat tidak bisa masuk karena terganjal regulasi.

Dalam forum dialog, Arif Noor Hartanto lebih jauh menyampaikan meski DIY lebih unggul di sektor pariwisata namun tidak ada salahnya menyadari bahwa pengembangan sektor pariwisata tidak harus yang sifatnya massal dengan orientasi mengejar target banyaknya jumlah kunjungan.

Ada faktor lain yang tidak boleh dilupakan yaitu daya dukung lingkungan, sosial budaya masyarakat setempat, maupun hal-hal lain yang sudah selayaknya perlu dipertimbangkan supaya tidak menjadi bumerang bagi pariwisata itu sendiri. “Pertimbangan seperti itu semestinya juga sudah harus dipikirkan oleh para pengelola pariwisata di DIY,” tandas Arif Noor Hartanto.

Istana Balla Lompoa Sungguminasa.

Transportasi

Sektor wisata juga tidak bisa lepas dari transportasi. Yang perlu terus dicarikan solusinya  di DIY saat ini adalah keberadaan becak wisata yang berubah bentuk menjadi becak motor. Hadirnya moda transportasi itu jadi dilematis, di satu sisi dibutuhkan tapi di sisi lain melanggar aturan.

Soal transportasi wisatawan, Yulianus Batarata Saleh, mengatakan ada banyak lokasi menarik di Provinsi Sulsel.  Namun demikian jaraknya relatif sangat jauh dari Makassar. Adapun cara mengembangkan potensi wisata tersebut melalui sistem cross border otority, yaitu memaksimalkan angkutan darat.

Tujuannya supaya destinasi-destinai wisata di rute Makassar hingga Tanah Toraja bisa hidup. Dari kota Makassar, perjalanan menuju Toraja butuh waktu 10 jam. Terbukti wisatawan terutama dari mancanegara lebih menyukai jalur darat ketimbang melaui jalur udara turun di bandara perintis Toraja.

Arif Noor Hartanto mengatakan DIY perlu mencontoh langkah Pemerintah Provinsi Sulsel untuk menghidupkan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) sehubungan akan beroperasinya New Yogyakarta International Airport (NYIA) pada  2019.

Apabila transportasi darat di wilayah selatan DIY dihidupkan sudah tentu menjadikan kepariwisataan di daerah selatan lebih maju. Apalagi jalur yang membentang dari Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul tersebut memiliki banyak obyek wisata pantai yang terkenal. (sol)