Mikat Udan, Catatan Kecil Tapak Budaya Hujan

164
Acara Kirab Syukur Udan di Klaten/AGUS BIMA PRAYITNA

SAYA lahir tahun 1959 di desa Wonogiri, bagian dari Pegunungan Sewu, tanah kapur gersang. Survival masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air tergantung udan (hujan), maka disebut Tadhah Udan. Musim rendheng (penghujan) merupakan anugerah. Setiap keluarga ngundhuh udan (memanen hujan) dari genting rumah, langsung disimpan di klenthing, genthong, jembangan atau sumur tanah. Untuk keperluan bersama, masyarakat membuat Lumbung Udan, telaga buatan di perbukitan kapur dengan menyumbat lobang karang dengan ijuk dan ditutup tanah liat agar air tertahan. Metoda mikat udan dan menyimpan di Lumbung Udan ini masih banyak dijumpai sekitar Ponorogo, Trenggalek, Pacitan, Wonogiri, dan Wonosari, tahun 1963 hingga 1985.

Budaya ngundhuh-ngrukti udan dengan proses dan sarana sederhana (tidak ada proses kimiawi pabrik dan proses teknologi mahal), bagi saya adalah bukti kongkrit daya udan penumpu kehidupan yang dasyat.

Melompat ke akhir tahun 1997, kami sekeluarga dari Kudus pindah ke Klaten, tinggal di dukuh kecil, dikelilingi pepohonan besar, sawah, irigasi, sungai kecil. Ada umbul (mata air) besar, sekitar 2 km dari dusun. Sejak tahun 1976, saya menyadari bahwa tubuh saya bertemparemen panas, penuh amarah, bebal, dan mudah pusing. Mulai Desember 1997, dengan teori alamiah: kotor- panas akan hilang dan dingin bila dimasukan kedalam air; saya kungkum setiap malam. Apalagi air umbul mengalir besar dan jernih. Agar mendapatkan kualitas bersih, saya memilih kungkum tengah malam. Rutinitas ngawur berjalan sekitar satu setengah tahun. Ada sembilan umbul untuk kungkum secara berpindah-pindah untuk mengetahui perbedaan karakter dan kualitas airnya.

Namun, favorit saya adalah umbul Brondong yang berada di tengah sawah, jauh dari jalan dan desa dengan pohon beringin masih kecil, cukup tersinari matahari pagi-siang hari, air nggeduwul sangat besar dekat batu besar. Saya berendam setiap tengah malam (terkecuali pergi jauh) dengan maksud agar tubuh saya adhem, seger, mengalir jernih, bernilai netral, migunani/nguripi.

Air yang cair, bening resik dan mengalir, akan terjadi aksi-reaksi terhadap tubuh. Melewati pori-pori, air yang segar-dingin, menyerap kotoran panas dari tubuh, keluar terbawa air yang mengalir. Tubuh yang kotor harus dibersihkan air yang bersih.

Dengan ngawur saya berteori elektronika pada tubuh saya. Pertama, perangkat elektronik bila mendapat power supply elektro searah yang tidak sempurna, perangkat akan terganggu dan fungsi perangkat kurang sempurna. Kedua, radio transmitter dan riciever ketika ingin mendapatkan gelombang elektronik yang baik, diperlukan ground yang bagus.

Dengan teori tersebut, saya ingin mendapatkan kondisi tubuh dengan fungsi mengarah sempurna.

Seiring berjalannya waktu, saya sadar perubahan tubuh temparemen panas/amarah berkurang jauh. Pusing yang sering kambuh, hilang. Dan aneh, tubuh jarang masuk-angin, apalagi sakit, sampai sekarang.

Melompat ke pertengahan tahun 2011, saya berkenalan dengan Mbah Kir (Romo Paroki Gereja Roh Kudus, Kebonarum, Klaten). Beliau menawarkan untuk berkesenian di lingkungannya (sebetulnya saya sudah bermitra dengan gereja Kebonarum sejak tahun 2000, berbuat seni di desa dan di gereja). Setelah sepakat, kami angkat Tema Air. Sejak saya beritual air, saya mengeksplorasi air dengan arah pelestarian lingkungan khusus terhadap air, mengemas ciblon menjadi seni pertunjukan.

Mengawali Natal 2011, saya terlibat acara misa menyusuri air di sungai Basin. Puncak acara natal, mbah Kir menawarkan tema “planet plastic”. Saya membuat seni instalasi “Tumpeng Plastik”, berbahan sampah plastik, mengelaborasi padi, enthik, ganyong, dan pisang yang dikelilingi air.

Sejak natal tahun 2011 (saya bukan umat Katolik), kami sering berembuk hampir setiap malam. Diantara ngobrol waton, nguda rasa gagasan, saya sering mengungkapkan keresahan terhadap kualitas orang Indonesia. Salah satu yang saya ungkap, mengapa mental, moral, pengejawantahan iman dan daya pikir kita tidak seperti harapan. Yang sangat mengganjal pada diri saya pribadi, mengapa agama di sekitar saya kok tidak mengubah umatnya. Permasalahan ini sering saya utarakan. Dasar ndugal, saya tantang Romo Kirjito, berani tidak mengajak umatnya merintis cerdas dan membuat sorga sejak sekarang. Sampai tulisan ini saya buat, saya tidak pernah mendapat jawaban dari beliau.

Pertemanan hampir tidak ada jeda. Saya terkadang mengamati aneh. Dengan bahasa saya, “pancen Mbah kir itu Romo gendheng bin edan”. Kami sering pergi berdua. Sambil menyetir, beliau melihat mendung hitam dengan sumringah.Lha….lha kae banyu, mas. Aja mbok kira dudu banyu, ha…ha…ha”. Saya pun menyahut, bukan merespon, tetapi mengingatkan. Mo, sing nyetir dimatne!!! Anak kula telu, kuliah kabeh“. Beliau menyahut, Ha…ha…ha…, lha…lha tenan ta, banyu ta”. Malah tambah bungah karena hujan turun dan deras. Dalam hati, saya pun tambah berguman, “wooh… pancen romo edan!”.

Kejadian tersebut sering saya alami dengan beliau di tahun 2011. Setiap saya pulang, sendiri di rumah, terngiang sikap Mbah Kir di perjalanan. Dengan nalar, lama-kelamaan saya menemukan jawaban yang sering saya ungkapkan kepada beliau: mencerdaskan generasi bangsa dan buat surga donya bersama.

Natal 2012 dibuat gelar budaya desa dengan tema udan. Saya meminta untuk mengundang masyarakat sekitar lokasi, bukan hanya umat Katolik dan para tokoh agama di sekitar lokasi, di Surawana, Kemalang Klaten, dengan Judul “Syukur Banyu Udan“. Dalam konteks gelar seni budaya dan mengangkat pengguna air hujan agar strata sosialnya setara, acara tersebut berhasil. Masyarakat pengguna air hujan hilang rasa rendah diri dan secara psikososial mempunyai harkat martabat.

Masuk sepertiga tahun 2013, kami serius terhadap air, karena ditambah penelitian dan pembuktian dengan perangkat yang sederhana. (Inilah yang menggelitik diri saya tentang Romo Kir. Ana Romo sing digembol dudu Rosario, kok malah TDS Tester. Ini cen Romo Edan. Setahu saya, yen Romo ki sing digembol ya bangsane kasuwargan).

Lepas dari teori dan metoda akademik, pengamatan kami berdua meneliti berbagai kualitas air (diantaranya air sumur Kebonarum dan sekitarnya, air umbul, air kemasan dan air hujan), diperkuat dengan proses elektrolisa, baik dengan 12 volt sampai dengan 250 volt, terlihat hasil oksidasi secara visual dan secara awam bisa diketahui kandungan air (walaupun tidak terinci). Secara awam dapat kita simpulkan, beberapa indikasi.

Natal 2013 di Surawana, Kemalang, Klaten, lereng Merapi Timur, mengusung tema banyu udan dengan judul “Ngundhuh Banyu Udan”. Pada acara ini ditekankan budaya banyu udan dengan sisi nilai: Pertama, menangkap hujan. Kedua, ngrukti hujan. Ketiga, menggunakan air hujan/mengolah udan (ionisasi). Keempat, pemahaman dan pengetahuan udan dibandingkan dengan air lain.(*)

Merapi Timur, Mei 2018

Agus Bima Prayitna (Mbah Ma)

Baca Juga :  Jogja Kekurangan Pohon Perindang, Kenapa Ditebang ?