Mikroalgae Melimpah, Yogyakarta Kaya Energi Terbarukan

400
Deendarlianto, peneliti PSE UGM dalam kuliah umum di UJB, Senin (4/9/2017). (tugeg sundjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Masyarakat Yogyakarta bisa berbangga hati. Kota ini ternyata memiliki potensi yang luar biasa dalam pengembangan energi terbarukan.

Tak hanya kaya akan geothermal, energi alternatif lain seperti mikroalgae juga sangat potensial untuk dikembangkan. Mikroalgae bisa dibudidayakan di sepanjang garis pantai selatan untuk diolah jadi bioenergi.

“Dari mikroalgae bisa dihasilkan bioenergi untuk bahan bakar pengganti energi fosil,” ujar Deendarlianto, peneliti dari Pusat Studi Energi (PSE) UGM dalam kuliah umum ‘Tata Kelola Sektor Energi di Indonesia’ di Universitas Janabadra (UJB), Senin (4/9/2017).

Pengembangan bioenergi dari mikroalgae, menurut Deendarlianto akan sangat menguntungkan. Sebab harga jual mikroalgae mencapai Rp 400.000/kg. Diperkirakan Yogyakarta dapat menghasilkan 8.125 kiloliter bioenergi dari mikroalgae per tahunnya dengan harga jual Rp 6.500/liter.

Baca Juga :  PT Harus Mampu Ikuti Revolusi Industri

“Energi tersebut tidak hanya bisa dikembangkan di laut namun juga di kawasan darat. Mikroalgae diolah secara biologis dan diekstraksi untuk jadi bioenergi,” jelasnya.

Mikroalgae bisa menghasilkan bio etanol yang cukup tinggi. Contohnya inkubasi selama 48 jam maka dapat diproduksi 0,36 g etanol/g biomassa.

Hasil ini setara dengan bioetanol tertinggi yang pernah terpublikasi dari penelitian di Korea. Karenanya bila dikembangkan secara maksimal, maka Indonesia akan memiliki energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Apalagi sekitar 70 persen wilayah Indonesia berupa laut.

“Kita punya garis pantai terpanjang di dunia sehingga sangat potensial untuk dikembangkan beragam bioenergi,” imbuhnya.(yve)