Minat Baca Rendah karena Kekurangan Buku

118

KORANBERNAS.ID — Minat baca di Indonesia berdasarkan studi Most Literred Nation in The Word tahun 2016 masih rendah, yaitu pada peringkat 60 dari 61 negara.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmi Dewi Tri Astika Putri MM, menyatakan rendahnya minat baca disebabkan sejumlah faktor, salah satunya karena belum tersedianya sarana dan prasarana yang memadai.

“Perpustakaan milik sekolah, desa atau taman baca bisa meminjam buku dari Perpustakaan Daerah Kabupaten Sleman melalui program Silang Layan. Dengan program tersebut, perpustakaan-perpustakaan bisa meminjam maksimal 100 buku selama dua bulan secara gratis,” kata Ayu, Kamis (12/04/2018).

Ayu menyadari salah satu faktor rendahnya minat baca adalah kurangnya jumlah buku. “Maka kita adakan layanan Silang Layan namanya. Tapi harus ada MoU dulu dengan kita, biar gampang kontrolnya,” ungkap Ayu.

Baca Juga :  Tiga Antologi Puisi Siap Diluncurkan

Dia berharap pemerintah desa sebagai lembaga yang paling dekat dengan masyarakat, turut berperan aktif meningkatkan minat baca di lingkungannya.

Pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Inspektorat Kabupaten Sleman untuk membangun Perpustakaan Desa.

Kemudian, disepakati membuat program Rintisan Desa Gemar Membaca, sebagai kepanjangan tangan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman.

Desa rintisan nantinya menjadi desa mandiri, kemudian membina perpustakaan di dusun-dusun. “Ada regulasi yang bentuknya Undang-undang Nomor 43 tahun 2007. Isinya desa itu wajib menyelenggarakan perpustakaan desa. Harusnya tidak ada lagi keraguan,” tegasnya.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman juga mempunyai program Wisata Pustaka, ditujukan untuk sekolah yang berprestasi atau sekolah yang lokasinya jauh dari perpustakaan.

Baca Juga :  Sejumlah 26 Perguruan Tinggi Ikuti Purbalingga Campus Fair

Siswa dari sekolah-sekolah tersebut dijemput oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, kemudian dibawa ke Perpustakaan Daerah untuk diberi story telling.

“Setelah itu anak-anak kita bawa ke sumber pustaka, entah itu Candi Prambanan, museum, Perpustakaan DIY, atau mana saja. Setelah itu kita suruh-anak-anak untuk menulis,” jelas Ayu.

Pihaknya juga menyediakan perpustakaan keliling dengan menggunakan 5 armada keliling setiap hari di lima sampai tujuh lokasi.

Upaya yang dilakukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman menunjukkan hasil positif. Pada 2017, realisasi presentase minat baca di Kabupaten Sleman menunjukkan angka sebesar 57,47 persen.

Sedangkan targetnya sebesar 57,22 persen. Artinya, peningkatan minat baca di Kabupaten Sleman mencapai target yang telah ditetapkan. “Itu pendekatannya dari kunjungan ke perpustakaan dibanding dengan populasi yang dilayani,” jelasnya. (sol)