Misa Perdana Gereja St. Lidwina Bedog Pasca Teror Berlangsung Damai

1524
Putera-puteri Altar Misa Koselebrasi Gereja Santa Lidwina, Bedog, Jumat petang (16/2/18) sedang menjemput persembahan. (Foto: Putut Wiryawan/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Misa perdana di Gereja Santa Lidwina, Stasi Bedog, di Pedukuhan Jambon, Desa Trihangga, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Jumat (16/2/18) petang berlangsung damai dan khidmat. Misa koselebrasi itu dipimpin Romo Dwi Harsanto, Pr., dari Paroki Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran. Romo Santo didampingi Romo Mantoro, Pr. yang masih satu paroki dan romo tamu Rafael Tri Wijayanto, Pr., dari Paroki Gereja Santo Albertus, Jetis, Yogyakarta.Misa diikuti sekitar 500 umat Katholik dari sekitar gereja.

Seperti diberitakan, Gereja Santa Lidwina mendapat teror Suliyono, pemuda asal Banyuwangi, Minggu (11/2/18) lalu ketika umat Katholik setempat sedang melaksanakan misa mingguan dipimpin Romo Karl Edmund Prier. Suliyono yang mengamuk dengan pedang di dalam gereja melukai Romo Prier dan umat lainnya, termasuk polisi Aiptu Almunir, anggota Polsek Gamping yang datang 15 menit kemudian. Teroris itu tersungkur setelah ditembak Almunir.

Romo Dwi Harsanto seusai misa kepada wartawan mengatakan, ia merasa senang karena umat di Gereja Santa Lidwina bersemangat mengikuti misa. “Ini termasuk misa harian. Sebelum ada teror, misa harian biasanya tidak sebanyak ini. Sore ini luar biasa. Banyak yang datang,” ujar Romo Santo.
Ia menambahkan, untuk memulihkan suasana psikologi umat yang kaget karena teror, pihak Gereja melaksanakan programn pendampingan kepada umat yang datang pada saat gereja diteror.”Anak-anak, remaja, juga ada orang-orang tua yang masih trauma kami dampingi, agar mereka segera pulih kembali,” katanya. Program healing itu dilaksanakan mulai Senin (12/2/18) sampai dengan Senin depan (19/2/18).

Suasana Baru

Misa koselebrasi Jumat petang berlangsung dalam suasana tenang dan damai. Hampir tidak ada sisa-sisa aksi teror Minggu lalu. Beberapa petugas dari Polsek Gamping dan Koramil Gamping juga tampak di sekitar gereja, namun tidak mengesankan penjagaan ketat.

Interior di dalam gereja juga agak berubah. Dinding gereja yang semula bercat warna putih, kini berubah warna hijau muda. “Ini dikerjakan tiga hari. Baru selesai Kamis kemarin. Banyak yang membantu,” ujar Linus Karyanto. Warna baru itu dimaksudkan untuk menciptakan suasana baru, agar umat cepat melupakan tindak kekerasan yang dilakukan teroris.

Pematung Pak Bagong (kiri) setelah menyerahkan patung Yesus dan Bunda Maria di Gereja Santa Lidwina. (Foto: Istimewa).

Patung Yesus dan Bunda Maria yang rusak karena kebrutalan juga sudah diganti baru. Dua patung itu sumbangan pematung Pak Bagong, dari Ganjuran, Bantul. (iry)