Mitigasi Bencana

175

RABU pekan lalu (18/04/2018), Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara diguncang gempa. Magnitudo (kekuatan) gempa memang hanya 4,4 Skala Richter. Kerusakan yang diderita cukup parah. Bukan hanya karena kedalaman gempa yang hanya 4 km, tetapi struktur lapisan tanah di bawah rumah-rumah yang hancur, menurut kajian sementara terdiri dari tanah lembek. Akibatnya, gempa yang menurut catatan seismograf BMKG berkekuatan 4,4 SR, di atas tanah bisa meningkat karena terjadi amplifikasi atau penguatan. Begitulah para ahli berteori.

Menengok catatan gempa bumi tahun 2006 di Bantul lalu, yang berkekuatan 5,9 SR menurut BMKG dan 6,2 SR menurut USGS (United State Geological Survey), ada bangunan yang runtuh tetapi bangunan lain yang hanya berjarak beberapa meter masih utuh tegak berdiri. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kemudian melakukan penelitian lapangan. Hasilnya, bangunan yang luluh lantak berada di atas lapisan tanah lembek, sedang bangunan utuh berada di atas lapisan tanah keras. Gempa yang mengguncang selama 57 detik itu, dengan kedalaman 11,3 km, juga merobohkan banyak bangunan dan menelan korban jiwa ribuan orang. Wilayah terdampak mencakup DIY dan Jawa Tengah bagian selatan.

Gempa bumi Banjarnegara berlangsung sekitar lima detik saja. Begitu pun, dampaknya cukup parah. Banyak bangunan runtuh. Ribuan jiwa harus mengungsi karena kehilangan tempat tinggal. Secara jumlah, korban jiwa memang hanya dua orang. Seorang kakek dan seorang remaja, tetapi secara psikologis, masyarakat Kalibening, Banjarnegara, mengalami trauma yang tidak ringan. Penyebabnya, wilayah Banjarnegara atau Jawa Tengah bagian tengah dan utara, relatif sangat jarang merasakan gempa. Sesar di wilayah tersebut relatif masih belum cukup teridentifikasi oleh para ahli. Relatif belum ada penelitian yang memadai untuk mencari tahu potensi gempa di Jawa Tengah bagian tengah ke utara.

Baca Juga :  Mbah Petruk

Agak berbeda dengan masyarakat di Kabupaten Bantul yang cukup sering merasakan gempa. Apalagi sejak gempa 27 Mei 2006. Sensitivitas masyarakat yang tinggi menyebabkan mereka sudah agak heboh ketika mengetahui ada perubahan alam sekitar mereka tinggal. Pertengahan Maret lalu, warga Pedukuhan Depok, Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, heboh, ketika sebagian dari mereka mendengar ada benturan batu di dalam tanah yang agak bergemuruh. Ada rasa khawatir, jangan-jangan gempa bakal mengguncang lagi.

***

BENCANA alam gempa bumi, tentu tak dapat dihindarkan. Apalagi, kapan terjadi juga tak bisa diperkirakan. Berbeda dengan letusan gunung api yang memiliki alat pemantau cukup. Letusan Gunung Merapi, misalnya, dapat diketahui kapan terjadi, sehingga masyarakat yang patuh pada perhitungan para ahli, memiliki waktu cukup untuk menyelamatkan diri.

Gempa bumi, sama sekali berbeda. Para ahli baru mampu menghitung pergerakan lempeng menunjam lempeng lainnya. Bahwa penunjaman itu mengakibatkan adanya ketegangan yang bermakna ada simpanan energi dalam himpitan antarlempeng. Namun, kapan salah satu lempeng patah tergusur dan mengakibatkan gempa bumi bahkan tsunami, pertanyaan itu belum mampu dijawab oleh ilmu dan teknologi.

Baca Juga :  Semakin Timpang

Satu-satunya upaya yang dapat dilakukan oleh manusia yang hidup di Indonesia yang berada di jalur cincin api atau di atas patahan lempeng, adalah belajar mitigasi agar akibat gempa dan atau tsunami, dapat ditekan serendah mungkin. Terutama dalam hal keselamatan jiwa.

Awal April lalu, ahli gempa bumi dari BPPT, Widjo Kongko mengungkapkan adanya potensi megathrust atau gempa bumi besar diikuti tsunami di bawah lautan selatan Jawa. Besaran gempa, diperkirakan melebihi gempa dan tsunami Aceh yang membawa korban jiwa sekitar 200 ribu jiwa. Hitungan potensi tsunami juga luar biasa, karena tinggi gelombang mencapai 57 meter di daerah Pandeglang, Banten. Permodelan yang ia buat juga menyebutkan, tsunami di daerah Garut mencapai 30 meter, Tasikmalaya sekitar 28 meter.

Setiap pemerintah daerah, saat ini mempunyai tugas besar. Yakni, melatih masyarakat untuk menyelamatkan diri manakala terjadi gempa dan tahu arah ke mana harus menyelamatkan diri. Apa saja yang harus dilakukan jika terjadi gempa dan atau tsunami.

Tanpa berlatih yang cukup, mustahil mitigasi bencana dapat berjalan maksimal. Andai pun banyak desa disemati predikat Desa Siaga Bencana, akan tanpa makna bila tidak sering melakukan latihan. ***

(Tulisan ini juga dimuat di versi Koran Bernas Cetak edisi Minggu IV, April 2018, 27 April – 13 Mei 2018)