Monumen Brimob Saksi Sejarah Perjalanan Bangsa

502
Penjaga monumen Brimob, Suparjo, menerangkan  tentang  museum tersebut kepada Kapolda DIY Brigjen Pol Drs H Ahmad Dofiri MSi saat berkunjung, Rabu (8/11/2017) siang. (sari wijaya/koran bernas.id)

KORAN BERNAS.ID — Monumen Brigade Mobil (Brimob) Watu yang berlokasi di Dusun Sengonkarang Desa Argomulyo Kecamatan Sedayu Bantul menjadi saksi sejarah perjalanan bangsa ini.

Pada tahun 1949 wilayah tersebut menjadi tempat persembunyian masyarakat dari  kejaran tentara Belanda, sekaligus lokasi anggota Brimob menyusun strategi melawan Belanda.

Namun tidak dinyana, sebuah bom dijatuhkan oleh musuh  ke tempat tersebut sehingga menghancurkan semuanya. Termasuk memakan korban jiwa masyarakat sipil sejumlah 102 orang.

Anggota Brimob  yang menjadi korban tercatat 18 orang. Nama-nama tersebut kemudian diabadikan, diukir pada sebuah batu  kemudian dipasang di sisi utara monumen.

Sedangkan peristiwa perlawanan terhadap Belanda digambarkan pada dinding monumen yang didominasi warna hitam tersebut.

“Dalam rangka HUT ke-72 Brimob telah dilaksanakan kegiatan gowes nusantara termasuk untuk DIY diikuti anggota Brimob dan masyarakat umum dari Prambanan hingga perbatasan Jawa Tengah. Peserta mampir dulu monumen ini,” kata Brigjen Pol Drs H Ahmad Dofiri MSi, Kapolda DIY,  kepada koranbernas.id di lokasi monumen, Rabu (08/11/2017) siang.

Baca Juga :  Gitar Tak Berdawai Karya Nasirun Mencuri Perhatian

Dia berharap dengan mengunjungi monumen, para peserta akan mengetahui lebih banyak sejarah perjalanan bangsa ini. Termasuk mengetahui bagaimana gigihnya anggota Brimbb di  masa lalu melawan penjajah Belanda.

Semangat ini diharapkan bisa tertular kepada anggota Brimob  sekarang ini  serta masyarakat umum. ”Sekaligus meningkatkan  rasa cinta terhadap tanah air,” kata Kapolda didampingi Kapolres AKBP Imam Kabut Sariadi SK dan jajaran Muspika Sedayu.

Peristiwa memilukan

Sedangkan penjaga monumen, Suparjo (97) didampingi anaknya  Cahyo Sumirat mengatakan monumen itu dibangun pada 1968. Tujuannya untuk mengenang peristiwa  memilukan di tahun 1949. Monumen memiliki tinggi 17 meter di bagian yang paling atas, sedangkan bagian bawah tingginya 1 meter.

“Pengunjung ke sini banyak, terutama dari kalangan pelajar dan mahasiwa. Karena memang  banyak pengetahuan yang bisa didapatkan,” kata Sumirat mewakili ayahnya. Banyak juga mahasiswa membuat tugas akhir dengan mengambil tema mengenai Monumen Brimob.

Baca Juga :  Hujan Deras, Longsor Terjadi di Delapan Lokasi

Warga sekitar, Iptu Agus Suparja SH, mengatakan monumen tersebut ada sejak dirinya masih kecil. Tempat itu sering  dijadikan tempat  bermain anak-anak  karena memang lokasinya dekat dengan pemukiman dan SD.

Namun banyak  juga yang memang khusus melakukan kunjungan untuk berwisata sekaligus menambah pengetahuan. “Kecilnya saya sering main di tempat ini bersama teman-teman,” kata Iptu Agus yang berdinas di Polsek Sedayu.

Dibangunnya monumen memberikan manfaat dalam rangka memberikan informasi dan sejarah perjalanan bangsa ini. Utamanya  bagi generasi penerus bangsa.

“Saya berharap semangat kepahlawanan dan perlawanan  terhadap penjajah serta semangat cinta tanah air dari pendahulu kita  bisa  kita teladani bersama,” kata Panit 1 Bhinmas tersebut. (sol)