Muhammadiyah Desak Penanganan Bencana Secara Serius

193
Prof Dr Muhjidin Mawardi(tengah) dan Dr Gatot Supangat (kanan) menyampaikan paparannaya dalam diskusi publik “Refleksi Akhir Tahun dan Pernyataan Sikap Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia” di UMY, Kamis (14/12/2017). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah mendesak pemerintah untuk serius menangani masalah bencana yang terjadi beberapa waktu terakhir. Sebab bencana alam di Indonesia sudah terjadi di beberapa wilayah dan menelan banyak korban jiwa serta banyak merusak infrastruktur.

“Aspek lingkungan harus sudah menjadi perhatian dari pemerintah maupun masyarakat. Karena jika kita adil terhadap lingkungan, akan meminimalisir terjadinya bencana. Tidak hanya perbuatan seseorang yang bisa merusak alam akan tetapi perbuatan sekolompok orang juga akan mengakibatkan terjadinya kerusakan alam,” ungkap Prof Dr Muhjidin Mawardi, Ketua MLH PP Muhammadiyah disela diskusi publik ‘Refleksi Akhir Tahun dan Pernyataan Sikap Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia’ di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (14/12/2017).

Menurut Muhjidin, semua pihak harus terlibat dalam membantu pemerintah. Hal itu sebagai upaya dalam memberikan solusi-solusi sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan pemerintah.

Muhammadiyah menyadari bencana lingkungan yang terjadi di tanah air seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, degradasi lahan, hilangnya keragaman hayati, polusi udara dan air dan bencana-bencana lainnya merupakan akibat dari perilaku dan perbuatan manusia. Oleh karena itu, penyelesaian permasalahan dan bencana lingkungan yang telah terjadi di tanah air harus dimulai dari melakukan perubahan fundamental cara pandang masyarakat terhadap alam lingkungannya.

“Dibutuhkan revolusi moral agar terjadi perubahan sikap, perilaku dan gaya hidup masyarakat,” tandasnya.

Penyelamatan dan perlindungan lingkungan merupakan kewajiban sekaligus amanah yang harus diemban dalam rangka membangun masyarakat menuju masyarakat sejahtera yang diridhoi Allah. Karenanya gerakan penyadaran dan perubahan perilaku masyarakat ini bisa dilakukan melalui dakwah dan pendidikan lingkungan kepada jutaan siswa dan mahasiswa di lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Beberapa penyebab dan akar masalah bencana seperti rendahnya moral para pemangku kepentingan dalam pengalolaan hutan, serta tata kelola jutan yang tidak bisa dilaksanakan secara efektif di lapangan juga perlu ditangani. Sebab-sebab tidak efektifnya implementasi tata kelola hutan mengakibatkan berbagai persoalan seperti tata ruang yang masih lemah, batas-batas kawasan dan hak guna lahan yang tidak jelas, keberadaan masyarakat adat dan status hutan adat yang tak selesai.

Belum lagi masalah krisis air yang berupa banjir dan kekeringan, yang merupakan akibat langsung dari deforestasi dan degradasi lahan dan dipicu oleh perubahan iklim. Krisis air yang telah terjadi akhir-akhir ini sudah sampai pada tahap yang serius dan darurat.

“Oleh karena itu pemerintah dan seluruh jajarannya harus berani menyatakan bahwa krisis air yang terjadi di Indonesia saat ini merupakan permasalahan yang serius dan telah berada dalam kondisi darurat, sehingga memerlukan tindakan penyelamatan darurat pula,” ungkapnya.

Sementara Sekjen MLH, Dr Gatot Supangat menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan acara tahunan yang bertujuan untuk berdiskusi tetang bencana dan memberikan solusi dalam upaya penyelesaian permasalahan lingkungan yang dihadapi masyarakat.

“Bencana harus menjadi perhatian khusus, baik dari pihak pemerintah ataupun elemen masyarakat,” imbuhnya.(yve)