Naik Turun Tangga Pasar, Sepikul Air Dihargai Rp 4 Ribu

131
Slamet menumpahkan air di tempat tandon air pedagang kuliner, kemudian segera mengambil air lagi. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Apabila uang di kantong tinggal tersisa Rp 4.000, apa yang bisa dilakukan dengan uang itu saat berbelanja di pasar?

Paling banter untuk bayar parkir kendaraan Rp 2.000, sisanya untuk masuk toilet, karena urusan toilet kadang menjadi sesuatu yang tidak bisa ditunda. Habis sudah uang di kantong.

Tetapi bagi Slamet (65) uang Rp 4.000 sangat berarti. Karena untuk mendapatkannya dia harus kerja keras memikul dua kaleng air dari kompleks lahan parkir selatan Pasar Beringharjo.

Dengan tertatih-tatih dia membawanya naik tangga lantai 2 atau 3 kemudian menumpahkannya di bak-bak penampung air pedagang kuliner langganannya.

Sepikul jasanya hanya dihargai Rp 4.000. Pekerjaan itu dijalani Slamet sekitar 25 tahun lalu, ketika sepikul air masih dihargai Rp 200.

Air tanah itu sangat dibutuhkan oleh sejumlah pedagang kuliner. Karena air PDAM Tirtamarta yang disediakan pihak pengelola pasar kualitasnya kurang bagus untuk memasak. Apalagi terasa bau kaporit yang tidak disukai para konsumen.

Menjawab pertanyaan koranbernas.id, Sabtu (24/03/2018), Slamet setiap hari rata-rata 25 sampai 30 kali ngangsu dan membawanya naik. Bukan suatu pekerjaan ringan, apalagi dilakukan pria seusia dia.

Baca Juga :  Dinas Pariwisata Gelar Beragam Agenda Akhir Tahun

Lalu berapa jasa dia menyetor sepikul air untuk pedagang di lantai tiga? “Njih sami mawon. Kawan ewu,” (ya sama saja Rp 4.000),” kata Slamet sembari menyeka keringatnya dengan kaos yang dikenakannya.

Kenapa tidak beda, padahal Slamet harus memikulnya satu lantai lebih tinggi? Dengan santai dia berkata, terserah saja yang memberi.

Artinya dia tidak punya posisi tawar. Karena dia khawatir, posisinya akan digantikan orang lain. Itu berarti dia akan kehilangan sumber penghasilan.

Tertatih-tatih Slamet memikul dua kaleng air menaiki tangga Pasar Beringharjo  Yogyakarta untuk mengejar upah Rp 4.000. (arie giyarto/koranbernas.id)

Bersepeda dari Kulonprogo

Dengan kerja sekeras itu, apa dampaknya terhadap tubuh Slamet? Apalagi untuk menuju Beringharjo dari rumahnya di Kentheng Nanggulan Kulonprogo dia hanya mengayuh sepeda pulang pergi. Jaraknya puluhan kilometer.

Sampai di rumah rata-rata-rata sehabis Asyar. Menurut Slamet badan terasa sangat capek. Bahunya juga sangat pegel karena menahan beban pikulan.

Kedua kakinya yang menahan beban sepikul air puluhan kali naik turun tangga terasa sangat panas.

Untuk menghalau rasa sakit biasanya dia menahannya dengan minum jamu beras kencur. Plus istirahat agar esok harinya dia bisa mengulangi rutinitasnya kembali.

Baca Juga :  Jalan Berlubang Ganggu Perekonomian Warga

Usai Subuh ketika desanya masih sepi dan sebagian orang masih terlelap dalam mimpi, Slamet sudah harus mengayuh sepeda menuju Pasar Beringharjo guna mengais rezeki.

Slamet tidak menggunakan angkutan umum karena ribet dan juga akan mengurangi penghasilannya yang relatif kecil itu. Baginya, lebih bebas naik sepeda onthel. Mau berangkat dan pulang jam berapa, diri sendiri yang mengatur.

Slamet memang pernah sakit dan rawat inap beberapa hari. Tetapi karena gangguan paru-parunya, bukan lantaran kecapekan.

Sampai kapan Slamet akan menjalani pekerjaan ini? Sampai badan tak kuat lagi karena dia tidak punya keterampilan lain.  Mau garap sawah dia mengaku tidak memilikinya.

Sedang untuk menjadi buruh tani, dia melihat peluang menjadi penjual jasa ngangsu lebih terbuka untuk mendapatkan uang.

Tanpa merasa lelah, kaki ayah dari satu anak dan kakek dari dua cucu ini menapaki jalan panjang berliku, setiap hari menempuh jarak Kentheng Kulonprogo ke Beringharjo pulang pergi.

Kadang-kadang sepedanya berderit-derit kelelahan lantaran jarak yang terlalu panjang. (sol)