Narkoba Dikendalikan dari Balik Jeruji Lapas

202

KORANBERNAS.ID  – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIY bekerja sama dengan BNN pusat berhasil menggagalkan upaya penyelundupan shabu ke Yogyakarta.

Kepala BNNP DIY Brigjen Polisi Tri Warno Atmojo kepada koranbernas.id, Rabu (04/04/2018), menyebutkan operasi itu dilancarkan Jumat (30/03/2018) di perbatasan Magelang Jawa Tengah dengan Kabupaten Sleman.

“Kami melakukan penangkapan pada Jumat, saat libur Paskah,” katanya.

Seorang pengedar yang inisialnya masih dirahasiakan, dibekuk petugas pada Jumat petang setelah aparat gabungan BNN melakukan pemantauan beberapa jam di perbatasan Jawa Tengah dan DIY.

“Memang masih kita rahasiakan, karena pengembangan kasus. Kami masih menyelidiki anggota jaringan lainnya,” tuturnya saat ditemui di Hotel Eastparc Yogyakarta.

Brigjen Polisi Tri Warno Atmojo menjelaskan, dari satu orang pelaku yang dibekuk itu, petugas menemukan 100 gram shabu-shabu senilai hampir Rp 200 juta.

Ketika diinterogasi petugas, Sabtu (31/03/2018), pelaku mengaku hanya berperan sebagai kurir atas instruksi tersangka lainnya bernama Ucok, yang mendekam di Lapas Khusus Narkotika Pakem Sleman.

Pelaku mengaku diperintah Ucok untuk mengirim paket shabu ke Yogyakarta dengan sejumlah imbalan. Petugas BNN pun kemudian membongkar jaringan sindikat yang dikendalikan dari balik jeruji lapas tersebut.

“Sementara ini, kita tangkap tiga orang tersangka. Tersangka lain masih kita rahasiakan. Kita terus mengembangkan kasus ini karena melibatkan sindikat lintas provinsi,” paparnya.

Tri Warno Atmojo mengakui masih banyak kasus peredaran narkoba yang melibatkan residivis bahkan narapidana yang mendekam di dalam Lapas dalam triwulan pertama tahun ini.

“Dalam triwulan pertama masih, masih banyak. Buktinya, kita melakukan penangkapan hari Jumat kemarin. Padahal, angka prevalensi (penyalahgunaan) narkoba di Yogyakarta saat ini turun hampir 50 persen,” kata jenderal bintang satu yang pernah menjabat sebagai Kepala BNNP Kalimantan Tengah itu.

Dia menjelaskan tersangka Ucok yang mendekam di Lapas Pakem ternyata hanya merupakan operator alias kaki tangan dari seorang bandar besar yang juga mendekam di dalam penjara, yaitu Lapas Nusakambangan Cilacap.

Pihaknya terus mengembangkan kasus tersebut dan berkoordinasi BNN pusat dan BNNP Jawa Tengah serta Polri untuk memberantas jaringan sindikat itu. “Jujur saja, sekarang semuanya masih dikendalikan dari balik lapas,” tegasnya.

Saat menggerebek tersangka Ucok yang berperan sebagai operator di Lapas Pakem, petugas menyita setidaknya lima unit telepon seluler berbagai merek dari ruangan sel Ucok.

BNNP sempat menyesalkan keberadaan telepon seluler yang dapat diselundupkan ke ruang tahanan narapidana. (sol)