Nasib Guru Honorer

323

TANGGAL 25 November  sebagai hari guru di Indonesia. Tujuan diperingati hari guru adalah untuk memberikan dukungan dan semangat kepada  para guru, karena guru merupakan ujung tombak keberlangsungan generasi masa depan.  Di Indonesia guru juga disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, mereka dengan tulus dan iklas memberikan ilmunya untuk disampaikan kepada calon-calon penerus bangsa.

Jutaan guru di Indonesia hingga saat ini masih banyak yang  belum memperoleh penghasilan yang layak, terutama  guru honorer mereka mengabdi dengan tulus iklas dan segenap hati akan tetapi penghasilan mereka jauh dari kata layak. Saat ini masih banyak guru honorer tiap bulan hanya digaji dari angka Rp 200.000 s/d Rp 500.000, padahal kebutuhan pokok saat ini terus mengalami kenaikan.

Bisa dibayangkan, dengan gaji Rp 200.000/bulan, apa yang bisa dilakukan oleh seorang guru honorer, kalau hanya mengandalkan nominal tersebut, sudah pasti tidak akan mencukupi kebutuhan keluarga. Kalaupun keluar dari mengajar, juga rasanya sayang mengingat sudah sekian tahun mengabdi dan memang bertugas karena panggilan hati, sehingga memilih bertahan meski nasibnya tidak jelas ke depannya.

Baca Juga :  Yogyakarta dan Kemacetan Parah

Meningkatkan  kualitas guru merupakan salah satu faktor terpenting dalam menentukan kualitas pendidikan di Indonesia.  Kualitas guru tidak lepas dari beberapa faktor, salah satunya adalah soal gaji dan tunjangan sedangkan faktor lain yang dapat menunjang kualitas pendidikan adalah: kompetensi, pengembangan karier, pelatihan, dan juga pemberdayaan sumber daya manusia secara maksimal.

Akan tetapi  diberlakukannya  moratorium oleh pemerintah sejak tahun 2014 dengan tidak ada lagi pengangkatan pegawai honorer untuk menjadi PNS, serta sistem pembayaran gaji yang  diserahkan kepada daerah instansi masing-masing yang menaungi PNS, kian menambah derita tenaga honorer terutama K2  yang  gagal diangkat jadi PNS. Padahal tahun 2013 merupakan tahun terakhir pengangkatan pegawai honorer untuk diangkat menjadi PNS. Sistem yang baru ini memang akan menguntungkan mereka-mereka yang  memang sudah diangkat menjadi PNS, karena akan ada peningkatan gaji,  untuk pegawai eselon 1, misalnya gajinya bisa mencapai puluhan juta rupiah, wow sungguh angka yang sangat fantastis bagi seorang abdi negara, sangat berbanding terbalik dengan guru honorer yang sudah mengabdi puluhan tahun dengan gaji tidak lebih dari Rp 500.000,-.

Baca Juga :  Dinasti, Korupsi dan Pilkada

Pemerintah sampai saat ini masih belum berpihak kepada guru honorer,  belum tampak tekad pemerintah untuk mengatur agar guru honorer setidaknya dibayar sebesar upah minimum. Padahal, di sisi lain, pemerintah memaksa pengusaha menggaji tak kurang dari upah minimum.

Dalam pasal 90 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (“UU Ketenagakerjaan”), ditegaskan bahwa pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Pertanyaannya, kapan pemerintah melarang instansinya sendiri membayar guru honorer dengan upah jauh di bawah upah minimum?

Semoga pada usia guru yang sudah menginjak 72 tahun ini, pemerintah berkenan memperhatikan gaji  guru honorer yang telah ikut menciptakan dan mencerdaskan para generasi penerus bangsa. Semoga. ***

Sumardi, S.Pd.

Staf Program Pascasarjana Universitas PGRI Yogyakarta