Natal UP 45 Momen Indah Menjahit Toleransi

112
Perayaan Natal 2017 di kampus UP 45, Sabtu (16/12/2017). (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Universitas Proklamasi (UP) 45 merayakan Natal bersama di kampus setempat, Sabtu (16/12/2017). Perayaan tersebut cukup istimewa setelah delapan tahun terakhir belum digelar.

Pendeta Dr Jozef MN Hehanussa dalam khotbah Natal memaparkan, Natal sebagai momentum memelihara kesatuan dalam keberagaman dan toleransi. Hal itu sesuai dengan pesan teologis dari injil Matius 1:19, yaitu mengenai kunci memelihara kesatuan di dalam keberagaman.

“Tiga kunci dari ketulusan hati itu dimungkinkan jika setiap orang menganggap keberagaman adalah karya Allah, sehingga patut disyukuri, dihidupi, dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. Dengan senantiasa mendengar Suara Allah, maka kekuatan untuk berkorban dan memelihara kepentingan bersama dapat direalisasikan, sampai pembaharuan itu nyata,” ungkapnya.

Kepentingan bersama, lanjut Pendeta mengartikan setiap perbedaan dihargai untuk mencapai kesatuan tubuh Kristus. Hal itu sebagaimana iman Kristen di dalam Trinitas, yakni Bapa-Anak-Roh yang merupakan satu kesatuan.

Kristus hadir menyelamatkan manusia karena ingin mengembalikan hakekat manusia sebagai citra Allah, yang sejatinya harus kembali bersekutu dengan Allah Pencipta. Kelahiran Kristus menunjukkan Allah ingin kembali menyatu dengan manusia, agar menjadi bagian satu dengan lainnya dan mampu menghadirkan damai sejahtera bagi sekitarnya.

Baca Juga :  LIPI Bagikan Bibit Durian Unggul

“Oleh karena itu Sivitas Akademika UP45 Yogyakarta yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan, selayaknya memiliki keteladanan dalam berempati, rasa memiliki dan berkontribusi yang terbaik bagi kemajuan bersama, yaitu UP45 Yogyakarta dalam lingkup kecil, dan NKRI sebagai bangsa,” ungkapnya.

Perayaan Natal 2017 di kampus UP 45, Sabtu (16/12/2017). (istimewa)

Sementara panitia Natal 2017, Ruth Yuni Salomo mengungkapkan, civitas akademika UP 45 siap untuk menjadi terang bagi sekitar. Lilin yang terbakar dalam perayaan Natal kali ini menjadi perlambang pengorbanan Kristus dalam menerangi dunia.

“Untuk menjadi terang, umat telah siap untuk berkorban dari keegoisan, kesombongan dan pementingan diri. Kiranya Natal bersama ini menjadi momentum untuk pembaruan, di mana UP45 Yogyakarta sebagai insititusi pendidikan menjadi lebih berkualitas, dan memiliki semangat nasionalisme berlandaskan Ketuhanan Yang Mahaesa,” ungkapnya.

Baca Juga :  Dua Desa Ini Bakal Miliki Spot Wisata Baru

Ruth menambahkan, perayaan Natal kali berlangsung dengan sederhana dan hikmat. Kesederhanaan laiknya kelahiran Kristus di Betlehem tercermin dengan fokus acara pada perenungan makna Kristus yang hadir untuk menyelamatkan orang lain.

Kristus yang menjadi simbol inkarnasi yang sangat menghargai perbedaan dan kesederhanaan, telah menyatukan berbagai perbedaan. Pada saat lahir-Nya, Ia hadir pada habitat kaum yang paling terpinggirkan. Bala Malaikat dan mengundang mereka –para gembala domba- menjadi tamu agung. Lalu di kandang domba yang kotor itu pula hadir para raja dari Negeri Timur dengan segala kemewahannya, merendahkan diri menjadi setara dengan para gembala.

“Dalam perayaan natal ini semua dipersatukan, berbagai suku, angkatan, program studi, mahasiswa, dosen karyawan. Tak lebih dari 50 orang, tetapi kami duduk sejajar dan bergandengan tangan untuk mendeklarasikan bahwa kita adalah satu keluarga yang diutus Allah untuk meneladani Yesus Kristus yang hidup bagi orang lain” imbuhnya.(*/yve)